Illustrasi (Foto: Istimewa)

Oleh: Filmon Hasrin

Mahasiswa STFK Ledalero, Flores, NTT

Masyarakat telah bosan mendengar, melihat dan menyimak, pelbagai kasus pelecehan terhadap nilai demokrasi yang ditandai dengan adanya money politic yang semakin gencar dipraktekkan.

Sampai saat ini fenomena jahat ini tengah merajalela dalam praktek demokrasi Indonesia. Tentu saja hal ini menjadi fakta buruk. Pasalnya selalu menodai kesakralan nilai demokrasi, money politic jelas melahirkan pemimpin yang tidak berkualitas.

Rakyat pencinta demokrasi, yang konon suaranya ialah suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei), “digocek” sedemikian lincah dan indahnya hingga suara hati dan kertas suaranya takluk ketika tertimpa tendangan uang.

Sungguh pun kejahatan ini berbanding terbalik dengan politik tak beradab,  toh tetap ada dan kontinyu di banyak sudut negara ini. Pertanyaannya: apa alasan dan hadirnya money politic di dunia politik yang idealnya beradab dan rasional?

Dalam tataran ideal, politik itu merupakan sesuatu yang baik dan tak dapat ditolak. Ia baik karena menjunjung kehidupan benar dan baik dalam kebersamaan. Ia tak dapat ditolak karena pada dasarnya tak ada manusia yang hidup sendiri. Manusia perlu bergaul dengan orang lain dalam kehidupan bersama. Soal kehidupan bersama itulah politik.

Dibandingkan dengan makhluk lain, hanya manusia yang memiliki akal untuk berpikir baik dan benar. Hewan tidak memilikinya.  Hal itu (akal mencari yang baik dan benar) yang membedakan kebersamaan hewan yang disebut kumpulan dan kebersamaan manusia yang disebut politik. Fakta money politic yang berjalan dalam dunia politik sesungguhnya menegasi substansi politik itu sendiri. Sebab dengan money politic, akal manusia yang hidup bersama itu tidak digunakan untuk mengejar kebaikan dan kebenaran dalam cara memenangkan posisi politik tertentu, money politic jelas dipraktekkan.

Di sana terjadi penghamburan uang oleh para calon, pemodalnya, serta tim pemenangnya itu meninggalkan keadaban kehidupan bersama antarmanusia dalam ruang politik. Oleh karena itu, tindakkan money politic yang dimainkan para aktor tersebut, bukanlah tindakkan dermawan atau bentuk perhatian yang patut dipuji, melainkan pengarahan komunitas manusia untuk menggunakan akalnya.

Dalam pandangan mereka, para calon pemilihnya seakan tak memiliki akal untuk berpikir dan bertindak dalam pengarahan kehidupan bersama ke arah yang baik dan benar.

Jadi jelaslah money politic itu buruk dan harus ditolak. Sayangnya, kenyataan politik Indonesia hari ini ia dapat hidup dan berkembang secara bergenerasi. Yah, kebutuhan akan orang memang begitu besar, termasuk di tahun 2000-an ini. Kini masyarakat politik tinggal menanti wajah politiknya pada tanggal 27Juni 2018 mendatang. Rakyat Indonesia sendiri yang akan menentukan dan menampakkan wajahnya, entah sebagai komunitas antarmanusia yang berakal, atau komunitas antarmanusia yang tak peduli akal. Apabila wajah komunitas politik, artinya kebersamaan makhluk berakal yang dicari, maka beberapa hal patut diperjuangkan hari ini:

Pertama, sosialisasi terkait substansi hidup politik. Ini merupakan salah satu bentuk pendidikan untuk membantu mengeliminasi kekacauan politik dewasa ini supaya masyarakt dapat mengerti dan mendalami tentang demokrasi/etika politik menuju politik yang beradab. Artinya bagaimana menjalankan politik yang baik dan benar tanpa mencederai hati nurani seluruh rakyat. Kita dituntut untuk memberi komentar terkait perjalanan politik yang kurang tepat sasaran.

Kedua, membangun budaya politik sakral. Kesakralan dalam berpolitik tentu tanpa harus disingkirkan dengan pemikiran dan sikap yang tegas. Kebiasaan-kebiasaaan dalam berpolitik yang baik perlu diusahakan  seperti bersikap dan berkomunikasi dengan sopan, penciptaan kondisi kompetisi yang sehat dan aksi politik yang tidak memalukan.

Ketiga, tegakkan UU terkait praktik money politic. Hukuman yang tegas dan jelas perlu ditegakkan secara sungguh-sungguh bagi para aktor politik uang, entah pemberi maupun penerima uang. Dengannya kesungguhan peringatan akan bahaya dan buruknya politik uang tertanam ke semua elemen masyarakat.

Akhir kata, negara Indonesia membutuhkan sosok-sosok kepribadian para aktor politik yang berkualitas baik dari cara berpikir maupun bertindak dan harus mampu membawa perubahan untuk bangsa dan negara yang berdemokrasi.

Di tengah-tengah percaturan dan kompetisi politik yang sementara terjadi, sepantasnya kehidupan politik itu didominasi oleh orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam berpolitik. Dengan demikian mampu terdekati dan tercapailah kehidupan politik beradab yang menghargai demokrasi yang sejati. MARI MENCINTAI POLITIK YANG BERADAB!