Perayaan emas 50 tahun SMP Katolik Regina Pacis Bajawa yang ditandai dengan misa kudus (Foto :Arkadius Togo/Vox NTT)

Bajawa, Vox NTT-SMP Katolik Regina Pacis Bajawa menggelar perayaan syukuran emas 50 tahun, Selasa (07/08/2018).

Kegiatan yang berlangsung di Aula SMPK Regina Pacis Bajawa itu diisi dengan misa kudus.

Misa dihadiri sekitar 1.200 umat.  Mereka terdiri dari komunitas perguruan Regina Pacis Bajawa TK, SD, SMP sampai SMA, para alumni dan undangan lainnya.

Perayaan emas dimeriahkan dengan paduan suara SMAK Regina Pacis dan SDK Regina Pacis Bajawa.

Misa syukuran ini dipimpin Vikjen Keuskupan Agung Ende, Pastor  Serilus Lena, Pr, dengan imam selebran Pastor Daniel Aka, Pr selaku Ketua Yasukda, dan Pastor Paroki St. Yosef Bajawa Pastor John Preta. Selain itu terdapat pula 4 imam selebran lainnya.

Dalam khotbahnya, Pastor Serilus Lena mengatakan, perjalanan lembaga SMPK Regina Pacis Bajawa tentu ada dendang yang merdu,  namun ada juga yang suram.

Pastor  Serilus mengajak insan pendidikan agar tetap tegak berdiri dan menjadi pahlawan dalam mendidik,  serta membentuk karakter anak didik atas dasar nilai kekatolikan.

Dikatakan, dunia pendidikan dewasa ini tidak bebas dari kepalsuan dan telah menjadi hantu-hantu.

Karena itu, lanjut Pastor Serilus, para penyelenggara pendidikan harus peka akan firman Tuhan.

Penyelenggara pendidikan hendaknya bisa membedakan mana Tuhan dan mana hantu, serta mana kebenaran dan mana kepalsuan.

Dia menambahkan, dalam perjalanan panjang SMPK Regina Pacis Bajawa banyak pahit dan getir. Sekolah itu pun malah pernah mengalami kemunduran.

“Namun kini momentum emas kita diingatkan kembali untuk bangkit,” kata Pastor Serilus.

Kepalsuan atau hantu, kata Pastor Serilus, tidak akan mengatakan tenanglah Aku ini sebagaimana firman Tuhan.

Karena hantu atau kepalsuan justru selalu menampakan wajah yang menakutkan, membuat orang gelisah. Kecuali Yesus yang datang memberi ketenangan.

Ditegaskannya, hanya orang-orang pendidik yang tidak punya iman yang takut dan cemas. Karena tak bisa membedakan mana kebenaran dan mana kepalsuan.

“Kepalsuan itulah yang selama perjalanan panjang lembaga ini jatuh. Mungkin kita sudah baku tuding dan saling menyalahkan. Namun kita harus terus bangkit berapa kalipun kita jatuh, karena kita melihat kebenaran,” katanya.

Menurutnya, kebenaran tentu saja selalu membayangi perjalanan hidup, sebab manusia selalu bangkit.

“Kalau pernah ada di puncak maka kita mesti bangkit dari kejatuhan. Peristiwa jatuh bangun lagi itu yang membuat kita berjalan sampai hari ini merayakan 50 tahun,” tandasnya.

“Hari ini kita merayakan kemenangam cahaya atas kegelapan. Dalam perjalanan itu akhirnya kita boleh alami kebahagiaan karena kita bisa membedakan mana cahaya dan mana kegelapan,” tambah dia.

 

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba