Sipri Guntur

Oleh: Sipri Guntur

Peminat ekonomi, sosial dan budaya

Entrepreneurship bukan hal baru bagi masyarakat Manggarai dan NTT umumnya. Business, orang Inggris bilang. Bahasa sederhananya kewiraushaan. Penduduk lokal Manggarai menyebutnya ‘pika ca o ca’ (jual barang-barang).

Saat ini saya tinggal di kota Ruteng. Di sebuah bukit di pinggir kota bernama Tengku Recok, desa Bangka Leda. Sebuah tempat nyaman dan sejuk. Jauh dari kebisingan, hingar-bingar dan hiruk-pikuk keseharian ibu kota Congka Sae ini.

Nukilan ini merupakan refleksi personal penulis terkait dengan pengembangan usaha kecil sebagaimana dilakukan oleh kebanyakkan masyarakat kita di Manggarai dan NTT umumnya.

Budaya ‘Tunti’ orang Manggarai

Tunti ’ adalah sebutan lokal untuk meniru atau mengikuti/menjejaki. Tentu saja meniru hal-hal positif dan baik. Arti negasinya menjiplak.

Dalam dunia internet biasa menyebutnya ‘copas’ (copy dan paste). Ada pula satu jenis aplikasi di dunia Design Grafis yang disebut Corel Draw. Aplikasi ini mencoba untuk menjiplak sebuah gambar sampai mirip dengan aslinya.

Sekarang kita abaikan penjelasan barang ini. Kembali ke laptop.

Kebiasaan ‘tunti’ ini tentu bukan hanya milik orang Manggarai saja tetapi hampir semua orang melakukannya. Namun narasi saya di sini locus-nya kebiasaan di Manggarai. Saya memulai dengan sebuah kisah nyata.

Di sekitar tempat saya tinggal meruak kios-kios bak cendawan di musim hujan. Hampir di depan rumah penduduk di pinggir jalan ada kios dengan aneka bentuk dan ukurannya.

Kebanyakkan kios itu tentu menyediakan kebutuhan harian Rumah Tangga seperti garam, gula, biscuit, supermie, ikan, dan semacamnya. Namun dari kios-kios tersebut ada satu kisah menarik sebagai bahan permenungan kita.

Pada awalnya kios ini berdiri megah di persimpangan jalan. Tentu cukup strategis untuk menjalankan sebuah usaha atau bisnis. Jika kekurangan garam di dapur saya belanja di kios ini. Demikian juga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Namun apa yang terjadi kemudian? Kiosnya telah dibongkar. Saking ingin tahunya, saya ke rumah pemilik kios sekadar mengendus ada apa gerangan sampai kiosnya dibongkar.

Dari hasil diskusi, ada beragam persoalan diutarakan. Dari modal yang kurang cukup karena sering melayani pembeli yang sering bon (ambil saja barangnya dulu baru kemudian dibayar), pembeli sepi, hutang melilit sampai pada penjaga kios yang selalu menyibukkan diri dengan aktivitas lain.

Narasi dalam tulisan ini tidak bermaksud mempersalahkan pemilik kios tetapi sebagai bahan refleksi bagaimana kita melanjutkan ‘tunti’ yang baik dan menjalankan bisnis secara professional.

Kios-Kis-Kus dan Koas (4K)

Sekarang saatnya kita membahas inisial 4K (Kios-Kis-Kus dan KOas) dalam hubungannya dengan bisnis kecil tadi.

Dari pengalaman yang saya kisahkan tadi, ternyata kita sedang berjibaku dengan 4K itu. Karena ingin berhasil seperti orang lain, contoh yang paling nyata adalah saudara-saudara kita bangsa China yang orang lokal sebut ‘baba’ atau ‘aci’ yang kebanyakkan sukses dalam bidang usaha ini.

Orang Manggarai dan kebanyakkan kita perlu apresiasi karena cukup banyak yang meniru hal baik dari mereka. Contohnya buat usaha, dalam konteks ini kios.

Idealnya, usaha kita mestinya berkembang, bukan sebaliknya malah gagal. Faktanya, Poli Pande kios ga Kis, poli hitu Kus, lalu Koas.

Terjemahan bebasnya dalam narasi berikut: Kita buat kios untuk usaha, akan tetapi karena kekurangan modal akibat bon yang tidak dibayar jadinya KIS (Kis dalam bahasa lokal berarti menggerutu atau mengomel).

Setelah KIS, akhirnya KUS. Kus artinya sudah mulai kerdil atau kurus usahanya karena ketiadaan modal untuk melanjutkan usaha atau bisnis.

Setelah jadi KIS dan KUS akhirnya KOAS (bubar). Kiosnya dibongkar, karena tidak ada gunanya lagi.

Maka orang tua di Manggarai mulai komentar sinis, Ole…meu e… eme pande kios, jaga boto kis agu kus poli hitu ga koas, paka siap-siap du reme wangkan. (Hai kamu pengusaha pemula, jika Anda bikin kios untuk usaha mohon awalnya dipersiapkan dengan baik, agar tidak kering, mengeluh dan pada akhirnya bongkar lagi kios itu atau tutup lagi usahanya).

Prasyarat ‘Tunti’ adalah Business Skills

Judul ini agak kebarat-baratan. Tetapi intinya bahwa sebelum kita menjadi pengusaha sekecil apapun usaha kita, perlu duduk untuk mendesain business plan-nya atau perencanaan bisnisnya.

Sesederhana apapun itu, wajib hukumnya untuk dilakukan. Dengan demikian usaha kita akan berhasil. Budaya ‘tunti’ itu sudah bagus. Namun membuka suara untuk bertanya dan pro-aktif untuk berdiskusi dengan mereka yang berhasil dalam kewirausahaan.

Bagaimana mereka menganalisis risiko yang akan muncul kemudian, bagaimana mereka menganalisis kekuatan modal (financial) dan bagaimana strategi mereka untuk menerus-lanjutkan usahanya. Internal fundraising strategy (strategi pendanaan internal) sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Di situlah pentingnya budaya ‘tunti’ tadi berakar dan bermakna. Jangan karena yang lain buat usaha kita juga ikut-ikutan meniru tanpa memikirkan dampak dan implikasinya bagi pengembangan bisnis kita.

Dengan demikian kalimat berikut bisa diretas. Mese taka matan te pande pika ca o ca, maik koe bokongn” (Mata besar untuk melakukan usaha, namun modal untuk mengembangkan usaha kecil),

Dukungan kebijakan Pemerintah

Tak ayal, sudah begitu banyak upaya pemerintah dan sektor lain untuk mengembangkan Usaha kecil dan menengah di akar rumput. Tentu kita apresiasi dengan hal ini.

Namun tak terbantahkan bahwa jumlahnya masih sedikit. Masih banyak luput dari perhatian pemerintah sebagai penentu kebijakan terkait dengan usaha masyarakat menengah ke bawah ini.

Penulis mendambakan pemerintah membuka ‘bengkel-bengkel pelatihan’ khususnya dalam pengembangan usaha ini di daerah. Mengapa? Sebab modal ‘tunti’ masyarakat kita untuk berhasil adalah suatu hal yang perlu diacungkan jempol, diapresiasi dan didorong. Tinggal sentuhan-sentuhan kecil bagaimana mereka mengembangkan usahanya.

Demikian nukilan kecil ini direfleksikan, semoga bermanfaat bagi kita semua.

alterntif text