Rian, pengusaha Kopi Keliling saat sedang menyeduh Kopi untuk pelanggannya (Foto: Ronis/VoxNtt.com)

Kota Kupang, Vox NTT-Kopi telah terbukti menjadi minuman pemantik imajinasi sekaligus pelepas penat.

Itulah alasan mengapa bisnis kopi begitu laku dan sudah menjalar di mana-mana.

Seiring dengan pengaruh McDonalisasi yang meluas, sajian kopi kini hadir dalam bentuk yang beragam. Ada yang tersedia dalam bentuk kedai kopi, warkop, dan jenis lain semisal warung Pojok atau warung Tebing.

Cepat saji adalah salah satu ciri khas fenomena McDonalisasi. Siasatnya mulai dari kemasan hingga design ruangan agar mampu memantik hasrat orang datang berkunjung dan menenggak kopi. Pada titik ini, kopi telah menjadi gaya hidup yang lekat dengan masyarakat perkotaan.

Namun, lain hal dengan Si Rian Kopling. Begitu ia doyan disapa.

Di Kota Kupang, dia berusaha menyajikan kopi keliling (Kopling) menggunakan sepeda motor. Kreativitas Rian tergolong unik karena bisnis jenis ini baru dia yang memulainya.

Pemilik nama lengkap Yanto Elianus Boimau (26) ini mengaku baru dua bulan menjadi penyedia jasa kopi keliling.

Meski demikian, namanya sudah menjadi bahan perbincangan banyak orang di Kota Kupang.

Rian mengaku sudah memikirkan dua risiko sebelum usahanya dimulai. Pertama, kemungkinan ditertawakan, yang artinya usaha itu gagal atau bisa jadi yang kedua, diperbincangkan. Jika diperbincangkan usaha itu menurutnya bakal berhasil.

Bagi dia, kopi keliling adalah usaha menjemput bola. Itulah alasan mengapa dia dapat ditemukan di mana-mana, di setiap sudut Kota Kupang.

“Saya belajar, orang Kupang itu cepat bosan dengan sesuatu kaka. Jadi saya tidak boleh tetap. Jadi, dimana ada tempat nongkrong, disitu saya parkir motor dan jualan kopi,” ujarnya saat ditemui VoxNtt.com Sabtu (19/01/2019).

Sasar Anak Muda dan Tempat Strategis

Tongkrongan anak-anak muda Kota Kupang menjadi sasaran utama Rian. Kadang di Tedis, Taman Nostalgia, dan bundaran Burung Merpati.

Kadang juga sampai ke tempat-tempat pariwisata seperti Tablolong dan Pantai Lasiana. Intinya, anak muda atau generasi milenial adalah pelanggan setia Rian.

“Hari-hari pertama, saya jalan keliling kaka. Jadi sambil touring begitu, sesuai hobby saya. Jadi yah kalau sampe di situ ada banyak anak-anak muda nongkrong saya parkir motor lalu jual kopi,” tuturnya.

Seiring dengan hasil touring selama dua bulan belakangan, ada dua tempat yang biasa jadi andalan yakni Bundaran Burung Merpati dan Bukit Cinta Penfui.

“Kalau di Bundaran itu karena di sini tempat mangkalnya para Grab. Jadi ya saya dari jam 12 malam sampe pagi di sini. Mereka adalah pelanggan saya pertama,” ujarnya.

Suatu waktu, saat kerja bakti ada pejabat di Kota Kupang yang mengizinkannya berjualan di dalam lokasi tanah dua jalur Eltari,  asalkan menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lalulintas.

Tempat andalan lain adalah Bukit Cinta. Di sana, lanjut Rian, merupakan tempat para pemuda bertemu untuk merajut kasih.

Sekelompok mahasiswa memanfaatkan Bukit Cinta untuk berdiskusi. (Foto: Ronis/ Vox NTT).

“Kan pertemuan sepasang kekasih itu akan lebih lengkap kalau ditemani secangkir kopi” pintanya sambil tersenyum.

Kopi Sederhana dan Beragam

Bermodal motor Jetcolet, motor jadul miliknya yang dirancang dengan dua box bersebelahan pada bagian belakang, Rian menawarkan banyak jenis kopi.

Berbagai jenis kopi dipajang di sepeda motor milik Rian (Foto: Ronis/VoxNtt.com)

Salah satu yang paling menarik adalah kopi Nusantara.

Rian mengaku, kopi Nusantara itu kopi yang berasal dari berbagai daerah di NTT.

“Ada kopi Bajawa, Manggarai dan Kopi lain dari NTT. Juga ada kopi yang bungkusan. Itu sesuai dengan permintaan,” tuturnya.

Selama menjajakan bisnis kopi keliling, dia mengaku warga Kota Kupang punya banyak selera. Itulah alasannya menyediakan beragam jenis kopi.

Omset Besar

Dua bulan masih tergolong waktu yang pendek untuk bisnis pemula seperti Rian.

Namun ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan. Ia mengaku dalam sehari rata-rata penghasilannya mencapai RP 250.000. Bahkan, jika ramai, penghasilannya dalam sehari bisa mencapai Rp 500.000. Jumlah itu didapatnya dari harga kopi secangkir Rp.5.000. Itu artinya jumlah pelanggan sehari berkisar dari 50-100 orang.

Rian mengaku untung karena sesuai dengan hitungan pengeluaran tenaga, biaya dan waktu yang ia keluarkan.

“Saya pernah kerja di usaha ikan bakar dan warkop. Tapi kali ini saya bisa katakan yah sangat wow,” ungkapnya.

“Itu sudah bersih kaka, baru 2 bulan saya sudah bisa tutup semua utang pas modal awal buka usaha ini,” sambungnya.

Dia berharap agar usaha koplingnya itu bisa menjadi contoh bagi anak muda lain di Kota Kupang untuk berbisnis serupa.

Menurutnya usahanya akan lebih berhasil kalau mulai terbentuk kopling-kopling lain dari anak-anak muda yang masih kesulitan mencari pekerjaan.

“Intinya jangan gengsi kaka. Tidak malu kalau cari uang begini. Saya lebih malu kalau duduk di rumah pangku kaki lalu minta uang di orang tua”, ucapnya.

Rian berencana akan membentuk Komunitas Kopi Keliling dan mengajak banyak orang muda untuk mengikuti jejaknya.

Kini, Rian tinggal di salah satu Kos yang beralamat di Lasiana Kupang. Jika ingin menikmati Kopling ‘Kopi Keliling’ milik Rian anda tinggal datang ke Bundaran Merpati atau Penghijauan pada malam hari. Pada sore harinya, Anda dapat menikmati kopi Rian sambil menikmati sunset dari atas Bukit Cinta, Penfui, Kota Kupang.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Irvan K.