Kepala Seksi Perlindungan dan pemberdayaan BP3TKI Kupang, Timoteus K. Suban, saat penjemputan jenazah TKI di Bandara Eltari Kupang, Kamis 2 Juli 2018 (Foto: Tarsi Salmon/Vox NTT)

Kupang, Vox NTT- Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Kupang Timoteus K. Suban mengatakan, jenazah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang meninggal di Malaysia dari bulan Januari sampai Agustus 2018 berjumlah 63 orang.

“Rata-rata mereka ini diberangkatkan secara illegal. Sehingga tidak ada pemeriksaan kesehatan, sebelum berangkat.  kebanyakan sakit, ada kecelakaan juga seperti itu,” kata Timoteus kepada VoxNtt.com, Kamis siang (02/08/2018).

Baca Juga: TKI Asal Belu Pulang dengan Peti Mati

Timoteus menjelaskan,  tugas BP3TKI ialah memberi pelayanan kepada masyarakat yang bekerja di luar negeri secara prosedural.

“Artinya sesuai prosedural atau aturan yang berlaku, sebelum berangkat ke luar negeri,” ujarnya.

Namun penanganan kasus TKI, kata dia, BP3TKI tidak melihat apakah itu prosedural atau tidak.

“Karena ini juga kita melihat dari definisi TKI sendiri,  itu ada hubungannya dengan kerja. Maksudnya sudah ada majikan para pekerjanya. Dia juga pasti ada terima gaji walaupun terima tau tidak, tapi pasti ada dijanjikan untuk terima gaji. Sehingga dari situ kita melihatnya, makanya kita bantu,” tutur Timoteus.

TKI  illegal di luar negeri negeri, lanjut dia, pihak BP3TKI tidak bisa diperkirakan.

“Ilegal itu kami tahu setelah ada peristiwa atau pengaduan. Itu yang kita tahu,” katanya.

Dia melanjutkan, untuk mengatasi masalah itu, pihak BP3TKI melakukan sosialisasi kepada masyarakat maupun mahasiswa.

Baca Juga: Kematian TKI Masalah Akut di NTT

“Baru-baru ini kami sosialisasi kerjasama dengan mahasiswa Undana. Dikasih pembekalan itu dari BNP2TKI , sehingga pada saat mereka turun KKN menyampaikan kepada masyarakat bagaiman kita bermigrasi yang aman,” tutupnya.

Ada Perselisihan Data

Mariance Hingi, Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) mengatakan, jenazah TKI yang meninggal di Malaysia sejak bulan Januari sampai Agustus 2018 sudah berjumlah 69 orang.

“Kalau tambah dengan ini yang baru tiba tadi, berarti itu sudah 71 orang. Jadi, ada perselisihan. kalau dari pihak gereja-kan pasti berbeda. Ada yang dari aktivis peduli terhadap kemanusiaan dan lain-lain. Kadang-kadang yang datang itu, kalau melalui kantor berita Indonesia sudah menghubungi  BP3TKI pasti itu yang mereka mendata, tapi kalau tidak menghubungi mereka pasti mereka tidak tau,” kata Mariance kepada VoxNtt.com, Kamis, 2 Juli 2018.

 

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Adrianus Aba

alterntif text