Akademisi Politeknik Negeri Kupang, Dr. Melkianus Deddy Randu, S.Pt., M.Si
alterntif text

Kupang, Vox NTT- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menyepakati untuk memasuki kehidupan normal yang baru (new normal) mulai 15 Juni mendatang.

Kesepakatan itu berdasarkan hasil rapat koordinasi virtual antara Gubernur NTT dengan para Bupati dan Wali Kota Kupang, Selasa (26/05/2020) kemarin.

Baca: Gubernur NTT Minta Para Bupati Buka Pos Batas, Ini Alasannya

Akademisi Politeknik Negeri Kupang Melkiades Deddy Randu turut merespon kebijakan kehidupan new normal tersebut.

Menurut Randu, kesepakatan tersebut bisa menjadi kebijakan “buah simalakama” apabila pemerintah tidak melakukan kajian secara sungguh-sungguh. Artinya, kebijakan itu berada pada posisi serba salah.

“Walaupun kita yakin dan percaya bahwa pemerintah dalam segala struktur pasti sudah mempertimbangkan kebijakan tersebut sembari menyiapkan protokol ketat terkait hal itu,” ujar Doktor Ilmu Peternakan itu kepada VoxNtt.com, Rabu (27/05/2020) malam.

Ia mengatakan, pembatasan wilayah sebelumnya oleh sejumlah daerah di NTT sesungguhnya tidak secara signifikan mempengaruhi ekonomi masyarakat. Sebab  distribusi barang termasuk produk-produk pertanian masih boleh dilakukan dalam protokol yang disepakati.

Padahal menurut Randu, saat ini masalah ekonomi masyarakat NTT adalah terletak pada bagaimana pemerintah mempersuasi masyarakat agar tidak boleh takut berbelanja di pasar. Asal saja pasar dipersiapkan secara baik sesuai protokol Covid-19.

Kebijakan lain yang mungkin sudah harus digelorakan, lanjut dia, adalah bagaimana menyiapkan sistem pemasaran berbasis online untuk produk pertanian.

“Sebagaimana telah dipraktikan oleh mahasiswa kami dari Prodi TPT Politani Negeri Kupang atas Yohanes Nesi. Beliau memanfaatkan medsos untuk memasarkan sayur-sayur yang diproduksi sendiri,” demikian dia mencontohkan.

Randu berharap agar upaya menggelorakan ekonomi masyarakat NTT yang dicanangkan mulai 15 Juni 2020 nanti bisa berjalan dengan kerja sama multidimensi baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat.

Perguruan Tinggi juga diharapkan mengambil peran dalam mengedukasi masyarakat akan pentingnya menerapkan kehidupan new normal dan menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi produk pertanian bergizi.

Sementara itu, akademisi Undana Kupang Yeheskhial Roen menyebut pemberlakuan kehidupan new normal di tengah traffic NTT yang cenderung naik pasti akan berkorelasi positif terhadap risiko penyebaran Covid-19 di provinsi itu.

Bahkan menurut Roen, upaya pemutusan rantai penularan Covid-19 oleh semua pihak yang rela berkorban untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah akan sia-sia.

“Kita perlu ragu pemberlakuan new normal dalam  satu wilayah selalu didahului dengan beberapa syarat,” imbuhnya.

Pertama, kata Roen, apakah Covid-19 di NTT sudah dapat dikendalikan. Kedua, apakah tracing (pelacakan) terhadap pasien Covid-19 sudah tuntas. Ketiga, apakah risiko kasus pembawa virus corona dari luar sudah dikendalikan. Dan keempat, bagaimana dengan  kesiapan sistem kesehatan di NTT.

“Rasanya itu semua masih dalam proses penyempurnaan, jadi menurut saya sebaiknya ditahan dulu beberapa waktu ke depan sambil berbenah dan menanti trend-nya melandai baru masuk ke new normal,” usul Dosen di Fisip Undana itu.

Ia mengatakan, memang harus diakui pemberlakuan pembatasan wilayah sejak Maret hingga saat ini berdampak pada lesunya ekonomi di masyarakat, terutama kerentanan ekonomi rumah tangga.

Namun, lanjut dia, ketika dalam situasi wabah yang sampai saat ini masih terus terjadi, maka melonggarkan pembatasan di tengah tren Covid-19 NTT yang cenderung naik dengan argumentasi agar dapat mengairahkan ekonomi rumah tangga merupakan pilihan penuh risiko.

Pilihan minus malum yang dapat diambil menurut Roen, adalah pembatasan wilayah tetap diperpanjang, dengan catatan pemerintah perlu memikirkan bantalan sosial untuk mengatasi lemahnya ekonomi  rumah tangga.

Baca: PADMA Tanggapi Kebijakan Pemprov NTT di Tengah Wabah Corona

Kemudia, kata dia, perlu diaktifkan kembali local wisdom (kebijakan lokal) warga terkait dengan jiwa atau sikap genorisity (sifat murah hati/dermawan) yang ada dalam masyarakat itu sendiri.

Misalnya di Jawa Tengah, sebut Roen, ada “bantu tonggo” (bantu tetangga) atau Salatiga dengan program Luber (Lumbung Besar Bersama).

Baca: Rencana Sambut PMI di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Respon Keuskupan Agung Ende

“Nah, perlu juga dicari dan diaktifkan kembali local wisdom genorisity warga khas NTT, kalau itu ada pasti akan menjadi bantalan sosial berbasis sosio-kultural yang kuat karena berasal dari warga itu sendiri,” pinta kandidat Doktor Ilmu Sosial Atmaja itu.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba