Paulus Lau bersama istrinya ketika sedang menyiram sayur kangkung di kebun miliknya.(Foto:Marcel/Vox NTT)

Atambua,Vox NTT-Menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi merupakan tantangan tersendiri bagi keluarga kelas menengah ke bawah. Apalagi bagi seorang petani sederhana yang hanya bermodalkan luas tanah 15 are.

Namun, tidak ada yang mustahil apabila sebuah usaha dan kerja keras dilakukan secara serius dan konsisten.

Hal itu telah dibuktikan Paulus Lau (68), seorang petani di Desa Leun Tolu, Kecamatan Rai Manuk, Belu. Tanah seluas 15 are miliknya itu terletak di belakang rumahnya.

Ketika disambangi VoxNtt.com, Selasa (31/07/2018), Paulus bersama istrinya Theresia Laku (65), tampak sedang menggenggam sebuah piring sambil menggayuh air untuk dialirkan lewat got di celah bedengan.

Di celah-celah bedengan itu keduanya menanam sayur kangkung. Tanahnya hitam dan daunnya hijau segar.

Ketika diajak ngobrol, Paulus dengan lugas bercerita tentang pengalamannya menjadi petani sayur.

Pria yang lahir di Laktutus, sebuah kampung kecil berbatasan langsung dengan Timor Leste ini, mengaku mulai tekun membudidaya sayur kangkung sejak tahun 2000 silam.

“Saya kerja sayur supaya jual dan pakai biaya anak-anak saya kuliah” aku pria enam anak ini.

Budidaya sayur-mayur memang sangat menjanjikan. Dari hasil usaha sayur-mayur, Paulus bahkan bisa menyekolahkan empat orang anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi.

Diakuinya bahwa anak pertamanya sudah selesai kuliah dan kini mengabdi sebagai guru. Sementara anak keduanya bekerja sebagai perawat di Jakarta setelah selesai kuliah Keperawatan di Kediri pada 2016 lalu.

Saat ini, Paulus dan istrinya sedang fokus membiayai anak ketiga yang sementara mengenyam pendidikan di Universitas Terbuka dan anak bungsunya yang sementara kuliah jurusan Pertanian di salah satu Universitas di Yogyakarta.

Paulus bertutur bahwa dirinya bersama istri tercinta bisa menyekolahkan anak-anak mereka hanya dengan serius menanam sayur saat musim panas setelah panen padi.

Dari hasil menanam sayur, Paulus dan istrinya bisa meraup omset hingga lima juta setiap bulan. Keluarga mereka selalu mempunyai simpanan dan tidak kesulitan saat anak-anaknya meminta uang untuk kebutuhan kuliah.

Dari luas lahan 15 are dan bermodalkan sebuah mesin pompa air berukuran kecil, Paulus menanam  sayur kangkung 65 bedeng.

Dia mengakui, dirinya membudidaya kangkung selain pasarannya banyak, juga jenis sayur ini mudah untuk dirawat.

Dari jumlah 65 bedeng yang ditanami sayur, setiap minggu dirinya menjual 10 hingga 15 bedeng dengan harga jual Rp.60.000 per bedeng.

Sementara untuk pasarannya, Paulus tidak harus pergi menjual ke kota karena sudah ada pembeli dari Atambua, Kefa bahkan dari Malaka yang langsung membeli di kebunnya.

Dia mengakui saat ini hingga Desember harga sayur kangkung merosot hingga Rp.60.000 per bedeng. Harga sayur akan lebih baik pada Bulan April dan Mei dimana per bedeng bisa dijual dengan Rp.80.000 hingga Rp.100.000. Sedangkan pada bulan Januari hingga Maret, lahannya digunakan untuk menanam padi.

Paulus bersama istrinya mengaku sangat terbantukan dengan menjadi petani sayur pada musim panas.

Khusus untuk sayur kangkung yang sudah ditekuni sejak 18 tahun silam, Paulus merawatnya dengan mudah.

“Kami sedot air satu minggu dua kali dan sekali sedot membutuhkan bensin lima liter. Kerjanya sangat ringan jadi saya sendiri dengan mama yang siram” ujar Paulus sambil sesekali menyiram sayur dengan piring yang iya pegang.

Ditanya apakah setelah kedua anaknya selesai kuliah dirinya akan berhenti menanam sayur, Paulus tersenyum dan mengatakan bahwa sebagai petani ia akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Bagi dia menanam sayur adalah bisnis sekalgus hiburan di masa tua.

Penulis:Marcel Manek

Editor: Irvan K