Crew VoxNtt.com Kabupaten Manggarai, Pepy Kurniawan saat menemui Kristoforus dan Apolonia di rumahnya, di Desa Wae Renca, Kecamatan Cibal, Mangggarai, Senin (08/07/2019). (Foto: Pepy/Vox NTTT).
alterntif text

Ruteng, Vox NTT–Membangun Indonesia dari desa yang digalakan Pemerintah Indonesia sejak kepemimpinan Presiden Jokowi periode pertama hingga kini masuk periode kedua rupanya tak berjaan mulus di Provinsi Nusa tenggara timur (NTT), khususnya di Kabupaten Manggarai.

Alokasi anggaran miliaran rupiah ke desa setiap tahunnya sama sekali tak berbanding lurus dengan realitas ekonomi masyarakat desa, khususnya bagi warga miskin. Angka yang terhitung fantastis itu sama sekali tak menolong keluarga yang miskin.

Di Kampung Bea Denger, Dusun Cimpar, Desa Wae Renca, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai misalnya, keluarga Kristoforus Samar harus rela bertahan hidup dalam kesengsaraan karena himpitan ekonomi yang sangat memprihatinkan.

Dalam pertemuan dengan VoxNtt.com, Senin (08/07/2019) di rumahnya, Kristoforus dan istrinya, Apolonia Imat (35) mengakui, jangankan hunian yang layak, untuk mencukupi makanan sehari-hari saja mereka bersusah payah.

Kondisi tempat tinggal mereka memang sangat memprihatinkan jika tak ingin dibilang reot. Selain ukuran yang sangat sempit, dengan luas 3 x 2,5 m². Rumah itu hanya beralaskan tanah dan berdinding pelupuh bambu. Itupun sudah berlubang. Di dalamnya hanya berisi prabot rumah tangga seadanya.

Kondisi yang sempit dan gelap gulita menjadi saksi bisu perjalanan keluarga yang serba kekurangan tersebut. Ratap tangis akan nasib pun menjadi biasa di balik gedek bambu tua dan lantai tanah yang dingin menusuk pori-pori kaki para penghuni.

Kondisi dapur di rumah Krsitoforus saat diabadikan, Senin (08/07/2019). (Foto: Pepy/Vox NTT).

Keadaan itu hanyalah rintihan kemiskinan yang tak tahu harus diperdengarkan kepada siapa. Toh sejak jauh waktu yang lalu, keluh kesah keluarga ini tak jua terdengarkan. Keadaan mereka juga tetap tak berubah sedikitpun. Kemiskinan seolah tak mau berpaling dari nasib tragis kehidupan keluarga malang ini.

Dikisahkan Apolonia, sebelumnya pasangan yang berkeluarga sejak tahun 2013 ini tinggal di Kampung Cimpar. Namun karena tidak memiliki rumah, mereka tinggal bersama orangtuanya.

Tahun 2016, mereka kembali ke Kampung Bea Denger dan tinggal di rumah bekas dapur milik orangtua Sang Suami. Rumah yang kini mereka huni.

Kendati tinggal di tanah yang melahirkannya, Tian, sapaan Kristoforus, mengaku tidak memiliki lahan untuk berkebun demi menyambung hidup.

Banting Tulang

Raut wajah Apolonia kian murung, pipinya basah karena air mata yang tak berhenti mengalir saat mengisahkan penderitaan hidupnya. Berulang kali, crew Vox NTT mencoba menguatkannya, namun air matanya tak terbendung. Tangisan itu menemani pertemuan kami malam itu.

Perjuangan Kristoforus dan Apolonia memang tak mudah, sebab bukan hanya untuk mengenyangkan perut keduanya melainkan juga untuk menafkahi kedua buah hati mereka.

Demi itu, setiap hari mereka selalu berharap akan ada orang yang datang meminta jasa tenaga mereka, untuk bekerja di lahan warga lain dengan harapan mendapat upah. Biasanya, Tian diupah Rp 30 ribu. Uang itu dipakainya untuk menghidupi keluarga tercintanya setiap hari. Namun, tak setiap hari Tian bekerja. Ia hanya bekerja saat tenaganya dibutuhkan.

Sementara Sang Istri, tak bisa bekerja setiap hari karena harus menjaga kedua anak mereka yang masih berusia enam dan dua tahun.

“Toe manga uma ami, hi Ito imbi kerja one uma data kanang. Hitupun eme manga ata tae, tapi eme toe ga kaeng bo kat cee mbaru ai bom manga uma de ru. (Kami tidak memiliki kebun sendiri, Tian (Suaminya) hanya bekerja di lahan milik orang lain. Itupun kalau ada yang membutuhkan tenaganya, kalau tidak kami hanya tinggal di rumah karena kami tidak memiliki kebun sendiri),” ungkap Apolonia Imat dalam bahasa Manggarai.

Apolonia mengisahkan, tak sanggup memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Belum lagi kalau ada anggota keluarga yang tiba-tiba sakit.

Setiap hari mereka hanya berpasrah sambil berdoa, kiranya Tuhan menolong.

Eme beti ami toe manga ngance weli obat, itu tara kaeng kat noo. Weli dea kat pait. (Kalau sakit kami tidak bisa membeli obat,  itu makanya hanya tinggal di sini (rumah)  saja.  Beli beras saja susah,” ujarnya sambil mengusap wajahnya yang kian basa oleh air mata.

Beruntung punya Tetangga

Kesusahan yang dialami keluarga Tian rupanya tak ia rasakan sendiri. Para tetangga turut merasakan apa yang dirasakan oleh keluarga kecil ini. Mereka (para tetangga) kerap membantu membelikan mereka beras. Ada pula yang memberi mereka perlengkapan dapur seperti piring dan gelas.

Di dalam rumah Tian memang tak memiliki apa-apa yang menunjang kehidupan mereka selain satu kasur yang sangat sederhana dan sebuah bantal, tempat sekeluarga merebah di kala malam tiba.

Beras dan gelas yang disumbang warga untuk keluarga Kristoforus. (Foto: Pepy/Vox NTT).

Jangankan prabot yang lain, masing-masing anggota keluarga ini hanya mempunyai dua pasang pakaian.

Eme manga ata momang cee hoo, biasa tering dea lise. Piring agu gelas soo kat one pisa teing dise. (Kalau ada yang merasa kasian di sini, mereka bisa kasih beras. Piring dan gelas saja mereka yang berikan),” tukas perempuan asal Poa, Desa Langkas, Kecamatan Cibal.

Luput dari Perhatian Pemerintah

Penderitaan pasutri yang baru menikah 20 Juni 2019 di Stasi Bea Denger Paroki Bea Nio itu luput dari perhatian pemerintah.

Beruntung saat keduanya mengikuti pernikahan massal, mereka ditolong oleh pihak Gereja, sehingga tidak dibebani biaya sedikitpun.

Diakui Apolonia, mereka karena dibantu Ketua Dewan Stasi dan warga kampung lainya. Pastor Paroki juga memahami keadaan mereka, sehingga semua urusan penikahan dimudahkan.

Ketika warga kampung merasa prihatin dengan keluarga malang ini, Pemerintah, baik Desa maupun Kabupaten Manggarai tak pernah hadir di tengah penderitaan keluarga kecil ini.

Bantuan Dinikmati Aparatur Desa dan Keluarganya

Walau hidup serba kekurangan, namun segala jenis bantuan tak pernah mereka dapatkan. Jangankan bantuan yang berskala besar seperti rumah, bantuan-bantuan dalam skala kecil, baik dari Desa maupun dari Kabupaten seakan silih dari keluarga Tian.

Bahkan tragisnya, beberapa bulan sebelumnya, Pemerintah Desa Wae Renca mengeluarkan program bantuan lampu menggunakan cahaya sinar matahari berjumlah 52 Unit. Mirisnya, keluarga kecil ini tidak mendapat bantuan tersebut.

Sementara, hampir seluruh Perangkat Desa Wae Renca mendapatkan bantuan itu.

Tak hanya bantuan lampu, Perangkat Desa Wae Renca bahkan ada yang mendapatkan bantuan rumah. Padahal, selain Kristo, masih banyak masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni.

“Mereka ini luput dari perhatian pemerintah, segala jenis bantuan mereka tidak pernah dapatkan. Tapi lucu di kami punya Desa ini,  baru saja ada program bantuan lampu cahaya surya tapi yang dapat, hampir semua Perangkat Desa dan pemanfaatnya sebagaian besar keluarga dari perangkat desa juga. Bahkan beberapa perangkat Desa juga yang mendapatkan bantuan Rumah. Kami selalu sampaikan itu saat musyawarah di Desa tapi tidak pernah direspons,” ungkap seorang anggota BPD Wae Renca yang namanya tidak ingin dimediakan saat ditemui VoxNtt.com di rumahnya, Senin (08/07/2019.

Bersambung…

Penulis: Pepy Kurniawan

Editor: Boni J

 

alterntif text