Anggota kelompok tani Rinjani bersama para petugas. (Foto: Hengky)

Larantuka, Vox NTT- Program pemerintah pusat membuka areal persawahan baru di Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur pada tahun 2016 lalu mulai menuai hasil.

Jumad, 08/ 12/ 2017 salah satu kelompok tani desa Hewa, Rinjani melakukan panen padi perdana atas lahan persawahan baru tersebut.

Hadir pada panen perdana ini Kepala Bidang Sarana dan Prasaran Dinas Pertanian Propinsi Nusa Tenggara Timur, Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur, perwakilan pemerintah kecamatan Wulanggitang, Kepala UPT Pertanian Kecamatan Wulanggitang, Babinsa Desa Hewa, perwakilan pemerintah desa Hewa, dan Kepala SMPN 3 Wulanggitang.

Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Pertanian Propinsi Nusat Tenggara Timur, Margaretha Triyulianti pada kesempatan tersebut meminta masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan atas panen perdana yang dilakukan dan menjaga serta merawat lahan persawahan yang ada demi anak cucu.

“Mari kita bersyukur atas panen perdana hari ini. Ini berkat kasih Tuhan. Kita juga harus menjaga dan merawat sawah ini agar bisa dinikmati anak cucu kita nanti,” kata Tri.

Sementara itu pendamping kelompok Rinjani, Silvianus Doni Ola mengatakan, tujuan dilaksanakannya panen oleh kelompok tani Rinjani adalah agar dengan memperoleh produktivitas yang ada, dapat memotivasi anggota kelompok untuk lebih dalam memberikan sentuhan teknologi yang lebih inovatif.

Selain itu, untuk membuktikan kepada pemerintah bahwa kelompok Rinjani adalah  kelompok yang mempunyai niat untuk belajar dan bekerja sama, memberi stimulant kepada petani lainnya.

Ini juga untuk meyakinkan masyarakat bahwa setiap ada masalah dalam budaya Better Farming pasti ada solusi, dengan mengetahui setiap produktivitas maka dapat menjadi potensi untuk terisinya pengetahuan dan keterampilan bagi kelompok Rinjani pada level Better Farming, sehingga pencapaian target berikutnya adalah Better Business.

Lebih jauh Doni menjelaskan, produktivitas “pemula” panen perdana poktan Rinjani dengan menggunakan 5 sampel pilihan dengan kualifikasi paling baik (sampel 1), baik (sampel 2 dan 3), sedang (sampel 4) dan kurang baik (sampel 5).

Sampel 1 menghasilkan 8,0 kg GKP (gabah kering panen), sampel 2 menghasilkan 7,6 kg GKP, sampel 3 menghasilkan 7,0 kg GKP, sampel 4 menghasilkan 5,7 GKP, dan sampel 5 menghasilkan 5,7 GKP.

Ditotalkan menghasilkan 33, 1 kg GKP. Jumlah ini dibagi 5 sehingga mendapatkan 6, 62. Hasil ini dikalikan 16 sama dengan 106.

Kemudian 106 dikalikan 100 sehingga hasilnya 10.600 kg GKP atau sama dengan 10, 6 ton GKP per hektar.

“Dari hasil perhitungan ini kita memperoleh data produktivitas “pemula” panen perdana poktan Rinjani adalah 10,6 ton GKP per hektar. Ke depan kita berusaha untuk tingkatkan lagi dengan penerapan teknologi dalam pengolahan lahan yang lebih besar.

Pada awal ini baru 50% penggunaan teknologi. Target kita tanam kali berikut bisa sampai 60-70%.” Kata Doni.

Salah seorang kelompok tani Rinjani, Kristoforus Uran menjelaskan bahwa kelompok tani Rinjani dibentuk pada tanggal 29 Juli 2017 dengan tujuan secara bergotong royong bekerja sebagai petani pada lahan persawahan demi mewujudkan program Petani Sejahtera.

Jumlah anggota kelompok Rinjani pada awal terbentuk adalah 13 orang dan dalam perjalanan bertambah menjadi 21 orang.

Kelompok Rinjani mengolah memiliki lahan seluas 21 hektar dimana 12 hektar sudah diolah. “Kami awalnya berjumlah 13 orang dan dalam perjalanan bertambah menjadi 21 orang.

Dan kelompok kami mengolah lahan seluas 12 hektar dari total 21 hektar, “ kata Rus. Setelah acara panen perdana, dilanjutkan dengan dialog.

Dalam dialog anggota kelompok tani Rinjani mengeluhkan kurangnya peralatan traktor, pupuk dan bibit.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepada Bidang Sarana Prasaran Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur, Yohanes Anjong mengatakan akan menyampaikan kepada pimpinan.

“Semua keluhan kelompok Rinjani ini akan saya sampaikan kepada pak Kepala Dinas,” kata John.

Penulis: Henky Ola

Editor: Boni

alterntif text