Ilustrasi Mahasiswa (Foto: Harian Haluan)

Oleh: Ben Senang Galus

*)Ben Senang Galus, penulis buku, Postmodernisme dan Sketsa Hibriditas, tinggal di Yogyakarta

Seiring dengan perubahan zaman, mahasiswa tidak berhenti atau puas dengan menyebut diri sebagai kaum intelektual atau cendekiawan saja, namun ia juga harus memiliki sifat-sifat sebagai seorang Resi.

Seorang Resi adalah seorang bijaksana, dan sarat akan nilai moral dan agama. Karena ia adalah penggugah hidup masyarakat atau penguasa. Oleh karena itu mahasiswa sebagai kaum  intelektual atau cendekiawan berperan mengabdikan dirinya kepada kebenaran, kejujuran, kebaikan, keadilan, kedamaian dan keindahan serta memiliki moral dan agama yang kuat.

Barangkali mahasiswa harus belajar dari Socrates (470-399 SM), cendekiawan Yunani kuno, akhir hidupnya sangat tragis. Ia mati oleh hukuman masyarakatnya. Menjelang kematiannya ia menyebut dirinya “lalat liar”. Ia mengatakan “… mungkin kedengarannya lucu, saya seperti seekor lalat liar di tengkuk seekor kuda”.

Kuda adalah pemerintah atau masyarakat yang lelap terlena dalam berbagai kebusukan karena pengabaian nilai-nilai luhur manusiawi. Ia berjuang untuk menegakkan nilai-nilai itu. Penguasa/masyarakat merasa terganggu dalam tidurnya dan tanpa pikir panjang memukul lalat liar (baca: Socrates) agar pules lagi dalam gelimang dosa.

Socrates mati, namun kematiannya tidak dapat begitu saja membuat penguasa/masyarakat tetap tenang melanjutkan tidurnya. Dalam keadaan mata terpejam penguasa/masyarakat berpikir tentang pikiran dan sikap hidup Socrates.

Pesan apa yang akan disampaikan Socrates kepada mahasiswa?  Mahasiswa tidak boleh hidup aman dalam ketentraman palsu dan stabilitas semu. Mahasiwa harus berperan sebagai “lalat liar”.

Kehadirannya di tengah publik tidak membuat lagi yang terlena dalam kebusukan tetapi mengganggunya agar terbangun dari tidurnya. Ini peran mahasiswa (cendekiawan); harus memberi kesaksian agar kehidupan ini terjaga. Seorang cendekiawan harus merasa tidak dapat hidup lebih lanjut kalau tidak menjalankan perannya itu.

Bersuara Kuat

Tugas mahasiswa (cendekiawan) saat ini memang makin tidak gampang. Dewasa ini kehadiran mahasiswa (cendekiawan) harus bersuara kuat seperti Socrates  dan memegang teguh etika dan kejujuran intelektual. Sebab negara kita sebagai salah satu negara darurat korupsi di dunia. Negara kita ini terlalu riuh oleh aneka kejahatan yang melembaga (KKN), dan didukung birokrasi dan oleh banyak orang.

Bila mahasiswa tidak kuat dan jujur  ia akan beralih profesi, tidur bersama koruptor dan banyak orang dalam pengabaian nilai-nilai luhur manusiawi.

Kita harap kehadiran mahasiswa tampak semakin jelas dalam latar belakang negara yang semakin gelap, dalam maraknya KKN, merosotnya moralitas (mentalitas) pemimpin kita. Untuk itu perlu ketangguhan moral dan pribadi sang mahasiswa (cendekiawan), karena jika tidak demikian, peristiwa Socrates terjadi lagi “lalat liar” dipukul mati di Indonesia. Dan seperti Socrates, pada saatnya cendekiawan mengambil sikap bahwa kehadiran fisiknya tidak penting lagi, yang penting kehadiran “gangguan” itu.

BACA: Tenaga Kerja Didominasi Lulusan SD, Kemana Perguruan Tinggi di NTT?

Gangguan itu membuat penguasa tidak tenang dalam melanjutkan tidurnya. Saya yakin hal itu bukan sesuatu yang sia-sia. Karena sang cendekiawan bukan memasukan sesuatu yang asing, yang berasal dari luar, ke dalam diri sesama melainkan menyadarkan sesama apa yang terlekat dalam martabatnya sebagai manusia.

Manusia pada hakekatnya baik. Ia mencintai apa yang baik, adil, indah….. Harap oleh hidup dan karya sang cendekiawan masyarakat menyadari bahwa ia tidak dapat hidup lebih lanjut kalau tidak mengubah cara hidupnya sekarang (Huber Bogos, 1994).

Mahasiswa dan Kampus

Hemat saya jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai suatu kehidupan yang lebih baik Indonesia ke depan adalah mahasiswa tidak hentinya-hentinya melakukan revolution of mind, sebagaimana yang pernah dilakukan mahasiswa angkatan 66 dan 74. Artinya mahasiswa harus melakukan counter power yang tentunya tidak menyimpang dari mainstream  negara atau bisa dikatakan dalam sebuah sistem berada pada posisi “kaum pengkritik”.

Kaum pengkritik ini bisa dianalogikan dengan istilah kaum penekan atau pressure group. Kehadiran fisiknya tidak penting, yang penting kehadiran gangguan itu.

Revolution of mind hanya lahir dari kampus-kampus di mana sistem pendidikannya mendorong mahasiswa menjadi kaum intelektual organic, intelektual hibridisasi, intelektual kritis profetis.  

Memang antagonistis, di satu pihak masih ada kampus  yang menjalankan fungsinya tidak lebih sekadar Student Breeding (peternakan mahasiswa), panti asuhan, panti jompo.  Karenanya out put-nya menjadi intelektual hidroponik.

Intelektual hidroponik adalah intelektual yang pengetahuannya tidak mengakar, kultur akademik di kampus sengaja tidak dikembangkan, karena memang kampus kehilangan semangat, mahasiswa cenderung menjadi pemulung ilmu pengetahuan (Scientist Scalpers).

Oleh karena itu Soedjatmoko mengingatkan “be aware science scapers in the campus, usually they sell science more cheap than the quality assurance”. (Soedjatmoko, 1981).

Mungkin ada benarnya, karena sebagian besar mahasiswa kita saat ini mengidap penyakit Gaudeamus Igitur Iuvenes Dum Sumus. Ketakberdayaan mahasiswa dalam mengembangkan revolution of mind (kultur akademik/kultur kemasyarakatan), sama artinya mahasiswa sedang melakukan satu proses pauperisasi atau proses pemiskinan intelektual.

Maka pada gilirannya proses pauperisasi ini akan melahirkan sarjana-sarjana serba tanggung, serba tebatas kapasitas keilmuannya, serba terbatas wawasannya dan serba terbatas lingkup ilmiahnya.

Hubungan mahasiswa dengan kampusnya bersifat “loco parentis”, sebagai “anak asuhan” dari sebuah PT yang bertanggungjawab atas bimbingan dan perkembangan pribadi mahasiswa. Bersamaan dengan itu muncullah peran-peran mahasiswa sebagai “santri-santri”, sebagai pelanggan biasa  yang mengambil berbagai pelajaran untuk mencari gelar dan selebihnya sebagai “bohemians” (petualang-petualang).

Maka wajar saja kalau mereka mengalami krisis intelektual. Perguruan tinggi sedang dirasuki mental manipulasi, yakni sikap menolak realitas lalu mengungkapkanya secara terbalik, berlawanan atau menjungkirbalikan fakta (Huber Bogos 1994).

BACA: Tour Akademik dan Literasi Berdesa

Kian pudarnya kultur akademik/kemasyarakatan di perguruan tinggi saat ini saya dapat menduga karena beberapa kemungkinan berikut ini, (1)  budaya ketergantungan intelektual yang tinggi, (2) inner-dynamic yang lemah, (3) belajar dengan moral minimalis, (4) kebiasaan melecehkan waktu, (5) minat baca masih rendah, (6) sosialiasi diri masih rendah, (6) minat menulis rendah, (7) minat diskusi rendah, (8) minat berinovasi masih rendah.

Sebagai kaum penekan dan pengkritik, mahasiswa hanya bisa berperan ketika suatu kebijakan dikeluarkan oleh negara. Mahasiswa tidak bisa berperan secara signifikan dan fundamental dalam proses sebelum kebijakan tersebut dikeluarkan dikarenakan akses mahasiswa untuk masuk ke dalam suatu sistem memang terbatas.

Dalam hal ini, saya melihat bahwa di dalam suatu sistem mahasiswa sekarang ini, hanya berperan sebagai intelektual tradisionil bukan sebagai intelektual organik. Aktivitas-aktivitas intelektual yang dilakukan mahasiswa hanyalah aktivitas-aktivitas intelektual biasa bukan aktivitas-aktivitas intelektual yang berperan dalam proses pengambilan kebijakan suatu negara. Tetapi dalam hal ini eksistensi dan peran mahasiswa sebagai kaum penekan dan pengkritik tidak boleh dihilangkan.

Mahasiswa memposisikan diri sebagai kekuatan moral (moral force), dan sekaligus menjadi katalisator perubahan sosial, di sinilah peran mahasiswa sebagai pressure group. Ilmu harus berpusat pada manusia/masyarakat/berwajah kemanusiaa, kalau tidak sang cendekiwan sendiri akan haus dan lapar di padang gurun pengembaraan ilmu yang makin sepi. Mengabaikan masyarakat/manusia berarti menjadikan manusia sebagai pembunuh dengan berbagai senjata yang telah dihasilkannya.

Heideger mengatakan mahasiswa sebagai cendekiawan menjalankan dua kewibawaan: (1) Das rehnende denken: pemikirannya memperhitungkan—kehadiran mahasiswa perlu diperhitungkan sebagai asset strategis, menguasai dengan alasan membuat kalkulai politik,

(2) Das andenkende denken, pemikirannya yang memperhatikan, kehadiran mahasiswa sebagi cendekiawan, mampu untuk berpikir, bersikap terbuka, perlu menjadi mahasiswa yang bebas dari mentalitas ikut arus.

Bagaimana mahasiswa memposisikan dirinya dalam konfigurasi kebangsaan ke depan? Dan bagaimana standing point mahasiswa dalam situasi Indonesia saat ini? Mahasiswa memposisikan diri sebagai kekuatan nasional, moral force, social force, pressure group, katalisator perubahan, mengembangkan politik populis—option for the poor, nonmachiavelis, solidaritas universal, non diskriminasi, menjadi garda depan perjuangan HAM, menjadi reference group.

Untuk menjamin  posisi di atas, ada empat fokus perjuangan politik mahasiswa pada saat ini maupun ke depan:

  1. Pemberdayaan masyarakat sipil (civil society)
  2. Penataan system politik yang bermoral
  3. Pembangunan kultur keterbukaan dan demokrasi
  4. Prinsip berpolitik mahasiswa hendaknya berpedoman pada karakter berikut; in principiis, unitas, in dubuiis, libertas, in omnibus, caritas (dalam hal prinsip kita bersatu, dalam hal terbuka kita bebas menentukan pendapat, dalam segala hal harus ada kasih), Mahasiswa terlibat dalam kegiatan politik dalam rangka menempatkan diri sebagai noblesse oblige.

Dalam hal ini, ketika menjajaki kehidupan pasca kampus mahasiswa harus mempersiapkan dan mengekskalasikan diri yang awalnya adalah intelektual tradisionil menjadi intelektual organik-profetik yang berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam menjalankan peran itu hendaknya Anda berpegang pada prinsip moral pertama, Serviens in lumine veritatis, melayani dalam cahaya kebenaran (serving in the light of truth).

Dengan cara demikian  Anda menjalankan sebagian Academic Social Responsibilty.  Dan percayalah apapun yang Anda lakukan, Anda telah mewartakan prinsip moral kedua ”Gloria Dei Vivens Homo, Irenius, Adversus Haereses (memancarkan cahaya kemuliaan Allah penciptanya).

Sekali lagi  Vox Dispulum Vox Dei (suara mahasiswa adalah suara Tuhan). Ite Missa Est, pergilah kalian  diutus. Semoga!

alterntif text