Ilustrasi korupsi (Foto: Istimewa)

Kupang, Vox NTT-Musim caleg telah tiba. Bak jamur di musim hujan, caleg-caleg  dengan mudah ditemui di lorong-lorong, warung kopi, persimpangan jalan, bahkan menyusup ke rumah-rumah warga.

Kasak-kusuk para caleg memang lumrah menjelang pesta demokrasi. Masyarakat pun dituntut untuk memilih caleg bersih, jujur dan punya kemampuan yang memadai.

Namun terkadang masyarakat sulit membedakan mana calon yang bersih dan korup, mana yang munafik dan penjahat.

Menjawabi masalah ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menggunakan Sistem Informasi Pencalonan (Silon) untuk mendeteksi mantan koruptor, narkoba dan kejahatan seksual terhadap anak.

Sistem ini berisi riwayat kejahatan yang memungkinkan penyelenggara mudah mendeteksi jejak buruk caleg.

“Kan mereka dateng nih kita periksa dulu. Itu sistemnya KPU sudah bisa kelap kelip (terdeteksi) itu kalau masuk kategori 3 tadi, ‘mohon maaf ya bawa pulang dulu’ itu artinya belum didaftar. Baru didaftar kalo apa? Kalau sudah bersih,” ujar Hasyim Asyari seperti dilansir dari Liputan6, di gedung KPU RI, Rabu (04/07/2018).

Selain sistem yang dikembangkan KPU RI, Chujun Lin, Ralph Adolphs, dan R Michael Alvarez, peneliti dari Divisi Humaniora dan Ilmu Sosial, Institut Teknologi California (Caltech), berhasil mendeteksi kejujuran para politisi melalui pendekatan psikologi.

Hasil penelitian mengungkapkan jujur dan bohongnya seorang politisi dapat dilihat dari wajahnya.

Dalam penelitian berjudul “Menyimpulkan Apakah Pejabat Korupsi dari Melihat Wajah Mereka” itu, masyarakat awam bisa menilai seorang politisi meskipun belum pernah mengenal dan mengetahui latar belakangnya.

Salah satu yang disinggung dalam penelitian ini terkait keluasan wajah politisi. Penelitian mengungkapkan, politisi berwajah lebar memiliki kecenderungan lebih besar menjadi agresif.

Setya Novanto saat diperiksa KPK (Foto: Antara)

Para sukarelawan yang menjadi responden menilai, politisi yang berwajah lebar lebih korup daripada rekan-rekan mereka yang berwajah tipis.

Studi juga menunjukkan bahwa pria berwajah lebar dianggap oleh orang lain lebih mengancam daripada pria dengan wajah yang lebih kurus.

Salah satu metode yang dipakai yakni para peneliti mengumpulkan gambar 72 politisi yang memegang jabatan di tingkat negara bagian atau federal AS. Setengah telah dihukum karena korupsi dan setengahnya memiliki catatan bersih.

Untuk konsistensi, semua politisi berjenis kelamin laki-laki dan dari ras Kaukasia. Semua foto berwarna hitam-putih; dipotong dengan ukuran yang sama; dan menampilkan potret frontal, tersenyum.

Gambar-gambar itu disajikan secara acak kepada 100 sukarelawan, yang diminta untuk menilai setiap politisi tentang bagaimana korupsinya, tidak jujur, egois, dapat dipercaya, dan murah hati.

Anas Urbaningrum saat diperiksa KPK (Foto: Tribunnews)

Analisis data menunjukkan bahwa para relawan sebagai kelompok mampu membedakan politisi korup dari politisi bersih hampir 70 persen dari waktu hanya berdasarkan pada wajah mereka.

Ralph Adolphs, Guru Besar Psikologi, Neurosains, dan Biologi Caltceh mengatakan bahwa lebih dari sekadar wajah untuk mengetahui lebih dalam bagaimana perasaanmu tentang seseorang.

”Di dunia nyata, Anda tidak hanya melihat foto seorang politikus. Anda melihat mereka berbicara dan bergerak. Wajah mereka mungkin membuat kesan pertama pada Anda, tetapi ada faktor lain yang bisa masuk dan mengesampingkannya,” kata Adolphs seperti dilansir dari Kompas, Kamis (13/09/2018).

Penulis: Tarsi Salmon

Editor: Irvan K