Salah satu mata air di wilayah Baumata, Kabupaten Kupang

Kupang, Vox NTT-Delapan titik mata air di Desa Baumata dan Baumata Timur menjadi objek kajian Yefri Kuafeu, mahasiswa Pascasarjana Geografi UGM yang dilakukan sejak awal Januari 2019 hingga sekarang.

Rencananya penelitian ini akan berakhir pada pertengahan Februari 2019 mendatang.

Dalam rilis yang terima VoxNtt.com, Selasa (12/02/2019), Yefri mengungkapkan, mata air Baumata secara geohidrologi muncul akibat adanya perpotongan topografi pada kawasan karst yang tidak lolos air (impermeable).

Muka air tanah yang terpotong oleh topografi pada satuan batu gamping koral (batu karang, sebutan orang Kupang) dengan perbukitan karst yang mendominasi lazimnya tidak dapat dilalui air melalui suatu proses infiltrasi.

“Namun dengan adanya perpotongan topografi tersebut muncul mata air karst dengan debit tertinggi di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang yaitu 75 liter/detik,” ungkap Yefri Kuafeu.

Dikemukakan Yefri, potensi mata air Baumata adalah suatu gambaran kawasan karst yang kaya akan air tanah sebagai sumber air bersih yang tidak pernah kering sepanjang tahun.

Potensi itu, lanjutnya, perlu dijaga sebagai suatu cekungan air tanah yang dapat menyuplai kebutuhan air domestik maupun non domestik di Kecamatan Taebenu dan Kota Kupang.

“Baumata memang desa yang secara geografis kaya akan sumber air. Selain terkenal dengan sumber air alami, masih ada mata air Banon di Desa Baumata yang muncul pada lereng curam dengan topografi yang landai sehingga akses ke mata airnya sangat menantang,” tuturnya.

Sementara mata air Oelalali dan mata air Kebin di Desa Baumata Timur mengalami proses kartifikasi. Itu ditandai dengan adanya pelarutan pada aliran air yang melewati sisa vegetasi yang telah mengering sebagai awal proses pembentukan lahan karst.

Dikatakan, lahan karst ini  sangat cocok untuk objek pembelajaran geografi.

Akses Susah

Dua rekan Yefri, Andy Go’o dan Riris Lau mengamini akses menuju beberapa mata air tersebut sangat susah.

“Akses ke mata air sangat susah sehingga mata air yang mengalir sepanjang tahun tidak dapat dikelola secara maksimal oleh masyarakat,” ungkap Andy yang diamini Rilis.

Andy mengatakan, selama ini kebutuhan air masyarakat sekitar didapat melalui sumur bor dan air minum kemasan Aquamor dan Aquafit.

Saat ini perusahaan Aquamor mengolah sumber air yang ada di Baumata, sementara Aquafit di Baumata Timur.

“Sayangnya dengan adanya air instan masyarakat tidak lagi menjaga dan melestarikan mata air yang ada hingga terkesan tidak terawat” ujar Andy yang merupakan alumni Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

“Kalau orang omong Baumata pasti yang terbayang mata airnya, dan faktanya terdapat banyak mata air di Baumata dan Baumata Timur, namun aksesibilitasnya lumayan rumit. Bukan hanya itu, tapi ada juga Gua Alam dan Stasiun Geofisika yang dibangun oleh BMKG. Sungguh, suatu wilayah administrasi yang ideal untuk menginterpretasikan ilmu kegeografian.” tambah Rilis Lau, alumni FKIP Pendidikan Geografi Undana.

Penulis: Tarsi Salmon

Editor: Boni J