Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTU, Ir. Matheos M. J. Dami saat ditemui VoxNtt.com di ruang kerjanya, Rabu, 16 Oktober 2019 (Foto: Eman Tabean/ Vox NTT)
alterntif text

Kefamenanu, Vox NTT-Penyakit demam babi Afrika akibat African Swine Fever (ASF) saat ini menjadi momok menakutkan bagi para peternak.

Mencegah masuknya virus penyakit tersebut, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) saat ini memperketat pengawasan di wilayah perbatasan RI-RDTL.

Dalam pengawasan tersebut, Pemkab TTU bekerja sama dengan Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonif 132/BS, Kodim 1618/TTU, Polres TTU, Kepala Karantina Pertanian Wini dan Napan, PLBN, serta unsur terkait lainnya.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTU Matheos M. J. Dami mengatakan, tanggal 07 Oktober 2019 lalu pihaknya mengeluarkan surat koordinasi kepada instansi dan lembaga terkait untuk pengamanan lintas batas.

“Jadi tanggal 07 Oktober kita mengeluarkan surat yang ditandatangani oleh bapak Bupati, yang kita tujukan kepada Kepala Karantina Pertanian Wini dan Napan, Kepala Pos Lintas Batas, Komandan Satgas Pamtas Sektor Barat dengan para Camat, tembusannya ke kepala desa, Dandim dan Kapolres, yang kita harapkan ada koordinasi untuk pengamanan di lintas batas, sehingga kita mencegah masuknya penyakit demam babi Afrika ini,” jelas Kadis Dami saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (16/10/2019).

Dami menuturkan, hingga saat ini di Kabupaten TTU belum ada temuan babi yang mati karena terkena penyakit demam babi Afrika.

Meski begitu, ia tetap gencar melakukan sosialisasi di desa-desa terutama yang berada di wilayah perbatasan RI-RDTL.

Sosialisasi juga gencar dilakukan di pasar-pasar yang berada di perbatasan antara Kabupaten TTU, Belu dan Malaka.

“Kita juga sudah mengeluarkan aturan untuk melarang masuknya ternak babi maupun olahan daging babi dari luar daerah masuk ke kabupaten TTU, ini juga untuk mencegah masuknya penyakit dimaksud,” tegasnya.

Gejala Klinis Penyakit Demam Babi Afrika

Dami menjelaskan, ada beberapa gejala klinis pada babi yang terkena penyakit demam babi Afrika.

Itu di antaranya ternak babi tersebut mencret, terdapat bintik merah pada seluruh tubuh, buih yang keluar dari mulut babi berupa darah, serta keluar darah dari dubur babi.

Dami pada kesempatan itu juga meminta agar babi yang mati karena penyakit demam babi Afrika tidak boleh dikonsumsi dan harus langsung dikubur.

Baca Juga: Cegah Wabah ASF dari Timor Leste, Pemkab Belu Lakukan Sejumlah Langkah

“Babi yang mati karena penyakit demam babi Afrika tidak boleh dikonsumsi, harus langsung dikubur, karena virus penyakit ini bisa bertahan hidup pada suhu 70 derajat celcius, jadi mau masak seperti apa juga virus itu tidak akan mati,” tegasnya.

Penulis: Eman Tabean
Editor: Ardy Abba

alterntif text