Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Cerpen Fian Watu*

Matamu masih berat saat kabar itu sampai di telingamu. Temanmu mati. Matamu langsung ringan. Tapi kau tak bisa sembunyikan air matamu. Sesuatu yang kau takutkan selama ini terjadi.

“Beda sudah meninggal subuh tadi.” Kata istrimu.

“Tubuhnya hitam?”

“Iya. Dari mana kau tahu?”

“Persis yang menimpa Kopong waktu itu.”

Kau ingat lagi kematian Kopong. Dia meninggal saat subuh juga. Kulitnya yang putih berubah jadi hitam seperti kena arang saat dia meninggal. Tak ada keluhan sakit, tak ada tanda-tanda kematian. Pastilah. Kalau kematian ada tanda paling tidak pasti orang bisa mencegahnya.

Yang kau tahu, saat bangun, kau dengar suara tangis pecah di rumah Kopong. Kau ke sana dan dapati tubuh Kopong kaku di atas tempat tidur. Tidak ada senyum di wajah Kopong. Wajah itu lebih menunjukkan ekspresi pasrah. Yang aneh: tubuh itu hitam seperti dibakar. Seluruhnya hitam. Istri Kopong heran dalam tangisan.

“Kopong pernah mengeluh sesuatu?”

“Kemarin dia bilang badannya panas sekali seperti dibakar.”

“Dibakar?”

“Iya. Malam tadi, dia merasa tubuhya panas sekali. Aku meraba tubuhnya. Tak ada tanda-tanda panas. Dia mengeluh jadi aku meminta dia membuka bajunya dan tidur. Dia tidur nyenyak tapi tak pernah bangun lagi. Tidur selamanya.” Cerita  istri kawanmu itu.

Kau hanya mendengar penjelasan itu lalu pergi. Pulang dari upacara penguburan Kopong, kau dan Beda berbicara banyak tentang kematian Kopong, kawan kalian saat bermain kartu. Kalian mulai menebak-nebak penyebab kematiannya.

“Dia mungkin bunuh diri karena punya banyak hutang padamu.”

“Tidak mungkin. Kau lihat tubuhnya hitam seperti arang. Lagipula aku tidak terlalu menuntut ia melunasi hutangnya.”

“Ini sudah jadi jalannya. Mati tiba-tiba.”

Setelah kematian Kopong yang tiba-tiba itu, berhembus kabar bahwa kematian itu adalah kutukan. Kopong mungkin pernah berbuat kesalahan atau dosa di masa lalu. Orang-orang kampung mulai mewanti-wanti. Ada yang bilang Kopong pernah membakar tempat angker di kebunnya. Ada yang bilang itu dendam dari penghuni pohon beringin yang ditebang dan dibakar Kopong beberapa bulan lalu. Ada juga kabar burung bahwa entah sengaja atau tidak lumbung padi di sawahnya ludes dilahap api. Haram di kampungmu kalau lumbung padi terbakar.

Semuanya dikaitkan dengan api. Betapa tidak, tubuh orang mati seharusnya pucat bukan hitam seperti arang. Kau takut sekali saat melihat tubuh Kopong. Hitam sekali. Padahal Kopong termasuk salah satu orang di kampung yang kulitnya kuning langsat. Sejak hari kematian Kopong, kau dan Beda jarang bertemu. Kalian kehilangan sahabat dalam bermain kartu. Kalau pun bertemu kalian hanya membicarakan nama Kopong. Tempat kalian bermain kartu pun sepi. Seperti ada yang hilang. Kalian sahabat sejak kecil sampai saat ini. Kepergian Kopong membuka ruang kosong yang besar. Kalian jarang ke rumah Kopong lagi. Sejak kematian Kopong, kalian juga takut mati. Kau takut mati.

Cerita tentang kematian Kopong tidak hilang begitu saja. Di kampungmu, kematian yang aneh dan tiba-tiba mesti diselidiki. Keluarga rela berbuat apa saja dengan asa bisa mengetahui penyebab kematian kilat itu. Ketua adat dipanggil, hewan disembelih.

Orang di kampungmu percaya kalau arwah orang yang meninggal bisa dipanggil untuk ditanyai. Kau juga tahu itu. Setelah upacara itu beredar lagi kabar burung. Sebenarnya penyebab kematian harus menjadi rahasia keluarga. Namun, maklum orang kampung; masalah kecil apapun pasti cepat menyebar. Kabar ini yang tersebar: Kopong pernah membakar seseorang.

Terkejutlah seluruh kampung. Memang belum lama ini, tepatnya tiga bulan lalu, seorang gila mati. Lebih tepatnya orang gila itu terbakar bersama gubuk yang biasa dia tempati. Hanya itu saja kejadian seorang mati terbakar. Semua orang tahu, itu kebakaran. Orang gila memang tak tahu mana api mana air. Wajar kalau gubuknya terbakar. Orang kampung tahu kalau orang gila mati karena perbuatannya sendiri.

“Tidak mungkin Kopong membakar orang gila itu.”

“Ya. Dia tidak mungkin melakukan itu. Dia guru teladan di sini.”

Kau dengar semua itu dari orang kampung. Kau bahagia mendengar kawanmu itu dipuja-puja. Namun, kau semakin takut. Kau takut kalau orang tahu yang sebenarnya. Kau takut orang tahu kalau kau, Beda, dan Koponglah yang membakar orang gila itu.

Malam itu kalian asyik menghabiskan uang untuk bermain judi kartu. Hanya kalian bertiga. Tempat kalian tersembunyi untuk menghindari mata anak murid dan orang tua murid. Sebagai guru, tentunya kau dan kedua kawanmu itu tak mau kehilangan simpati mereka. Guru di kampung sangat dihormati. Yang dikatakan guru adalah dogma. Yang dijelaskan guru adalah benar. Jadi, kau dan kedua temanmu itu bermain judi di dekat pasar, lebih tersembunyi. Paling tidak kau dan temanmu itu tidak ketahuan oleh anak murid atau orang kampung lain.

Kalian lagi asyik membuang kartu saat teriakan orang gila itu memecah malam yang larut itu. Waktu itu pukul 01.00. Semua orang sudah memimpikan surga. Hanya mata kalian yang terbelalak di depan kartu. Awalnya teriakan kecil. Namun, lama kelamaan teriakan itu seperti mampir di telinga kalian dan menghuni gendang telinga. Konsentrasi kalian diambil oleh teriakan orang gila itu. Beda semakin ngawur bermain. Kopong tidak bisa berpikir lagi. Sedang kau membanting kartu.

Koponglah yang pertama kali keluar dan menegur orang gila itu. Orang gila itu memang diam. Namun, hanya beberapa saat. Dia berteriak lagi. Kali ini lebih keras.

“Guru kencing berdiri murid kencing belari.”

“Murid jatuh tidak jauh dari gurunya.”

“Murid baca buku, guru baca kartu.”

Orang gila itu  terus berteriak demikian dari gubuknya. Dia tinggal bersebelahan dengan tempat kalian bermain judi kartu. Kalimat terakhir orang gila itu memerahkan telinga kalian. Beda membuang kartunya, keluar dari rumah judi itu lalu masuk ke gubuk orang gila itu. Tidak sampai lima menit, orang gila itu sudah diam. Kalian melanjutkan permainan. Namun, belum sampai sepuluh menit, orang gila itu berteriak lagi. Kali ini tidak ada kata yang keluar. Hanya ada teriakan kosong. Beda telah mengikat tangan, kaki dan menutup mulut orang gila itu.

Mukamu merah padam. Tekanan darahmu naik. Kau masuk ke gubuk orang gila itu dan menampar mukanya. Kopong ikut menendang tubuh orang gila itu. Beda berdiri tidak jauh dari situ dan tersenyum sinis, entah pada siapa. Orang gila itu masih terus berteriak. Dia bergumam kata-kata yang gagal kalian paham. Mungkin kalimat yang tadi sempat dia ucapkan. Kau sendiri langsung mengikat lagi tubuh orang gila itu dengan tali baru. Entah dari mana ide itu muncul, Kopong datang dengan jeriken berisi bensin. Beda lalu memukul lagi orang gila itu. Pukulan Beda itu memuncratkan darah di bibir bawah orang gila itu. Kopong tanpa kompromi menuangkan bensin ke tubuh orang gila itu. Kau sendiri diam saja menyaksikan itu. Entah setan apa yang merasuki kalian malam itu, tiga menit kemudian, kau berdiri di depan tubuh lemah itu dengan korek api di tanganmu. Tanpa aba-aba, kau langsung menyalahkan korek api dan membuangnya ke atas tubuh orang gila itu. Kalian diam saja, senyum bangga, sinis, puas, dan merasa menang sedang di depan kalian orang gila itu berteriak karena panas. Api melahap dengan cepat tubuh orang gila itu dan gubuknya. Saat semuanya sudah lebur dalam api barulah kalian berteriak kebakaran. Pengganggu itu mati dan kalian puas.

Tiga bulan setelah kejadian itulah Kopong mati. Mati tanpa sebab. Hanya tubuhnya yang kelihatan dibakar. Orang kampung tak banyak yang tahu. Mereka hanya tahu Kopong pasti sakit: serangan jantung atau apalah. Setelah kematian Kopong, kau dan Beda terus bermain judi kartu di tempat biasa. Hanya kalian berdua. Kalian bungkam. Kau dan Beda merasa tak pernah berbuat apa-apa.

Hari ini kau bangun dan mendapati kabar kematian Beda. Matamu belum sepenuhnya terbuka saat melihat kalender di samping tempat tidurmu. Tanggal 29 Maret. Tiga bulan sudah Kopong meninggalkan kalian. Kau kaget. Tidak hanya Kopong tetapi juga Beda. Beda mati hari ini; genap tiga bulan setelah kematian Kopong. Kau terbangun dari tidur. Kau bernapas cepat. Kau kaget. Kau ingat lagi, tiga bulan setelah kematian orang gila itu, Kopong mati. Sekarang, tiga bulan setelah kematian Kopong, Beda mati. Kau lompat dari tempat tidur. Berlari entah ke mana. Hanya satu kalimat dalam pikiranmu: aku akan mati tiga bulan lagi.

Setelah hari kematian Beda, kau cemas. Kau tak tidur di malam hari. Kau tak lagi main judi kartu. Bukan karena kau bertobat melainkan karena kau tak punya kawan bermain. Kau mulai pergi ke dokter untuk memeriksa kondisi badanmu, luar-dalam. Kau pergi ke dukun untuk melihat apa yang tak dapat dilihat dokter. Kau mulai sering ke Gereja dengan doa: supaya kau dijauhkan dari mati muda. Kau tak sadar kalau kau sudah tua.

Kini hampir tiga bulan setelah hari kematian Beda. Kau rasa biasa saja. Tak ada sakit yang kau rasakan. Hasil pemeriksaan dokter tak menunjukkan satu penyakit pun. Dukun tak menemukan kejanggalan dalam tubuhmu. Kau bahkan meminta dukun membentengi dirimu dari maut.

Hari-harimu kau habiskan dengan berdoa. Padahal kau yakin tak akan mati. Kau tak mau melihat kalendar. Kau takut pada hari itu. Satu hari sebelum genap tiga bulan kematian Beda, kau diam saja di rumah. Air matamu jatuh. Kau takut sekali padahal tubuhmu baik-baik saja. Kau duduk saja di rumah. Kau tak mau terlihat sedih karena kau yakin kau akan baik-baik saja. Kedua temanmu memang tak beruntung. Kau sudah lupa kejadian itu. Kau lupa orang gila itu. Kau lebih ingat dirimu. Kau makan, minum, tidur, seperti biasanya. Bedanya, kau nampak cemas.

Malam itu kau tak tidur. Kau duduk di kursi kayu di ruang tamu, berjaga entah pada apa. Kau tidak takut besok tetapi kau berjaga seperti orang ketakutan. Kau taruh pelita di depanmu. Istrimu sudah tidur sejak tadi. Kau tak pernah memberitahunya masalah itu. Kau berencana berjaga hingga subuh. Kau tahu jam subuh adalah jam kematian kedua kawanmu itu. Karena lelah memikirkan hari esok, kau tak tidur siang hari. Pukul 00.00 kau tertidur. Entah mimpi buruk apa yang menganggumu, kakimu menendang pelita. Pelita dan minyak di dalamnya tumpah. Kebakaran.

Pukul 02.00, kau mendengar teriakan istrimu. Teriakan itu berasal dari luar rumah. Kau berlari keluar rumah dan mendapati banyak orang memeluk istrimu. Kau melihat jam tanganmu, maut telah lewat. Kau tersenyum. Kau berlari  dan memeluk istrimu. Hampa. Tak terasa. Kosong. Kau heran. Kau menoleh ke rumahmu, rumahmu terbakar. Tak terlalu jauh dari tempatmu berdiri, di balik reruntuhan tiang rumahmu yang terbakar, kau lihat tubuhmu terpanggang di atas api. Di samping tubuh gosongmu itu, wajah orang gila yang dulu kau bakar tersenyum padamu.

Runut, pada Kamis yang Putih.

Fian Watu, mahasiswa STFK Ledalero. Anggota Teater Tanya Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.