Siswa-siswi SMAK Regina Pacis Bajawa (Foto: Engky Ola)

Bajawa VOX NTT– Penyair kenamaan Indonesia, F. Rahardi dalam prolognya untuk antologi puisi karya dari siswa-siswi SMAK Regina Pacis Bajawa menulis begini:

“Kumpulan puisi Salam Kepada Sang Fajar adalah karya yang bernilai. Terlebih mengingat buku ini lahir di sebuah SMA swasta di kota Bajawa, kabupaten Ngada, NTT. Terbitnya buku ini, juga bisa membantah secara konkrit tudingan Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi bahwa  kualitas sekolah di NTT yang rendah telah menyeret kualitas pendidikan Indonesia di mata dunia. Buku ini merupakan bantahan konkrit bahwa sekolah di NTT tak kalah dengan sekolah di Jawa sekali pun”.

Prolog yang sederhana namun mendalam maknanya untuk segenap civitas pendidikan di lembaga tersebut.

Pertama kali menjejali kaki pada Minggu sore, 28 Januari 2018 di Recis (sebutan untuk SMAK Regina Pacis Bajawa) suasana sekolah yang terkenal dengan moncernya seabrek prestasi langsung terasa. Kultur akademiknya terasa hidup.

Boy Zanda, staf pengajar yang menemani VoxNtt.com dalam tur jurnalistik berkisah tentang sekolah ini pada tahun-tahun sebelumnya yang sama sekali tak dianggap.

Boleh dibilang sekolah pelarian yang menampung peserta didik pindahan darimana saja.

Berkah untuk sekolah ini langsung terasa saat di bawah kemudi Rinu Romanus.

Sebagai seorang lulusan Sarjana Agama Katolik, Rinu Romanus paham betul bagaimana spirit sekolah ini harus eksis.

Kepsek SMAK Regina Pacis Bajawa, Rinu Romanus

Sebagai sekolah Katolik yang dikelola oleh para guru awam, Romanus bertekad untuk menunjukan kepada publik di NTT bahwa Regina Pacis Bajawa tak bisa dianggap enteng.

Sore yang hening di Bajawa hari itu terasa sebagai pelesir merasakan dengan nyata sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dengan profesional.

Yang paling banter dari kekhasan sekolah ini adalah peran untuk mengoptimalkan potensi dan juga bakat siswa menjadi sesuatu yang bernilai.

Pada acara pelantikan pengurus OSIS dan peluncuran buku antologi siswa, 29 Januari 2018, Rinu Romanus, sang kepala sekolah dengan tegas mengemukakan bahwa eksistensi sebuah lembaga pendidikan dapat diterima oleh semua orang tanpa terkecuali, ketika lembaga tersebut dapat mewadahi dengan kepekaan dan ketulusan hati terhadap semua potensi, minat, dan bakat para peserta didiknya dengan penuh tanggung jawab.

Sekecil apa pun bakat dan potensi anak wajib dihargai dan harus dikembangkan secara kolektif dengan berbagai kebijakan dan gebrakan baru yang kiranya dapat menjawabi segala potensi dari para peserta didik.

Sekolah ini memang telah menjadi salah satu sekolah swasta Katolik di NTT yang dikelola dengan luar biasa oleh awam.

Cerita tentang sejumlah prestasi siswa pun menguak. Mulai dari juara lomba debat tingkat nasional, juara lomba bidang studi,  juara pidato bahasa Inggris, juara musik etnik dan seni budaya, fashion show tingkat nasional dan sederet prestasi dalam bidang olahraga lainnya.

Belum lagi sekolah ini juga berhasil meloloskan para siswa-siswinya lulus masuk UMPTN dengan raihan nilai yang gemilang.

Pada 13 Agustus 2018 kemarin, salah satu siswa SMAK Regina Pacis, atas nama Nadia Kabu menjuarai lomba pidato dengan tema pilar kebangsaan tingkat provinsi NTT.Prestasi ini terus mengharumkan nama sekolah ini.

Nadia Kabu, siswi SMAK Regina Pacis menerima penghargaan usai menjuarai lomba pidato pilar kebangsaan tingkat Provinsi NTT

Sederet prestasi ini menggambarkan kultur akademik begitu hidup di sekolah ini. Sang kepala sekolah juga tidak pernah berhenti menanamkan motivasi untuk tidak mudah menyerah dan terus belajar bagi siswa-siswi maupun guru di SMAK Regina Pacis.

“Marilah kita terus belajar dan belajar, mengukir prestasi dan tetap rendah hati. Tuhan telah menganugerahkan kepada kita keunikan-keunikan potensi yang istimewa maka kembangkanlah. Dalam semangat Bunda Maria Regina Pacis, Maria Ratu Damai, sang pelindung sekolah teruslah kita belajar, bersatu dan optimis bahwa kita bisa” demikian pekikan kepala sekolah, Rinu Romanus di hadapan siswa/i dan para guru di pelataran Recis Senin, 29 Januari 2018 lalu.

Penulis: Engky Ola Sura

alterntif text