Ardy Abba

Editorial, Vox NTT-Di bawah judul berita VoxNtt.com “Selidik Tuntas Kebakaran di Jerebu’u!” pemilik akun Yustina Ndung berkomentar tentang kebakaran dua tempat destinasi wisata di Flores NTT. Berita ini dirilis tertanggal 14 Agustus 2018.

Dosen di Kota Malang asal Manggarai itu berkomentar begini, “Saya berharap penyelidikan dilakukan serius..sebab..ada kaitan atau tidak..namun itu terjadi…sebelum Gurusina..kebakaran jg terjadi di TN Komodo…lagi lagi api destinasi wisata kita….semua pihak harus peka terhdp hal ini”.

Entah apa yang ada dalam pikiran netizen ini saat memosting komentarnya. Namun, saya mencoba menerka bahwa Yustina Ndung sedang mencurigai ada motif terselubung di balik peristiwa kebakaran dua tempat pariwisata di Pulau Flores itu. Maaf kalau saya salah.

Pertama, kebakaran terjadi di obyek wisata Pulau Cantik Gili Lawa, Kabupaten Manggarai Barat pada Rabu malam, 1 Agustus 2018 lalu.

Akibatnya, sebagian besar pulau yang lanskap sangat cantik di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) itu berwarna hitam sisa kebakaran.

Siapa yang tak mengenal Pulau Gili Lawa. Pulau kecil yang tak berpenghuni di sebelah utara Pulau Komodo itu langsung berhadapan dengan Laut Flores yang begitu indah.

Pulau ini memiliki spot iconic, yang mana ada dua pulau yang ditengahnya terdapat selat. Dia diapiti dua pulau. Keunikan ini membuat wisatawan banyak “memburu” Pulau Gili Lawa.

Kedua, Kampung Gurusina. Kampung adat yang terletak di Desa Watu Manu, Kecamatan Jerubu’u, Kabupaten Ngada itu hangus terbakar pada Senin, 13 Agustus lalu, sekitar pukul 17.40 Wita.

Akibatnya, 27 dari 33 rumah adat di Gurusina hangus rata tanah. Rumah adat ini terbuat dari bambu dengan atap alang-alang.

Kampung adat Gurusina hingga kini sangat tersohor jika Anda bertandang ke Kabupaten Ngada.

Tak hanya karena keunikan rumah adatnya sehingga Kampung Gurusina “diburu” wisatawan. Namun tempat pariwisata yang jarak tempuhnya sekitar 45 menit dari Bajawa ibu kota Kabupaten Ngada itu memiliki panorama alamnya nan eksotis.

Latar kampung ini terdapat piramida-nya Flores yakni Gunung Inerie. Gunung berbentuk kerucut ini menyumbang sensansi tersendiri jika Anda berkunjung ke Kampung Adat Gurusina.

Kebakaran dua tempat pariwisata ini hanya selisi dua pekan di bulan Agustus 2018. Pertanyaannya ialah; mengapa secara kebetulan api melahap dua tempat pariwisata di tengah Kabupaten Manggarai Barat dan Ngada ini meraup keuntungan dari keunikan alam dan budayanya? Jadi, wajar di balik insiden yang secara kebetulan itu ada perasaan curiga. Ini bukanlah paranoid.

Kecurigaan paling mendasarnya ialah, jangan-jangan ada agenda terselubung oleh oknum-oknum tertentu untuk merusakan pariwisata di Flores.

Pulau Flores akhir-akhir ini memang sedang menunjukan geliat pembangunan di sektor pariwisata. Dari hari ke hari pun traffic kunjungan wisatawan semakin meningkat.

Di tengah situasi yang cukup menguntungkan dunia pariwisata Flores, jangan-jangan ada oknum tertentu yang mencoba merusakannya. Sehingga dengan merusakannya membuat wisatawan takut untuk berkunjung ke Pulau Flores.

Ini perasaan curiga yang muncul. Tapi coretan ini tidak sedang mendahului penyelidikan Kepolisian. Polisi tentu saja sedang menata hukum agar membawa keadilan bagi semua orang, termasuk para pihak yang menjadi korban akibat kabakaran di Pulau Gili Lawa dan Kampung Adat Gurusina.

Sebab, hukum sudah dirancang sebagai aturan yang equality dan proporsional. Penyelidikan Polisi pun harus diyakini sudah berjalan proporsional di balik insiden kebakaran dua tempat pariwisata tersebut.

Penulis: Ardy Abba

alterntif text