Sekelompok anak sedang memainkan gong (foto: Stifan da Gama)

Maumere,VoxNtt.Com- ‘Gong waning’ selama ini telah mendunia sebagai alat musik tradisional asli Maumere.

Perpaduan bunyi beberapa gong, dengan ‘waning anak’ dan ‘waning ina’ serta ‘saur’ yang dibunyikan dengan berbagai irama senantiasa mengiringi tarian-tarian oleh etnik-etnik yang ada di Sikka.

Meskipun demikian, penelusuran VoxNtt.Com menemukan ‘gong waning’ bukanlah merupakan alat musik asli Maumere. 

Tokoh adat asal Doreng, Marselinus Mo’a (67) menyatakan di masa lampau warga tak mengenal gong waning. 

“Seingat saya dulu yang pertama sekali menggunakan gong waning itu orang-orang Hewokloang. Di kampung kami gong waning baru ada sekitar tahun 70-an,” terang Marselus saat ditemui di kediamannya di Kampung Bora, Desa Watumerak, Kecamatan Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka pada Sabtu (16/9/2017) lalu.

Menurut ‘tana pu’an’ Bora tersebut harga gong waning saat itu sulit dijangkau. Selain itu gong waning tidak diproduksi di Maumere. Khususnya gong biasanya didatangkan dari Sumba. 

Jauh sebelum hadirnya gong waning masyarakat di Sikka menggunakan letor. Letor terbuat dari bilahan kayu. 

“Orang tua kami dulu menggunakan letor dan gendang serta ‘teren’ dari bambu,” ungkap Marselinus.

Hal senada disampaikan oleh Koordinator sanggar budaya ‘Bliran Sina’, Yoseph Gervasius ketika dikonfirmasi media ini pada Selasa (19/9/217) lalu. 

Menurut Gervasius jauh sebelum adanya gong waning masyarakat di Sikka memainkan alat musik yang terbuat dari bilah bambu dengan nada yang sama dengan nada ‘gong waning’ saat ini. 

Alat musik tersebut dinamai ‘wala’. Selanjutnya ‘wala’ dari bambu berganti dengan ‘letor’ yang terbuat dari kayu. Belakangan waraga mulai mengenal gong.

Gervasius menilai ‘gong waning’ saat ini hanya berubah bentuk atau bermetamorfosis dari ‘wala’ dan ‘letor’. Irama lah yang menjadi cirri khas musik tradisional Maumere. 

“Meskipun pakai gong dan waning tetapi iramanya yang dimainkan tetap sama yaitu bladu baba, sora dan leke,” terang Gervasius.

Meskipun demikian, baik Gervasius maupun Marselinus tak membantah bahwa pada masa sekarang gong waning telah dianggap sebagai alat musik asli Maumere. 

Keduanya berharap anak-anak muda tidak hanya mengenal gong waning tetapi juga letor dan alat musik tradisional lainnya. (Are de Peskim/VoN).

alterntif text