Lemna Minor (Foto: row openingbogspot.com)

Kupang, Vox NTT- Di tengah harga pakan yang tinggi serta kesulitan untuk mendapatkan asupan tambahan nutrisi ternak babi, dosen Politeknik Pertanian (Politani) Kupang, Antonius Jehemat dan Donatus Kantur  muncul sebagai pembawa kabar gembira bagi para peternak babi di Provinsi Nusa tenggara Timur (Prov. NTT).

Keduanya, ingin memperkenalkan kepada masyarakat NTT, Lemna sp. Dukweed, dalam sebutan lain. Lemna Menurut Antonius dan Donatus adalah, tanaman liar yang bisa bertumbuh di mana saja, baik di daerah tropis, dingin maupun daerah panas. Intinya daerah tersebut dialiri air sepanjang tahun.

Drs. Tjandra Crismadha M.Sc., peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan, Helaian daun berukuran 6-8 mm dengan satu batang akar yang menempel di bagian bawahnya itu dikenal dengan nama Lemna.

Menurut Tjandra, Lemna di Indonesia adalah jenis Lemna perpusilla Torr, dikenal dengan sebutan lokal mata lele. Tumbuhan ini bersifat kosmopolitan atau bisa tumbuh di mana saja di daerah tropis, terutama pada perairan tergenang di ketinggian rendah hingga sedang.

Walaupun sering tumbuh di atas genangan air limbah, tumbuhan ini ternyata memiliki kandungan protein cukup tinggi dan dapat digunakan sebagai alternatif pakan ikan, unggas, ternak, juga mamalia. (Bdk: lipi.go.id/Humas LIPI, 20 Oktober 2015).

Kepada voxntt.com, Selasa (09/10/201) malam di rumah Antonius, mereka menjelaskan, kurang lebih tiga bulan terakhir, kedua sosok yang ahli pada bidangnya masing-masing, Antonius di bidang peternakan dan Donatus di bidang tanaman berhasil melakukan uji coba sekaligus meneliti kasiat tanaman tersebut dalam sistem pertanian terpadu yang diterapkan di lokasi usaha ternak babi Alfonsius Salon sebagai mitra di Tilong, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Dikatakan mereka, kegiatan itu merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) atau pengabdian masyarakat. Kegiatan ini juga dilakukan setelah mendapat persetujuan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) di Kemenristekdikti RI.

Tiga bulan bersama Alfons, keduanya dengan tlaten membudidaya sekaligus mendampingi Alfons dalam mengaplikasikan sistem pertanian terpadu dan cara tepat pemberian Lemna kepada babi.

“Beberapa tahap penelitian kami sudah lakukan dan memang hasilnya membuktikan bahwa dia bisa mendukung pertumbuhan ternak babi. Dari situ, kita coba kembangkan penenerapan pertanian terpadu bagi peternak babi dengan mengintegrasikan tanaman lemna,” jelas Antonius dan Donatus.

Sebelumnya bersama Hivos, Lembaga Swadaya Masyarakat, Antonius pernah mendampingi masyarakat di Pulau Sumba untuk melakukan budidaya Lemna yang terintegrasi dengan usaha peternakan (babi) dan perikanan (nila). Hasil yang dicapai kelompok peternak pun sangat baik dengan hasil yang membanggakan.

Ketika ditanya, apa motivasi mereka mereka melakukan penelitian dan mengaplikasian sistem pertanian terpadu berbasis Lemna itu. Mereka menyampaikan, babi adalah salah satu komoditi unggul yang menjanjikan perbaikan ekonomi petani dan peternak di NTT.

Karena itu, jelas mereka, sangat penting peternak di NTT mengetahui cara tepat memelihara babi berbasis Lemna agar kualitas babi yang dihasilkan baik, tanpa harus membeli makanan di toko.

Lemna, Berprotein Tinggi

Walau menjadi makanan Babi, Bebek, Ikan, Belut dan Katak, Lemna bukanlah makanan dasar melainkan makanan tambahan. Harus dicampur dengan ransum atau makanan dasar babi. Hal ini, karena Lemna adalah tanaman berair, kandungan airnya sangat tinggi, mencapai 94 %. Sementara bahan kering cuma 6%. Keunggulan Lemna, mempunyai zat protein yang sangat tinggi, berkisar 24-48%. Selain protein, dia juga mempunyai kandungan asam amino setinggi minyak ikan.

Namun,  kandungan zat-zat tersebut sangat bergntung pada kecukupan nutrisi saat melakukan budidaya. Mereka menjelaskan, Lemna akan mencapai nutrisi yang tinggi kalau pemupukannya menggunakan bio slurry (limbah terakhir dari bio gas), bisa juga menggunakan bokasi. Kedalaman genangan serta suhu air harus terukur. Pengalaman mereka, genangan air yang bagus untuk lemna adalah 20 cm dengan suhu 27-30%. Ideal 28%.

Lemna (Foto: dis coverlilife.org)

Mengingat Lemna sekedar makanan tambahan, maka jenis bahan makanan yang cocok untuk dipadukan dengan Lemna adalah sebagai berikut: Jagung, Katul/dedak, umbi-umbian, sorgum, gandum, biji kapuk, jewawut, dan jenis biji dan kacangan lainx, tepung daun lamtoro, nira lontar (palm juice) dan sebagainya, Sumber energi.  Minyak kelapa, lemak hewani, dsb (sumber lemak dan energi)

Tepung ikan, susu skim, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kacang hijau, tepung bekicot, tepung cacing, tepung darah, daun lamtoro, lemna sp. (Protein) Tepung tulang, tepung kerang, tepung garam dapur, mineral mix, dsb sebagai sumber Mineral.

Sementara takarannya, juga harus diatur sesuai dengan usia babi. Untuk babi kecil, tidak boleh lebih dari 5%. Misalnya, kalau jumlah makanannya 1 kg maka, 4 atau 5% dari 1 kg itu adalah Lemna. Kalau lebih akan mengalami gangguan pencernaan karena kandungan air yang tinggi. Sementara untuk babi besar 30%. Kalau makanan yang dikasih 2 kg maka 30% dari 2 kg adalah Lemna.

Konsistensi dengan pola pemberian makanan seperti ini maka, pertumbuhan babi sangat cepat dengan bobot, 0,5-09 per hari.

Sebagai contoh, diceritakan Antonius dalam uji coba yang ia lakukan, babi berusia 4 bulan, berat 60 kg. Anton memeliharanya menggunakan Lemna. Setelah 32 hari, berat babi tersebut berubah menjadi 103 kg.

Dia menambahkan, babi yang sejak usia kecil dikasih makan menggunakan lemna akan memiliki bobot yang lebih bagus yakni, selama lima bulan berat badanya berkisar 86-90 kg.

Selain membantu pertumbuhan, Lemna jelas Antonius juga akan membantu peningkatkan produktivitas hormon babi. Diceritakannya, setahun yang lalu seorang Ibu dari Sumba yang pernah didampinginya menyampaikan, beberapa tahun babi milik ibu itu tidak pernah beranak walau dikawinkan setiap tahun.

“Setahun yang lalu saya diinformasikan seorang Ibu di Sumba. Pa Anton terima kasih banyak, saya punya babi selama beberapa tahun tidak pernah beranak, setiap tahun kawin tapi tidak bunting. Setelah dikasih Lemna, ini tahun kita kawin dan beranak, 16 ekor,” tutur Antonius sambil memperlihatkan pesan Ibu itu melalui kolom komentar di FB miliknya.

Sitem Budidaya Mudah dan Murah

Menurut Antonius dan Donatus, budidaya Lemna tergolong mudah dan murah. Sebab, keuntungannya sangat banyak tetapi prosesnya tidak menguras energi dan biaya yang besar. Malahan mengurangi biaya, dengan menerapkan sistem pertanian dan peternakan terpadu itu.

Usia Lemna adalah 4-5 hari pasca tanam. Benih segenggam dapat menghasilkan Lemna satu kolam penuh berukuran satu meter persegi yang terbuat dari terpal. Kalau lewat dari lima hari, maka daunnya akan menguning lalu tenggelam, mengendap dan mati. Karena itu 4-5 hari harus dipanen. Usai panen, yang tersisa akan bertumbuh dan berkembang lagi. Sebab perkembangbiakan Lemna terjadi setiap 16 jam.

Sistem budidaya Lemna (Foto: unsurtani.com)

Lemna jelas mereka bukan makanan olahan, melainkan makanan yang dikasih dalam keadaan mentah. Bukan tidakk isa diolah menjadi tepung, melainkan proses cukup sulit dan membutuhkan persediaan yang banyak.

“Karena untuk mendapatkan 1 kg tepung saja itu butuh 16 kg Lemna segar. Sementara untuk mendapatkan satu kilo segar kita butuh luas lahan 15-20 meter persegi,” jelasnya.

Dia menyarankan, agar rotasi stok pakan cadangan ini stabil maka caranya, kalkulasikan, berapa populasi babi, berapa stok pakan sehari, disesuaikan dengan jumlah kolam sehingga mampu memproduksi sesuai kebutuhan.

Dalam konsep pertanian terpadu dengan peternakan babi itu yakni, beriklus. Misalnya, babi menghasilkan kotoran, dijadikan bio gas, limbah dari bio gas (bio slurry) dijadikan sebagai pupuk Lemna, lemna dijadikan makanan babi.

Manfaat lain dari Lemna adalah:

  • Mengngurangi penggunaan pakan yang mengandung zat kimia
  • Melestarikan alam dan mengurangi pencemaran lingkungan dari limbah peternakan babi
  • Biaya pakan ternak babi menjadi lebih murah
  • Produksi ternak babi yang efisien dan berkelanjutan

Harapan besar dari kedua orang yang masing-masing menyukai ternak dan tanaman ini, Lemna bisa membantu memperlancar usaha peternak serta menggurangi biaya pembelian pakan untuk peternak di NTT.

“Kita harapkan bermanfaat juga untuk menekan biaya pakan-pakan itu,” ucap mereka.

Di NTT menurut mereka, Lemna ini belum dikenal luas. Mereka berharap, hasil percobaa yang mereka lakukan dapat menjadi rekomendasi pentiing bagi petani dan perenak di NTT. Di beberapa wilayah di Jawa menurut mereka sudah banyak yang menerapkan. Tetapi di sana mereka lebih fokus ke Ikan, dan Unggas seperti bebek dan itik.

Namun mereka mengakui, beberapa waktu ke depan akan ada pengusaha dari Jakarta yang ini melakukan budidaya Lemna di Mbay Nagekeo dalam ukuran yang sangat besar.

Terbantu Karena Lemna

Selain penjelasan Antonius dan Donatus, Alfos sebagai mitra juga memberikan testimoni yang sama dengan penjelasan kedua dosen itu. Alfons mengaku, Lemna sangat bermanfaat untuk pemberbaikan kualitas.

“Senang karena ada perbaikan kualitas ternak dengan memberikan Lemna.  Mereka juga mengajarkan cara mengembangkan Lemna. Selain untuk pengembangan Lemna mereka juga mengajarkan tentang pemanfaatan pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak itu untuk tanaman Tomat, Pepaya Kalifornia dan tanaman lainnya,” aku Alfons.

Alfons juga mengaku senang karena kehadiran Antonius dan Donatus dalam konsep yang mereka tawarkan sangat membantu.

“Ya, itu tadi terbantu karena memang dia sumber proteinnya bagus. Selama ini kan kita mesti cari konsentrat. Tetapi tadinya memang kita sempat pake. Tapi dengan adanya lemna itu membantu mensuport protein babi,” tutur Alfons.

Agar lebih mudah, berikut ini adalah link download penelitian Politani Kupang yang disajikan dalam bentuk power point. Semoga bermanfaat!

Materi APLIKASI Lemna Download Di Sini

Penulis: Boni Jehadin