Rineldis Maria Anur saat membacakan puisi saat aksi aksi damai merawatkan Kesatuan, Kebhinekaan, dan Keadilan Indonesia di lapangan Motang Rua-Ruteng, Sabtu (20/5/2017) sore (Foto: Adrianus Aba)

Ruteng, Vox NTT- Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 Wita. Suasana sontak menjadi sunyi merinding di tengah keramaian. Yel-yel perjuangan yang sebelumnya berglora sejak pukul 16.00 Wita, perlahan membisu.

Dengan suara serak dan sedikit tinggi, lalu perlahan rendah. Panjang-pendek dan keras-lembutnya suara, ia sungguh jiwai.

Mimik dan gerakan tubuhnya menunjukkan ia sedang berjuang untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Perlahan ia turun mengikuti anak tangga dari podium setinggi satu meter itu. Dari lapangan Motang Rua, Ruteng, Kabupaten Manggarai-NTT ia serukan “Kembalikan Indonesia Padaku, NKRI Harga Mati”.

Adalah Rineldis Maria Anur, deklamator yang sempat membuat ribuan orang merinding karena penampilan panggungnya yang memukau.

Rini, begitu nama panggilnya adalah mahasiswi tingkat III, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, STKIP St Paulus Ruteng.

Rini membaca sajak perjuangan keutuhan NKRI di tengah aksi damai merawatkan Kesatuan, Kebhinekaan, dan Keadilan Indonesia di lapangan Motang Rua-Ruteng, Sabtu (20/5/2017) sore.

“Indonesia oh Indonesia, Kau hadir bukan terlahir dari rahimku. Tapi kau lahir dari perjuangan yang tak sedikit korban dari para pejuangmu,” ujar Rini dalam deklamasinya di atas panggung sisi selatan lapangan Motang Rua-Ruteng itu.

Lewat puisinya, wanita asal Kisol-Manggarai Timur itu mengajak para kaum muda dan seluruh bangsa Indonesia untuk menjaga NKRI.

Dia menyadarkan semua orang bahwa keutuhan Indonesia sedang diganggu. Karena itu, bangsa Indonesia mesti berpikir NKRI harga mati.

“Namun, tau kah kau (Indonesia) kali ini, aku ditampar…tertampar oleh banggaku padamu, karena masih ada sebagian orang tak ingin kau tetap kuat dan tangguh melewati hari-hari penuh badai, kebodohan, kepalsuan, dan bahkan penuh kecurangan,” demikian cuplikan puisi Rini.

Kepada VoxNtt.com usai penampilannya, Rini mengaku puisi tersebut ia susun sendiri. Puisi itu merupakan penggabungan dari beberapa kata para penyair terkenal.

Untuk diketahui, aksi damai merawatkan Kesatuan, Kebhinekaan, dan Keadilan Indonesia itu diinisiasi pihak Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Ruteng.

Puluhan elemen dengan jumlah massanya yang bervariasi turut dilibatkan dan memenuhi lapangan Motang Rua Ruteng.

Salah satu acara dalam aksi tersebut adalah pembacaan pernyataan merawatkan Kesatuan, Kebhinekaan, dan Keadilan Indonesia dari anak-anak bangsa di Manggarai Raya.

Pada momen hari kebangkitan nasional, 20 Mei 2017, mereka menyatakan siap membela NKRI yang dibangun dalam persatuan, kebhinekaan, dan keadilan sosial.

Selanjutnya, anak-anak bangsa di Manggarai menyatakan, siap mendukung pemerintahan Joko Widodo dalam membangun Indonesia menjadi rumah bersama yang damai bagi semua suku,agama, dan ras.

“Mendukung pemerintah untuk membubarkan ormas-ormas yang anti Pancasila dan NKRI”

Mereka juga menegaskan akan menolak manipulasi agama demi nafsu kekuasaan politik dan keserakahan ekonomi.

Selain itu, dalam pernyataannya pula anak-anak bangsa di Manggarai mendesak pemerintah, lembaga yudikatif, dan legislatif untuk menegakkan hukum yang benar, jujur, dan adil bagi seluruh warga Indonesia.

“Hal ini harus berlaku juga bagi Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok”. (Adrianus Aba/VoN)

alterntif text