Tempat pelaksanaan kegiatan Expo Matim di muara Kali Wae Bobo dan Pantai Borong yang hingga kini masih menyisakan sampah (Foto: Nansianus Taris/ Vox NTT)

Borong, Vox NTT- Kegiatan Expo Manggarai Timur (Matim) 2018 berlangsung di muara Kali Wae Bobo dan Pantai Borong pada 14 November 2018 lalu.

Kegiatan yang digelar oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Matim itu bertujuan untuk memperkenalkan potensi daerah itu. Harapannya potensi tersebut sebagai tujuan investasi.

Sayangnya, usai pergelaran itu menyisakan cerita miris, terutama soal sampah yang masih berserakan di muara Wae Bobo dan bibir Pantai Borong.

Sampah itu adalah plastik bekas makanan dan minuman saat kegiatan Expo Matim 2018.

Di lokasi terlihat, ada botol minuman ringan, kotak nasi, bungkusan snack, puntung rokok, dos rokok, dan berbagai jenis sampah plastik lainnya.

Berbagai jenis sampah itu menghiasi seluruh halaman tempat Expo Matim digelar.

Ahmad, salah satu warga yang ditemui VoxNtt.com di Pantai Borong, Rabu (5/12/2018) sore, menuturkan sampah-sampah yang berserakan pasca kegiatan Expo Matim.

Menurut Ahmad, sampah-sampah itu dibiarkan, tanpa ada pembersihan setelah kegiatan.

“Inilah wajah pantai kita. Dicorengi sampah-sampah pemerintah. Pantai yang indah, tetapi tidak diperhatikan pemerintah. Potret sampah ini adalah contoh kecil gambaran perilaku pemerintah kita. Habis kegiatan, mereka tinggalkan tempat ini dengan sampah-sampah,” ujar Ahmad dengan nada kesal.

Tak hanya kesal dengan sampah, ia bahkan menilai kegiatan Expo Matim adalah aksi hura-hura pemerintah.

Kata dia, kegiatan besar tersebut tentu saja menghabiskan dana yang begitu banyak. Namun, Ahmad mempertanyakan,apa dampaknya bagi masyarakat kecil.  Terutama bagi para pengusaha kuliner di Pantai Borong.

“Pantai terus dikikis abrasi akibat proyek pemerintah yang salah perencanaan. Kalau pantainya habis, gimana masyarakat mau buka usaha di sini,” keluhnya.

“Jadi, menurut saya, lebih baik dana kegiatan itu urus tembok yang jebol, urus pasir yang numpuk di muara pantai Wae Bobo. Toh, habis kegiatan, tidak ada manfaat bagi masyarakat,” tambah Ahmad.

Ia juga mengeluhkan kekurangan fasilitas yang boleh dirasakan pengusaha kuliner di Pantai Borong.

Kata dia, di tempat itu tidak ada listrik dan air minum bersih. Parahnya lagi Pantai Borong terus dihantam abrasi.

“Inilah kondisi kita di sini. Harap Pemkab Matim buka mata. Biar usaha kecil kami bisa berkembang maju,” ucapnya dengan wajah penuh harap.

 

Penulis: Nansianus Taris
Editor: Ardy Abba