Fransiskus Inosensius sedang membuat meja dari bambu (Foto: Dok. Pribadi)
alterntif text

Maumere, Vox NTT- Pemberlakuan masa isolasi bagi warga Sikka selama 14 hari memberi dampak tersendiri bagi Fransiskus Inosensius.

Imbauan bekerja dari rumah justru melahirkan kreativitas baru bagi salah satu perangkat Desa Tekaiku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka itu.

Alih-alih menjadi jenuh, pemuda yang biasa disapa Ino ini malah beralih profesi menjadi pengrajin bambu.

Ino mengubah bambu menjadi aneka kerajinan seperti meja, kursi, tirai, lampu hias dan vas bunga.

Dihubungi VoxNtt.com, Minggu (29/03/2020), Ino yang menjabat Kaur Perencanaan tersebut mengaku beberapa pekerjaannya di desa sudah diselesaikan.

Dua hari belakangan baru disibukkan lagi dengan urusan pembentukan Desa Siaga Covid-19.

Semua produk kerajinan bambu tersebut dikerjakannya di rumahnya di Kampung Wolomude. Dia hanya keluar ke kebun untuk mengambil bambu.

Pemuda 29 tahun tersebut mengaku beberapa bulan terakhir menekuni kerajinan bambu.

“Ini karena waktu luang juga banyak jadi dari pada tidak digunakan saya buat kursi, meja, tirai, lampu hias, dan vas bunga berbentuk sepeda, motor atau mobil,” terangnya.

Selanjutnya, hasil kerajinan tersebut dipasarkan melalui akun Facebook miliknya dengan kisaran harga dari Rp 50.000 sampai dengan Rp 750.000.

Vas bunga dari bambu hasil kreativitas Fransiskus Inosensius (Foto: Dok. Pribadi)

“Sekarang saya lagi kerjakan 2 pesanan set meja dan kursi bambu. Hanya butuh beberapa hari sudah selesai,” tandas Ino.

Kebutuhan bahan lain tentu ada. Namun Ino mengaku tidak perlu ke kota untuk berbelanja.

“Sebelum ini saya sudah beli dan simpan untuk kerja di sela-sela waktu sebagai perangkat desa,” terangnya.

Menurut Ino, pekerjaan barunya tersebut menjanjikan. Meski demikian, dirinya tetap ingin mengabdi sebagai perangkat desa.

Dia berharap anak-anak muda lain pun bisa memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang produktif walau hanya di rumah saja.

“Kita bisa cegah corona sambil bekerja atau lakukan hal produktif di rumah,” tandasnya.

Penulis: Are De Peskim
Editor: Ardy Abba