Marbawi sedang memberi materi tentang revolusi mental dalam workshop pangan lokal di Detusoko, Ende, Flores (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Ende, Vox NTT-Generasi milenial dituntut untuk menggunakan media sosial secara bijak dan inovatif.

Pesatnya perkembangan teknologi digital sampai ke pelosok terpencil Indonesia, justru menjadi tantangan tersendiri bagi investasi generasi di masa yang akan datang.

Salah satu contohnya, kasus “hoax” Ratna Sarumpaet yang bergerak begitu cepat hingga mengalihkan konsentrasi bencana alam di Donggala dan Palu.

Untuk menyelamatkan itu, Perhimpunan Petani Pangan Lokal (P3L) NTT yang dikomandani Maria Loretha memandang perlu  adanya workshop tentang revolusi mental dalam pelayanan publik.

Work shop ini diharapakan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap pangan lokal khususnya bagi generasi milenial di tengah maraknya hoaks menjelang tahun politik 2019.

P3L memang tidak semata membangkitkan semangat masyarakat untuk menghidup kembali pangan lokal di NTT. Tapi juga turut prihatin dengan kondisi saat ini yang mengancam generasi mileneal.

“Mental anak muda bisa terjangkit virus hoax. Karena itu kita harus mengarahkan mereka untuk berinovasi di media sosial agar tidak terjebak dalam konten-konten negatif,” kata Perwakilan Gugus Tugas Revolusi Mental, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK Republik Indonesia, Marbawi, dalam workshop di Detusoko, Kabupaten Ende, NTT, Jumat (5/10/2018).

Marbawi menilai slogan revolusi mental yang digagas Presiden Joko Widodo belum begitu sempurna dijalankan.

Menurut Marbawi, sebagai bangsa yang besar dan semakin diperhitungkan di kancah internasional, Indonesia memiliki banyak tantangan yang harus diselesaikan.

Membangun Indonesia, kata dia, berarti membangun mental masyarakat sehingga gagasan revolusi mental dapat bergerak secara masif.

Namun, harapan itu pupus. Pupus dikalangan elit yang sesungguhnya sebagai panutan generasi milenial.

Ia mengatakan, gagasan revolusi mental perlu diterjemahkan lebih lanjut terutama di lembaga sekolah dan keluarga. Hal ini dimaksud agar generasi milenial lebih menciptakan pemikiran atau inovasi-inovasi baru.

“Generasi milenial harus mampu menceritakan kondisi daerahnya di media sosial. Media sosial dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk berinovasi. Bukan menyebar informasi bohong yang hanya merugikan diri sendiri. Nah, itu yang belum revolusi mental,”ucap Marbawi di hadapan kelompok tani sorgum.

Ia menegaskan, para petani sorgum bisa menceritakan tentang keunggulan tanaman sorgum di media sosial. Petani dapat mencari literatur tentang tanaman sorgum untuk menambah kekayaan pengetahuan tentang sorgum.

“Bukan menciptakan paradoks baru yang merugikan banyak orang. Kita harus sadar bahwa generasi milenial itu mengikuti, turut serta,”kata dia.

Generasi Milenial

Doktor Nicolaus Uskoni, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, Jakarta dalam tulisannya menyebutkan ada empat karakter dasar yang dimiliki generasi milenial. Menurutnya, karakter itu bahkan bisa berkembang hingga waktu yang tak ditentukan.

Pertama, kemampuan mereka mengakses teknologi informasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Media sosial menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari.

Internet pun menjadi sumber informasi dan pengetahuan mereka. Apapun kebutuhan informasi yang mereka perlukan, sebagian besar mereka peroleh dari internet dan media sosial.

Kedua, generasi milenial lebih memiliki keberanian dalam berinovasi. Mereka lebih termotivasi menciptakan startup atau merintis usaha dan bisnis baru. Karena itu merupakan bagian dari tantangan yang membuat adrenalin mereka mengalir.

Ketiga, generasi milenial lebih menyukai independensi dan kemandirian. Independensi ini merupakan kebutuhan yang lahir dari gaya hidup yang lebih bebas dan mandiri melakukan sesuatu.

Keempat, generasi milenial lebih menyukai sesuatu yang instan. Mungkin ciri ini bisa dipersepsikan secara positif atau negatif. Positifnya, generasi ini menyukai sesuatu yang praktis dan simpel.

Sementara negatifnya, generasi ini mungkin memiliki daya tahan yang lebih rendah terhadap tekanan dan stres karena terbiasa melakukan sesuatu dengan cepat dan instan.

Namun demikian, Nicolaus merekomendasi beberapa hal pokok yang mungkin menjadi alternatif untuk mencegah.

Kue kering bahan dasar sorgum buatan orang muda Detusoko yang dipimpin oleh Nando Watu (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Orang dewasa atau pemimpin perlu mendorong inovasi, kreativitas, dan jiwa entre preneurship generasi baru itu. Semua itu hari dirancang dengan baik dan kongkrit.

Sementara Marbawi menyebutkan, revolusi mental generasi milenial dengan menciptakan inovasi-inovasi baru justru sangat diperhitungkan. Generasi milenial justru lebih maju satu langkah dari generasi sebelumnya.

Namun, menurut dia, sisi negatif generasi milenial mesti menjadi tanggung jawab bersama. Karena hal ini sangat mempengaruhi harkat dan martabat bangsa.

Kebangkitan Pangan Lokal

Agar generasi milenial dapat berinovasi, tentu perlu adanya pemimpin milenial pula. Kepemimpinan milenial masa kini dalam hal ini adalah generasi baru yang lahir di era 1980-an.

Sebab pola kepemimpinan milenial tidak sama dengan kepemimpinan lama dari generasi sebelumnya. Tahun kelahiran 1980-an itu penting karena generasi tersebut saat ini memasuki masa paling produktif.

Marbawi dan Pegiat Sorgum Maria Loretha menyebutkan pemimpin milenial perlu merevolusi mental untuk memimpin generasi milenial berikut.

Dalam hal bertani, kebangkitan pangan lokal mesti menjadi prioritas pada generasi milenial. Revolusi mental pun menjadi hal sangat penting. Sebab, zaman semakin berubah, keberadaban semakin terancam.

Maria mengatakan, kebangkitan pangan lokal di NTT merupakan kebangkitan diri sendiri. Sebab, NTT merupakan daerah yang kaya dengan pergerakan kehidupan bidang pariwisata yang sedang bergegas cepat.

Pangan lokal (sorgum) misalnya, menjadi bahan makanan yang sangat elit. Sorgum akan menjadi makanan alternatif dengan tingkat nutrisi tinggi berdasarkan hasil kajian IPB Bogor.

Untuk membangun ketahanan pangan yang kukuh, jelas Maria, pangan berbasis sumber daya lokal patut dibangkitkan sebagai pilar kedaulatan pangan. Namun, tantangan besar adalah sumber daya manusia yang erat kaitannya dengan berbagai jenis pangan yang dikonsumsi.

Maria mengusulkan, program mengenalkan dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap pangan lokal harus dimulai sejak anak usia sekolah. Untuk membangkitkan itu, maka perlu adanya kantin sekolah yang menyiapkan produk olahan pangan lokal.

Langkah ini untuk menggalakkan pengenalan atau kampanye pangan lokal untuk membangkitkan semangat generasi milenial.

Rekomendasi lain adalah, pihak sekolah harus menyusul kurikulum sebagai bahan mengajar tentang pangan lokal. Sistem pembelajaran yang hendak dilakukan adalah memperkenalkan berbagai jenis pangan lokal yang saat ini tidak dikenal oleh generasi milenial.

Pengenalan sejak dini, kata Maria, patut dimaknai sebagai langkah awal kebangkitan pangan lokal guna menepis bentuk penjajahan baru dibidang pangan. Seiring dengan itu, amat perlu dikaji apakah masyarakat mampu memposisikan produk pangan lokal sejajar dengan pangan impor baik mutu maupun harganya.

Penulis: Ian Bala