Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Beatriks Rika, Perempuan NTT Peraih Penghargaan Female Food Hero
Feature

Beatriks Rika, Perempuan NTT Peraih Penghargaan Female Food Hero

By Redaksi16 Oktober 20163 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Foto: Ibu Beatriks sedang melakukan uji coba silang tanaman padi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Sikka, VoxNtt.com-Siapa sangka usaha Beatriks Rika, petani asal desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka akhirnya mendapat perhatian dari dunia internasional.

Oxfam, sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional yang berbasis di Inggris dan Rimbawan Muda Indonesia akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Ibu Beatriks sebagai salah satu Perempuan Pejuang Pangan Nasional atas keberhasilannya dalam menciptakan kedaulatan benih bagi para petani di NTT.

Selain Ibu Beatriks ada 8 perempuan lain dari beberapa daerah di Indonesia yang juga meraih penghargaan ini. Ibu Beatrix Rika dipilih menjadi salah satu pemenang oleh karena kontribusinya pada petani di Bhera, Sikka, NTT.

“Ibu Beatriks punya jasa besar dalam menggerakkan pertanian lokal dan memberdayakan komunitas di kampungnya, di Sikka terutama agar petani dapat berdaulat atas benih dan menguasai teknologi,” ujar Wiwid, Project Manager Hak Atas Pangan Oxfam Indonesia kepada media ini, Minggu (16/10).

Penghargaan Female Food Hero atau Perempuan Pejuang Pangan ini dibuat untuk mendorong masyarakat dan pemerintah Indonesia agar memberikan peran yang besar kepada kaum perempuan dalam kegiatan produksi pangan. Selama ini, demikian Wiwid, penghargaan terhadap perempuan di NTT sangat kurang.

“Perempuan tak dihargai, tak dianggap dalam kegiatan produksi pangan. Status mereka dianggap buruh, bayaran lebih rendah ketimbang laki-laki. Pemberian bantuan pemerintah juga cenderung lebih berpihak pada laki-laki,” ungkap Wiwid.

Petani PenelitiIbu Beatriks telah menekuni dunia pertanian sejak usia muda. Ia menanami lahannya dengan padi, jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Perempuan kelahiran Lekebai, 26 April 1986 ini merupakan salah satu kader tani dampingan Wahana Tani Mandiri di kampungnya, Desa Bhera.

Sebagai kader tani, Beatriks yang bergabung dalam kelompok tani Lowo Lo’o ini juga turut mendampingi empat kelompok tani lainnya di desa setempat dengan total anggota 75 orang, yang mana hanya 25 di antaranya adalah laki-laki.

Selain menjadi tempat bertanya petani lain di Desa Bhera, Beatriks juga mendampingi para petani secara khusus terkait teknis dan manajemen usaha tani.

“Semua ini saya lakukan dengan sukarela. Ilmu yang saya pelajari dari teman-teman Wahana Tani Mandiri saya bagikan kepada petani di desa,” ujar Ibu Beatriks kepada VoxNtt.Com saat ditemui di Kantor WTM, Sabtu, (15/10).

Informasi yang didapat dari Staf Media dan Komunikasi WTM, Wilibordus Woda, mengungkapan Ibu Beatriks juga merupakan seorang peneliti yang rajin melakukan berbagai penelitian seperti kaji banding teknologi, kaji terap dan kawin silang untuk mendapatkan benih padi lokal unggul.

Foto: Ibu Beatriks sedang melakukan penelitian kawin silang tanaman
Foto: Ibu Beatriks sedang melakukan penelitian kawin silang tanaman (Foto: Are/VoN)

Saat ini Ibu Beatriks sedang melakukan penelitian kawin silang atas benih padi lokal.

“Alasan kami lakukan kawin silang ini karena selama ini kami bergantung pada benih dari luar sementara benih yang ada belum sempurna serta masih tidak mampu bertahan terhadap hama dan iklim setempat,” ungkapnya.

Berkat ketekunannya ia telah berhasil sampai pada tahap F2 untuk jenis padi baru. Hasil benih F2 akan dikawinkan lagi untuk kemudian menghasilkan benih lokal baru.

“Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, apabila berhasil maka kami akan menghasilkan benih baru yang besar bulirnya, tahan hama, dan tahan terhadap iklim lokal yang panas,” ungkap Ibu Beatriks.

Selain itu, Beatrix Rika juga seorang fasilitator kader posyandu untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi bagi ibu dan anak. Sebelumnya, ia aktif sebagai anggota BPD Desa Bhera Kecamatan Mego.

Ada juga hasil karyanya yang lain yaitu pengolahan hasil keripik pisang yang dijual di tingkat kelompok dan dipasarkan ke kios-kios di Kabupaten Sikka. (Are de Peskim/VoN)

Sikka
Previous ArticleWoleka, Tarian Penyambutan Tamu Masyarakat Sumba Barat Daya
Next Article Sri Mulyani Komit Bangun NTT Melalui Kebijakan Keuangan di APBN

Related Posts

Ketua DPW NasDem NTT Lantik Pengurus DPC di 21 Kecamatan se-Kabupaten Sikka

13 Maret 2026

Kementerian HAM Kawal Pemenuhan Hak 13 Korban TPPO Asal Jawa Barat di Sikka

10 Maret 2026

Lansia di Kupang Bertahan Hidup Bersama Anak 6 Tahun, Berharap Uluran Tangan

9 Maret 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.