Petani jagung, Ignas Iking (kiri) bersama seorang petani perempuan dan Bupati Sikka, Ansar Rera usai panen simbolik jagung di Desa Langir beberapa waktu lalu
alterntif text

Maumere, VoxNtt.Com- “Kita belajar sama-sama. Setalah ini kita juga harus coba di rumah masing-masing terhadap ternak-ternak kita di rumah. Jangan lupa untuk membagi ilmu kepada ibu-ibu lain yang tidak hadir hari ini,” ujar Igansius Iking (45) kepada sekelompok ibu yang sedang mendengarkan dengan saksama.

Sore hari itu, Minggu (21/5/2017) Ignasius Iking punya jadwal penyuluhan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Li’an Leron, Dusun Baoloka, Desa Langir, Kecamatan Kangae, Sikka.

Ia memberikan pelatihan membuat “Vitamin Ternak” bagi para ibu di kelompok tersebut.

Iking, demikian ia biasa disapa mengaku tak punya jadwal tetap untuk bertemu petani dampingannya di Desa Langir.

Hal ini dikarenakan Iking tak ingin mengganggu aktivitas petani.

Ia ingin penyuluh mengikuti waktu kosong yang dimiliki petani untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan yang dilakukan di luar kebun.

Tak ayal jadwal kegiatan membuatnya sering berbeda pendapat dengan pihak Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, terutama berkaitan dengan laporan administrasi.

“Kalau pagi sampai sore yah mereka di kebun, ada yang ke pasar dan urusan lainnya. Sore hari mereka harus pulang dan mengurus rumah tangga masing-masing. Kita tidak boleh mengganggu aktivitas mereka. Sebagai penyuluh kita harus menyesuaikan jadwal dengan waktu luang mereka misalnya di malam hari atau pada hari Minggu seperti ini,” terang Iking.

Inilah sepenggal cerita tentang Ignasius Iking, Penyuluh Pertanian Swadaya Desa Langir yang pada tahun 2015 lalu dinobatkan oleh Pemda Kabupaten Sikka sebagai Penyuluh Swadaya Berprestasi.

Ia adalah penyuluh swadaya terbaik dari 61 penyuluh swadaya yang ada di Sikka.

‘Mantan Yesus’ dan Kades

 Belakangan Iking memang sering disapa ‘Mandes’ alias Mantan Kepala Desa oleh warga Langir.

Pasalnya Iganisus Iking pernah menjabat sebagai Kepala Desa Langir selama 2 periode terhitunng sejak tahun 2004 sampai dengan 2013.

Pengabdiannya di Pemerintahan Desa memang cukup panjang bagi lulusan SMP San Karlos Habi dan SMA Negeri 1 Maumere tersebut.

Ignasius Iking (kanan) saat mewakili Gapoktan Wa Wua menerima Penghargaan Adhykarya Pangan Nusantara

Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai ‘Mantan Yesus’ karena pernah memerankan Yesus dalam Tablo Paskah yang digelar di Paroki St Maria Immaculata Asumptha Habi pada tahun 2000 lalu.

Itu merupakan tablo pertama yang digelar di Habi sehingga Iking lantas dikenang dengan cara demikian.

Ditambah lagi dengan totalitas Iking dalam berperan yang tak sengaja memelihara kumis dan jenggot serta rambut gondrongnya selama bertahun-tahun.

Iking adalah putra tunggal almarhuma Lusia Dite.

Sang Ibu membiayainya bersekolah dengan dibantu oleh anggota keluarga lainnya.

Pria kelahiran 19 Januari 1972 ini sesungguhnya ingin menjadi seorang perawat.

Oleh karenanya, usai menamatkan pendidikan di SMP San Karlos Habi, Iking hendak melanjutkan sekolahnya di SPK Sta Elisabeth Lela.

Namun, ia sadar biaya pendidikan akan sangat memberatkan bagi sang ibu yang hanya seorang janda tersebut.

Karenanya, ia kemudaian melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri.

Setelah menamatkan pendidikan menengah atasnya, Iking memutuskan untuk bertahan di kampung halamannya di Wetak, Desa Langir.

Ia memilih bertani membantu sang ibu.

Ia pernah menjabat Kaur Pemerintahan Desa Habi Sejak Tahun 1992 sampai dengan 1999.

Setahun sesudahnya, Desa Langir dimekarkan dari Desa Habi dan Iking diangkat menjadi Sekretaris Desa Langir.

Pengabdiannya di Pemerintahan Desa sempat terhenti ketika ia mengundurkan diri dan memilih menjadi staf Paroki Habi.

Dia tidak hanya bergiat dengan urusan administrasi paroki melainkan kegiatan lainnnya seperti menghidupkan kembali wadah Orang Muda Katolik di paroki tersebut, menginisiasi pelaksanaan tablo Paskah dan membentuk kelompok paduan suara Ave Maria.

Pada tahap ini Iking lebih dikenal sebagai mantan Yesus.

Bertani Membangun Desa

‘Vitamin Ternak’ yang dimaksud Iking adalah cairan yang digunakan sebagai suplemen tambahan bagi ternak dan diberikan bersamaan dengan pakan ternak.

Menurutnya ‘vitamin ternak’ dapat meningkatkan nafsu makan pada ternak, meningkatkan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit dan mengurangi bau pada kotoran ternak.

Uniknya ‘vitamin ternak’ ala Mandes Iking dibuat dari bahan-bahan yang ada di sekitar dapur para ibu.

Ignasius Iking bersama para petani dampingannya

“Vitamin ternak ini kita buat dari bumbu-bumbu dapur seperti kencur, kayu manis, lengkuas, kunyit,daun sirih ditambah air, gula pasir dan dibantu dengan EM4 Peternakan,” ungkapnya.

Selain vitamin ternak, Iking memiliki sejumlah tips lain bagi petani.

Ia juga mengajarkan bagaimana membuat pestisida nabati, dan pupuk alam kepada para petani.

Tidak hanya urusan teknik bertani, para petani dampingannya juga mahir dalam manajamen organisasi dan administrasi kelompok tani.

Tidak heran apabila para petani dampingannya di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wa Wua yang terdiri atas 14 kelompok tani meraih penghargaan Adykarya Pangan Nusantara Tahun 2012.

Menurutnya, petani harusnya bisa sejahtera dengan sektor pertanian.

Ia menyadari belakangan banyak orang muda meninggalkan lahan pertanian karena dianggap tidak cukup menghidupkan lagi secara ekonomi.

Bahkan sebagian petani kemudian memilih untuk merantau ke daerah lain.

“Di sana juga mereka bekerja sebagai petani, menanam sayur dan lain-lain kenapa tidak kita menghidupkan pertanian di desa kita sendiri,” tegasnya.

Soal upah, Iking tak pernah mengeluh. Upahnya sebagai Penyuluh Swadaya hanya Rp 600.000 per bulan.

Menurut Iking, ia masih bisa mendapatkan penghasilan dari hal lain.

Meskipun demikian, ia tetap berharap Pemerintah Desa dapat mengalokasikan anggaran lebih untuk sektor pertanian termasuk insentif bagi Penyuluh Swadaya.

Hal ini dikarenakan Ia percaya petani dapat maju dengan pertanian organik dan yang terpenting adalah petani harus berorganisasi.

“Kita bisa bangun Desa dengan pertanian. Kalau air dan tanah sudah ada, tinggal dorong produktivitas dan pengolahan pasca panen. Dengan demikian, Desa bisa maju dengan pertanian,” tegasnya.

Lebih jauh, Iking menyebutkan saat ini pengetahuan petani terkait pertanian yang baik dan benar perlu ditingkatkan.

Caranya adalah dengan mengadakan sekolah lapangan. Gagasan sekolah lapangan tersebut telah disampaikan ke Pemerintah Desa dan BPD.

Tahun 2017 ini Pemerintaj Desa Langir mengalokasikan anggaran untuk Sekolah Lapangan.

Ide sekolah lapangan ala Iganisus Iking adalah melalui praktik langsung bagi petani di lahan.

Pembelajaran akan difokuskan pada teknik bertani mulai dari pengolahan tanah sampai dengan penanganan hama.

Rencananya sekolah lapangan akan dilakukan sebelum musim tanam ini agar nantinya petani dapat langsung mengujicobakan hasil belajarnya pada musim tanam nanti.

“Dengan sekolah lapangan petani bisa belajar langsung bagaimana bertani yang baik dan benar. Petani bisa menjadi dokter untuk mengatasi hama atau masalah yang terjadi di lahan pertaniannya sendiri,” terangnya.

Begitulah Mantan Yesus dan Mantan Kepala Desa Ignasius Iking dan pengabdiannya kepada para petani.

Apapun penyebutan untuknya dan bagaimana orang-orang di sekitarnya mengenal Iking, sejak masa mudanya Iking akrab dengan aktivitas bersama rakyat di level bawah.

Keterampilannya dan pengetahuannya terbentuk melalui pengalaman panjang suami dari Christina Indrayanti tersebut.

Membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada orang lain terutama para petani mebuat ayah dari Sekar dan Lydia ini jarang berada di rumah.

Pasalnya, beberapa tahun belakangan Iking tak disibukkan lagi dengan kesibukan lain sebagai pengurus koperasi.

Bahkan saat ini ia telah dipilih menjabat sebagai sekretaris Puskopdit.

“Saya punya istri sering marah-marah. Tetapi saya jelaskan baik-baik dan perlahan Ibu (Christina Indrayanti,- red) mulai mengerti. Intinya saya pulang makan di rumah dan punya waktu istirahat juga,” ujarnya sambil tertawa. (Are De Peskim/AA/VoN)