Moses Usfinit (Foto: Eman)
alterntif text

Kefamenanu,Vox NTT-Adalah namanya Moses Timo Usfinit, Pemuda asal Desa Susulaku, Kecamatan Insana, Kabupaten TTU.

Mendengar kisah tentangnya seolah tak akan percaya.

Pasalnya pemuda kelahiran tahun 1986 tersebut, saat ini sudah melanglang buana ke 17 negara dan berbagai kota besar lainnya di dunia untuk menjadi pembicara di berbagai seminar.

Melihat masa lalunya, Moses, demikian ia disapa tidak seberuntung teman-teman tumbuhnya di masa kecil.

Tapi itu tidak menjadi beban baginya untuk meraih mimpi menjadi sosok yang hebat seperti saat ini, dia dikagumi banyak orang.

Maklum Moses hanyalah seorang anak yang lahir dari pasangan suami istri dengan berprofesi sebagai petani di desa Susulaku.

Namun Moses tetap bersyukur dan merasa beruntung karena bermodalkan keluarga petani, ia bisa mendapatkan Ijazah SMK.

Konon, Moses menempuh pendidikan di SMK 1 Kefamenanu, TTU, NTT. Sekaligus akhir dari jejaknya di lembaga pendidikan formal.

Dalam perbincangannya dengan media ini, putra sulung dari lima bersaudara ini, menceritakan bagaiamana kemudian dia bisa menjadi seperti sekaranag.

Menurutnya, menjadi seorang publik speaker yang laku di panggung seminar internasional seperti dirinya tidak melalui proses yang formal.

Dia tak pernah masuk dalam sebuah lembaga pendidikan atau pelatihan khusus.

Ijazah SMK itu adalah satu-satunya modal terkahir Moses yang didapatkannya dari lembaga pendidikan formal.

Dia pun mengaku, menyandang gelar sebagai pembicara sekaligus motivator hebat seperti saat ini murni melalui pembelajaran otodidak.

Namun kata dia, yang paling penting adalah tekad dan semangat dalam diri bagaimana belajar, berusaha untuk menjadi seperti mimpi yang terus merasuk jiwa sepanjang perjalanan hidupnya sejak tamat dari sekolah SMK.

Cerita Moses, sesungguhnya semua orang mempunyai kemampuan untuk bisa menjadi apa saja, sepanjang ada kemauan dan didorong tekad yang kuat.

Maka mimpi itu akan mengalir bagai air sampai akhirnya meraih cita-cita besar sang pemimpi.

Dia juga merasa bersyukur karena dia dilahirkan sebagai anak sulung, yang menyadarkan dia bahwa kelak akan menggantikan orang tuanya untuk mengurusi adik-adiknya, termasuk membiayai mereka sekolah.

Dorongan ini begitu kuat, sehingga membuat Moses berjuang keras meraih mimpinya menjadi seorang motivator dan dia berhasil, sampai pada membiayai Adik-adiknya kuliah.

“Saya ini anak pertama dan tulang punggung keluarga. Setelah tamat sekolah saya harus kerja untuk membantu membiayai sekolah adik-adik saya, dan puji Tuhan sudah ada yang sarjana dan 2 sementara kuliah”ungkap Moses kepada Voxntt.com, Jumat (28/07/2017).

Tak hanya berpikir membangun keluarga, Moses kini bermimpi merubah wajah pendidikan di daerahnya, TTU. Bagi Moses perubahan itu hanya dapat ditempuh melalui sumber daya manusia yang sehat, dan tempatnya adalah di sekolah.

Sekolah harus menjadi lingkungan yang ramah dan dapat membuat anak-anak menjadi betah utnuk belaar.

Karena itu dirinya memiliki harapan besar agar suatu saat anak-anak usia sekolah yang berada di daerah-daerah terpencil, di Kabupaten TTU bisa menikmati fasilitas sekolah yang memadai, terutama dari segi ketersediaan buku dan fasilitas pendukung saat proses belajar mengajar.

Hal ini dilakukan Moses karena terisipirasi dari beberapa negara yang dikunjungunya selama ini, seperti Singapore, Dubai , Australia, Cina, Timor Leste , Malaisya.

Dia melihat ada perbedaan mendasar antara sistem pendidikan di negara-negara itu dengan yang diterapkan di indonesia.

Kata dia di beberapa negara yang telah dikunjunginya, pembelajaran itu tidak berpatokan pada kegiatan belajar di dalam kelas.

“Sejak kecil juga anak-anak di negara maju sudah mendapat didikan dari orang tuanya ditambah dengan sistem pendidikan yang ramah anak. Mereka juga sudan mulai mengikuti les private sejak usia dini” Cerita Moses.

Moses punya mimpi agar perlahan dia menirukan hal seperti ini dan diterapkan di daerhanya yakni dengan membangun budaya baca.

Selain membangun budaya baca, ia juga ingin membuka sekolah private di kampung-kampung terpencil.

Sebagai langkah awal, beberapa waktu lalu dirinya bersama Kabid Diklat dan Pelatihan, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) TTU, Irenius Abi, sudah turun ke desa-desa terpencil untuk membagi buku bacaan secara gratis kepada anak-anak usia sekolah.

Selain itu, ia juga turut membantu mendanai kegiatan pentas inagurasi budaya yang digelar oleh pemuda Desa Letmafo beberapa waktu lalu.

Irenius Abi kepada dirinya memberi kesan sebagai orang yang rendah hati dan mempunya visi perubahan.

Karena itu Abi mengaku sangat mendukung langkah anak kampung ini untuk terus berkarya terhadap masyarakat, terutama dalam mengentaskan kemisikinan di bumi kota sari itu.

Smentara Moses sendiri mengaku, dirinya melakukan ini tanpa beban, karena menurutnya dia melakukan hal ini bukan karena ada kepentingan sesaat yang ingin digapainya, dia lakukan hal ini murni investasi masa depan untuk anak-anak di daerahnya.

Agar kelak, generasi TTU dapat memperoleh sumber daya manusia yang baik dan berdaya saing.

Sehingga dirinya selalu berharap agar tidak ada pandangan miring terkait langkah kecil yang dibuatnya selama ini.

“Setiap saya dapat berkat saya selalu sisihkan untuk mendukung cita-cita saya ini, karena saya punya mimpi suatu saat nanti anak-anak di kampung menjadikan buku seperti HP yang selalu dibawa kemana-kemana dan selalu dibuka setiap saat,”tegasnya.

Selama ini Moses tinggal di Jakarta dan beberapa hari ini berada di daerahnya untuk mengelilingi beberapa sekolah guna memberikan bantuan buku-buku.

Namun saat ini dia sudah kembali lagi ke Jakarta untuk mempersiapkan pembangunan sekolah private yang direncanakannya. (Eman/BJ/VoN)