Salah satu dari lima unit rumah yang tertimbun tanah longsor di Nagekeo (Foto: Arkadius Togo/Vox NTT)

Kupang, Vox NTT-Bencana longsor yang terjadi kabupaten Nagekeo menjadi peringatan bagi pemerintah dan seluruh masyarakat NTT.

Musibah ini merenggut tiga nyawa, Paulus Loi (80), Paulina Muku (45), dan Damianus Lobo (26). Pantauan VoxNtt.com, Nagekeo menjadi kabupaten ke-sembilan di NTT yang dilanda bencana longsor selama musim penghujan tahun 2018.

Jalan menuju Desa Selejo Timur ditutup timbunan tanah sedalam 60 CM (Foto: Arkadius Togo/Vox NTT)

Berikut delapan daftar kabupaten yang mengalami bencana longsor hingga pertengahan November 2018:

Kabupaten Sumba Timur

Hujan lebat yang melanda wilayah kelurahan Kawangu dan sekitarnya di kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur mengakibatkan tanah longsor di kampung Kahuduburung Kelurahan Kawangu, Minggu (28/1/2018) sore.

Pelaksana tugas (Plt) kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumba Timur Martina D.Jera, Senin (29/1/2018) sore mengatakan, akibat longsor tersebut, material longsoran seperti, tanah, batu dan batang pohon menutupi saluran irigasi Kawangu.

Salah satu dari lima unit rumah yang tertimbun tanah longsor di Nagekeo (Foto: Arkadius Togo/Vox NTT)

Martina mengatakan, material longsoran yang menutupi saluran irigasi tersebut panjangannya sekitar 50 meter.

Ia mengatakan, akibat dari material longsoran yang menutupi saluran tersebut, akibatnya aliran air pada saluran itu terhambat dimana saluran irigasi tersebut untuk mengairi lahan persawahan di wilayah Kawangu.

Kabupaten TTU

Ruas jalan yang menghubungkan wilayah Maubesi-Wini, Kabupaten TTU tertutup tanah longsor pada Minggu, (28/01/2018). Longsor yang terjadi pada minggu malam tersebut tepatnya terjadi di Lakukalo, Desa Benus, Kecamatan Naibenu.

Pada Senin (29/01/2018), tampak ruas jalan sepanjang 30 meter tertutup tanah longsor yang berasal dari bukit sebelah kiri jalan.

Warga setempat pun membersihkan ruas jalan tersebut agar bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat. Beberapa kendaraan roda empat yang melintasi wilayah  itu terpaksa harus ditarik dengan tali.

Tak hanya terjadi di Lakukalo, puluhan rumah warga yang berada di sepanjang pinggiran kali Tauf, RT 58 dan RT 64, Kelurahan Kefamenanu Selatan, Kecamatan Kota Kefamenanu, terancam terkikis tanah longsor.

Pantauan VoxNtt.com, Kamis (22/02/2018), tampak kikisan tanah longsor tersebut berada di sepanjang pinggiran kali Tauf  dengan jarak kurang lebih 300 meter. Bahkan kondisinya hanya tersisa 10 meter dari rumah warga.

Yulius Reno Radja seorang warga yang rumahnya berada pada pinggiran kali, tampak hanya berjarak 3 meter dari tanah yang saat itu sudah terkikis erosi.

Tak hanya warga, Kelurahan Kefamenanu Selatan, warga Kelurahan Kefamenanu Utara pun merasakan hal serupa. Pada Kamis, (22/03/2018) warga dari Kelurahan tersebut meminta peran DPRD TTU untuk menangani bencana longsor yang terjadi pada bantaran sungai di wilayah mereka.

Pasalnya, hingga kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) TTU belum menangani bencana tanah longsor sepanjang 300 meter di RT 09, 10, 11 dan 14 KelurahanKefa Utara.

Kabupaten Manggarai Barat

Pada Minggu, (18/02/2018) pagi sekitar pukul 10.00 WITA, bencana tanah longsor menimpa ruas jalan provinsi di Kampung Dahang, Desa Pangga, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat.

Akibatnya, jalur transportasi arah Ruteng, Kabupaten Manggarai menuju Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat putus total.

Beberapa kendaraan roda dua dan roda empat tidak dapat melanjutkan perjalanannya menuju Macang Pacar, begitupun sebaliknya.

Warga di sekitar dengan peralatan seadanya bergotong royong memindahkan tanah tersebut, namun hanya sebagian saja yang dapat dipindahkan.

Tak hanya itu, pada bulan januari 2018 lalu, material longsor menumpuk di mulut jembatan Wae Ara, penghubung Kecamatan Lembor dengan Lembor Selatan.

Material longsor yang tumpah dari tebing di sebelah utara jembatan itu menutup sebagian badan jalan. Akibatnya lalu lintas menjadi terganggu.

Kabupaten Ende

Ruas jalan Ende-Bajawa, tepatnya di KM 26, Desa Penggajawa, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, tertimbun longsor selama 14 jam.

Longsor yang terjadi pada Minggu (11/11/208) pukul 23.30 Wita itu mengakibatkan kendaraan roda dua dan roda empat tak dapat melintasi jalan tersebut. Ratusan kendaraan roda empat yang mengantre diperkirakan hingga satu kilo meter.

Warga bersama aparat TNI bergotong membersihkan jalan yang tertimbun material longsor pada Senin siang (Foto: Ian Bala/VoxNTT)

Sedangkan kendaraan roda dua dilalui dengan bantuan warga sekitar dengan besar pungutan Rp. 5.000 per motor.

Di sisi lain, salah satu titik  paling krusial ancaman longsor di Kabupaten Ende berada pada  ruas jalan nasional Ende- Maumere yakni tebing batu di Kampung Watubewa,  Desa Nuamuri, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, sekitar  50-an  Km   dari Kota Ende.

Sudah hampir dua pekan dalam bulan Agustus 2018, tebing yang kebanyakan batu ceper di sisi timut jalan digusur menggunakan eskavator. Tebing ini berada dalam deretan bukit ke arah Gunung Kelimutu.

Tebing batu di  Kampung Watubewa telah sekian  lama menjadi ancaman serius bagi pengguna ruas jalan nasional Ende-Maumere dan sebaliknya.

Kabupaten Manggarai

Ruas jalan, jalur utama yang  menghubungkan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat sempat terputus akibat longsor Minggu (07/01/2018) dinihari di daerah Kalamada, Desa Cireng, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai.

Pantauan voxntt, longsor tersebut berasal dari tebing pinggir jalan dengan ketinggian diperkirakan belasan hingga 20 meter dan panjang kira-kira 50 meter.

Akibatnya puluhan kendaraan baik roda empat maupun roda dua yang melintasi jalur Ruteng, Lembor dan Labuan Bajo sempat terhenti dengan antrian panjang.

Pada saat yang sama bencana longsor juga terjadi di jalan Negara Ruteng-Labuan Bajo, tepatnya di Nteer, Desa Mata Wae, Kecamatan Satar Mese Utara, Kabupaten Manggarai.

Diduga, peristiwa itu disebabkan aktivitas penggalian batu yang massif  beberapa tahun terkakhir. Akibatnya, lalulintas di jalan tersebut macet total.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Manggarai, Nadus Nasur meminta Pemerintah Kabupaten Manggarai untuk segera buka mata. Menurutnya, ada dua hal yang perlu dilakukan pemerintah agar peristiwa serupa takt erulang lagi.

“Pertama, pemerintah harus serius memberikan sosialisasi tentang bahaya penggalian batu pasir di wilayah sekitar jalan negara yang berpotensi longsor. Kedua, melarang masyarakat beraktivitas khususnya di daerah kawasan yang rawan longsor serta bagi yang melanggar diberi sanksi sesuai aturan yang berlaku,” katanya melalui pesan singkat, Minggu (7/1/2017).

Kabupaten Manggarai Timur

Kepala BPBD Matim Anton Dergong mengatakan, pembersihan material longsor yang menutupi bahu jalan Ruteng-Benteng Jawa pada Senin, 26 Februari lalu tersebut mulai dilakukan pada Rabu, 28 Februari 2018.

Akibat longsor itu, akses transportasi dari ibukota Kabupaten Manggarai menuju ibukota Kecamatan Lamba Leda- Manggarai Timur tersebut sempat lumpuh.

Longsor juga yang menutup badan jalan Mukun-Paan Leleng di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten ManggaraiTimur (Matim) pada Sabtu, 6 Januari 2018 lalu, tak hanya melumpuhkan transportasi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi warga.

Terhitung ada dua titik longsor besar di atas ruas jalan milik Provinsi NTT tersebut. Dua titik itu yakni terdapat di Wae Lekot dan tikungan Wangkung, Desa Benteng Raja.

Kali Wae Lekot, Desa Benteng Raja, Kecamatan Borong, Kabupaten ManggaraiTimur (Matim) juga mengorbankan para petani di wilayah itu.

Banyak tanaman kopi milikpetani terbawa longsor pada 6 Januari 2018 lalu itu. Selain itu, saluran irigasi yang tepatnya di tengah longsor putus sepanjang 50 meter.

Di wilayah lain, hujan lebat yang mengguyur wilayah Kabupaten Manggarai Timur, mengakibatkan longsor besar menutupi bahu jalan Ruteng-Benteng J awa, Senin (26/02/2018).

Akibat longsor itu, akses transportasi dari ibukota Kabupaten Manggarai menuju ibukota Kecamatan Lamba Leda- ManggaraiTimur tersebut sempat lumpuh.     

Kabupaten TTS

Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah ( BPBD) Kabupaten TTS, Adi Tallo mengatakan, selama enam bulan terhitung dari bulan Januari hingga Juni 2018 sudah terjadi bencana alam banjir dan longsor di Kabupaten TTS.

Bencana alam banjir terjadi di Desa Oebobo, Nunkolo dan Binaus. Sementara tanah longsor terjadi di Desa O’of.

Bencana alam yang terjadi menyebabkan masyarakat harus mengalami kerugian material, akibat tanaman yang mati terendam banjir maupun ternak yang mati terbawa arus banjir atau tertender longsoran tanah.

Beruntung, bencana alam yang terjadi tidak sampai merengut korban jiwa.

Kabupaten Kupang

Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kupang melakukan evakuasi satu orang tewas tertimpa pohon akibat longsor yang terjadi di Desa Oelomin, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Evakuasi terhadap jasad Sonar Sonik Berek usia 25 tahun berjenis kelamin laki-laki berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) itu dilakukan tim SAR Senin 27 Agustus sekitar pukul 23.29 WITA,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kupang (Basarnas) Abdul Hamid, melalui bagian humas Petronela Amabi kepada Okezone di Kupang Selasa (28/8/2018).

Evakuasi terhadap sopir truk yang tertimpa pohon akibat longsor saat sedang melakukan aktivitas di sekitar lokasi itu dilakukan setelah mendapatkan laporan dari Kepala Desa Oelomi Tuce Takesan.

“Kita dapat laporan dari Kepala Desa Oelomi pukul 17.30 WITA dan langsung persiapan menuju lokasi,” katanya.

Akibat hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Kupang hampir dua pekan terakhir, mengakibatkan Jalan Ikan Foti ambrol dan nyaris putus. Ambrolnya jalan karena longsor tersebut diduga terjadi pada Minggu (21/1/2018) dini hari.

Lokasi titik longsor tersebut berada di wilayah Desa Oben, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang. Jalan Ikan Foti merupakan satu-satunya akses jalan yang menghubungkan wilayah Kabupaten Kupang dengan Kota Kupang.

Penulis: Sandry Hayon

Editor: Irvan K