Bupati Nagekeo Elias Djo pose bersama dengan delapan Jemaah Calon Haji (Foto: Arkadius Togo/Vox NTT)

Mbay, Vox NTT- Bupati Nagekeo, Elias Djo melepaskan 8 Jemaah Calon Haji (JCH) di rumah jabatan bupati, Minggu (05/08/2018).

Sesuai jadwalnya, setelah acara pelepasan ke-8 JCH itu langsung berangkat menuju Kabupaten Ende.

Pada Senin, 6 Agustus 2018, para JCH kemudian berangkat ke Surabaya melalui bendara H. Arobusman Ende. Kedelapannya masuk dalam kloter Surabaya.

Bupati Elias dalam sambutannya mengaku bahagia karena meskipun dalam keadaan yang penuh keterbatasan setiap tahun selalu ada JCH dari Nagekeo.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga membeberkan data JCH yang mendaftar dari tahun 2011 sampai Juli 2018. Totalnya mecapai 260 orang.

Dari total tersebut, lanjut Elias, yang telah menunaikan ibadah haji sebanyak 36 orang. Sedangkan JCH yang masuk dalam daftar tunggu sebanyak 216 orang.

Bupati Elias menyatakan, dari data yang ada menunjukkan bahwa umat Islam yang berkeinginan untuk ke tanah suci itu jauh lebih besar dari kuota yang ditetapkan.

Dia menambahkan, 8 JCH asal Nagekeo tahun 2018 ini terdiri dari laki-laki sebanyak empat orang dan perempuan 4 orang.

Kedelapannya telah menjalani beberapa serangkaian pembinaan pra manasik haji dan manasik haji selama 4 hari.

“Saya yakin saudara-saudari para JCH telah mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Intinya selalu menjaga kesehatan, kekompakan, dan saling tolong menolong. Karena ini merupakan ibadah yang membutuhkan kekuatan fisik tentunya kita berharap seluruh Jemaah Calon Haji asal Nagekeo untuk bisa menjaga diri dan saling mengingatkan satu sama lain,” kata Elias.

Elias pun berharap kepada para JCH agar dapat mematuhi dan mengikuti segala petunjuk dan arahan yang disampaikan para pembimbing ibadah haji di tanah suci.

“Titip pesan saya untuk para Jamaah Calon Haji asal Nagekeo untuk doakan daerah kita, doakan pemimpin kita, baik di tingkat Provinsi NTT (Gubernur dan Wagub terpilih) sekaligus para pemimpin di daerah kita agar harmonis dan selalu menjaga kerukunan antar sesama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Nagekeo, Antonius Ngga’a Rua dalam sambutannya mengatakan, berhaji merupakan ritual keagamaan. Sebuah peristiwa iman dan momentum, di mana Allah menunjukkan kuat kuasanya kepada umat manusia.

Antonius menyampaikan, berhaji bukan soal strata sosial. Bukan soal kaya dan miskin, begitu pula mampu dan tidak mampu.

Banyak orang yang mampu dan kaya, tetapi tidak bisa berhaji. Karena itu yang paling pertama berhaji adalah peristiwa iman.

Panggilan Allah, kata dia, disposisi kepada batin manusia untuk menjadi tamunya.

Hal ini tentu saja banyak tantangan, rintangan, dan godaan.

“Kami mendoakan Jamaah Calon Haji asal Nagekeo diberi kelancaran dan kemudahan oleh Allah SWT menjalankan ibadah haji, mulai dari berangkat sampai kembali pulang ke tanah air dan rumah masing-masing, semoga semuanya lancar dan menjadi haji yang mabrur dan mabruroh,” imbuhnya.

 

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba

alterntif text