Mbaru Lia di jalan Motang Rua Ruteng
alterntif text

Ruteng, Vox NTT – Iklim sejuk dan basah di Kota Ruteng membuat banyak orang rindu ingin pulang.

Bagi yang datang dari luar harus menyiapkan jacket untuk membungkus badan pada malam hari.

Karena letak ibu kota Kabupaten Manggarai itu berada di dataran tinggi, 1.200 meter di atas permukaan laut. Kota ini berada di kaki Gunung Anak Ranaka. Posisi tersebut yang membuat suhunya cukup dingin ketika malam hari.

Perbukitan hijau yang mengepung kota Ruteng membuatnya memiliki suhu lebih dingin dibanding kota-kota lain di Flores.

Kota kecil ini menempel di lereng landai sisi utara deret pegunungan hijau Mandusawu, di ketinggian 1.200 Mdpl.

Suhu udara di kota ini berkisar antara 13°C – 25°C dengan tingkat kelembaban mencapai 90 %. Selain suhu yang sangat dingin, Ruteng adalah kota hujan dengan intensitas yang cukup tinggi yakni 3,340 mm/tahun.

Kota Ruteng sendiri dilingkari berbagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi, Kampung adat Ruteng Pu’u adalah salah satunya.

Ruteng Pu’u merupakan satu – satunya kampung adat yang masih memiliki formasi kampung tradisional. Di sana, konstruksi bebatuan ala kampung tradisional orang Manggarai.

Di Ruteng Pu’u juga terdapat sepasang rumah adat beratap ijuk berbentuk kerucut.

Di bagian utara kota Ruteng terdapat sebuah bukit kecil bernama Golo Curu. Bukit ini merupakan tempat terbaik untuk menikmati pemandangan kota Ruteng dan sekitarnya.

Pada pagi hari, dari bukit ini Anda bisa menyaksikan matahari terbit menerjang kabut yang menutupi lembah.

Begitu pula di sore hari, meski terkadang kabut menghalangi pemandangan matahari terbenam, namun di saat – saat terbaik bisa menikmati matahari terbenam di celah – celah bukit dan hamparan persawahan.

Ketika malam hari tiba, tak banyak orang yang melakukan aktivitas di Kota Ruteng karena suhunya yang cukup dingin.

Baca Juga: Ruteng, Sampah dan Deno Kamelus

Namun, kini ada salah satu tempat menyuguhkan minuman tradisional yang mampu melawan dinginnya Kota Ruteng. Namanya Mbaru Lia.

Stan milik Fransiskus Ade Roni Jelatu ini menjual berbagai macam minuman tradisonal yang bahan dasarnya adalah rempah-rempah.

Mbaru Lia terletak di Jalan Motang Rua, tepat di samping Swalayan Bandung Utama Grup Ruteng.

Boy, begitu akrab menyapanya, mengolah jahe, cengkih, kunyit, kabulaga, pinang dan kayu manis menjadi minuman yang enak untuk dinikmati.

Alumnus SDK Ruteng 1 ini menjual 3 jenis olahan jahe yakni STMJ (Susu, telor ayam kampung, madu, dan jahe) Seper Jahe, Susu Jahe, Jasuke, Gingger Milk.

Harganya juga sangat murah dan mudah dijangkau, dari Rp 5.000 sampai Rp 20.000.

Ayah dua anak ini membuka usaha minuman jahe sejak Agustus tahun 2019 lalu.

Alasan Menjual Minuman Tradisional

Boy mengakua ia menjual minuman tradisional yang terbuat dari bahan dasar jahe karena kota Ruteng memiliki suhu yang cukup dingin.

Minuman jahe menurut dia, bisa melawan tingginya suhu dingin di Kota ruteng.

Apalagi, di Kota Ruteng masih jarang ditemukan tempat yang menjual minuman yang bahan dasarnya jahe.

Boy mengaku, selama ia bekerja di Jakarta sebagai peran pengganti dalam beberapa film layar lebar dan sinetron sangat merasakan kegunaan minuman jahe.

“Kami waktu syuting dulu kalau lagi capeh, sehingga konsumsi minuman yang bahan dasarnya jahe. Karena sangat membantu menjaga daya tahan tubuh,” katanya.

Selama bekerja di Jakarta, Boy sebagai peran pengganti dalam beberapa film layar lebar dan sinetron sangat merasakan kegunaan minuman jahe.

“Sehingga begitu saya balik ke Ruteng, sempat bingung mau buka usaha apa. Tapi setelah saya ingat waktu kerja di Jakarta sehingga saya memilih untuk menjual minuman tradisional yang bahan dasarnya jahe. Karena dampak untuk kesehatannya saya sudah alami langsung,” tambahnya lagi.

Boy mengungkapkan selain berwirausaha, niatnya menjual minuman tersebut guna mengajak masyarakat untuk memperhatikan kesehatan.

Sebab minuman jahe kata dia, memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan, apalagi minuman yang disuguhkan diolah secara manual.

Jahe herbal terasa nikmat ketika diolah menjadi minuman herbal berbasis tradisional.

Apalagi jahe bukan bahan kimia. Proses mengolah jahe ini dengan manual tanpa teknologi modern dan tanpa bahan pengawet.

Untuk sementara ia beli bahan di pasar dan petani jahe, karena kualitas jahenya lebih fresh.

Ke depannya ia mencoba belajar menanam jahe dalam ukuran banyak. Supaya jahenya lebih fresh kalau langsung diolah ketika baru dipanen.

“Saya masih menggunakan cara manual, sehingga masih natural. Tanpa ada bahan pengawet maupun bahan kimia. Sehingga selain untuk menghilangkan rasa haus, minuman ini juga berdampak pada kesehatan tubuh,” ungkap Boy.

Dengan modal pengalaman yang didapatkan selama di Jakarta, ia optimistis untuk fokus berwirausaha.

“Di Jakarta saya berteman dengan pebisnis sehingga ilmunya saya terapkan di Manggarai. Mereka mengajarkan saya banyak hal,” katanya.

Selama mengembara di Jakarta, Boy bergaul dengan beberapa tokoh bisnis seperti Sandiaga Uno dan beberapa artis seperti Iko Uwais, Daswin Pesi, Randy Pangalila, Robi Purba dan lainnya.

Boy saat bertemu dengan beberapa pebisnis di Jakarta

Karena mau mengabdi kepada kedua orangtuanya, sehingga ia memilih untuk tinggal dunia entertain dengan berwirausaha di kampung sendiri.

“Spontan tinggalkan dunia entertain, apalagi saya anak pertama. Saya punya tanggung jawab sebagai anak sulung dari empat bersaudara,” katanya.

Ia mangaku sewaktu-waktu bisa kembali ke dunia entertainment, namun spesial untuk layar lebar karena bayarannya lebih mahal. Kapanpun dibutuhkan ia mengaku siap.

“Sebagai penerus orangtua kita harus merawat mereka saat sudah tua. Saya inikan anak pertama, sehingga banyak tanggung jawab untuk keluarga juga. Sehingga saya memilih untuk balik ke kampung agar lebih dekat dengan keluarga,” katanya.

Ia mengaku, awal menjual minuman tersebut tak banyak masyarakat yang membelinya.

Namun, seiring perjalanan waktu begitu banyak orang yang mengunjungi tempat tersebut untuk menikmati minuman tradisional.

Para pembeli kata dia, dari berbagai kalangan, baik orangtua, anak muda, laki-laki maupun perempuan.

Bahkan sebelum pandemi Covid-19, 10 persen pembeli itu bule dan orang Manggarai 50 persen dan sisanya dari daerah lain.

“Puji Tuhan, awalnya orang Manggarai tidak tertarik. Tetapi ketika jahe itu dikolaborasi dengan rempah lainnya berdampak untuk kesehatan. Hampir 60 persen customer orang Manggarai. Banyak orang juga yang sudah mulai candu jahe,” katanya.

“Selain mempromosi rempah-rempah ke tingkat nasional. Saya juga mengajak orang muda untuk mengimbangi konsumsi,” ujarnya lagi

Bahkan selama di Manggarai Boy juga sudah berkarya untuk membuat film yang masih dalam garapan.

Film itu kata dia, karya asli Manggarai. Pemain film juga merupakan putra asli Manggarai.

Ia dan timnya juga baru saja meraih juara pertama lomba “Video Tolak Tambang” yang diselenggarakan oleh PMKRI Cabang Ruteng.

Boy dan timnya baru saja meraih juara pertama lomba “Video Tolak Tambang” yang diselenggarakan oleh PMKRI Cabang Ruteng.

 

Selain itu, ia juga bermimpi akan membuka sanggar action di Manggarai guna melatih anak muda untuk bermain film.

Kandungan Gizi Jahe dan Manfaat Jahe bagi Kesehatan

Jahe adalah jenis makanan akar yang memiliki rasa pedas dan terasa hangat apabila dikonsumsi.

Tanaman yang diperkirakan berasal dari India ini telah banyak dibudidayakan di berbagai negara seperti di Indonesia, India, Tiongkok dan negara-negara Afrika.

Jahe merupakan tanaman rimpang yang tumbuhnya menjalar di bawah permukaan tanah, serta dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas-ruasnya.

Jahe memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh manusia dan dapat dikonsumsi secara segar.

Ia bisa ditambahkan di berbagai hidangan makanan sebagai cita rasa. Jahe juga bisa diolah menjadi jamu, dodol jahe, permen jahe, selai jahe dan teh jahe.

Dalam bahasa Inggris, Jahe disebut dengan ginger. Sedangkan dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan zingiber officinale.

Jahe termasuk dalam keluarga zingiberaceae (temu-temuan). Di pasaran, pada umumnya kita dapat menemukan beberapa jenis jahe yaitu jahe gajah atau jahe badak, jahe kuning dan jahe merah.

Jahe mengandung berbagai nutrisi atau gizi serta mineral dan senyawa tumbuhan yang bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Berikut ini adalah beberapa manfaat Jahe bagi kesehatan tubuh kita yang dirangkum dari berbagai sumber:

Pertama, membantu mencegah Penyakit Kanker. Beberapa penelitian menunjukan bahwa Jahe memiliki senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan dan pengembangbiakan sel kanker pada usus besar dan sel-sel kanker pada lambung, pankreas dan kanker hati.

Kedua, memperlancar sistem pencernaan. Jahe memiliki banyak khasiat dan manfaat dalam membantu kelancaran sistem pencernaan terutama dalam hal membersihkan usus besar, memperlancar buang air besar dan membuang gas yang beracun.

Karena memilliki khasiat-khasiat ini, Jahe sering dijadikan obat alami dalam mengobati penyakit asam lambung (GERD) dan Sembelit.

Ketiga, meredakan rasa mual. Penelitan menunjukan bahwa beberapa kandungan yang terdapat didalam Jahe dapat secara efektif meredakan rasa mual seperti morning sickness, mabuk perjalanan dan mual pasca operasi.

Keempat, mengendalikan kekanan darah dan kadar kolesterol. Senyawa tumbuhan tertentu yang terkandung di dalam Jahe dapat membantu mengurangi hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Dengan cara mencegah gumpalan darah terbentuk di arteri dan pembuluh darah.

Kandungan dalam Jahe tersebut juga dapat menurunkan kadar kolesterol darah secara keseluruhan terutama kadar kolesterol LDL yang biasanya kita sebut dengan kolesterol jahat.

Kelima, menghilangkan bau mulut.Air Jahe juga dapat menghilangkan bau mulut.

Vitamin C yang terkandung dalam Jahe ini dapat membunuh bakteri di mulut yang menyebabkan bau mulut.

Caranya adalah dengan mencampurkan satu senduk air jahe ke dalam air hangat dan kumur selama beberapa menit.

Keenam, mengurangi pembengkakan dan peradangan. Gingerol yang dikandung oleh Jahe merupakan senyawa anti peradangan atau anti-inflamasi yang sangat ampuh.

Kandungan tersebut dapat mengurangi gejala pembengkakan dan peradangan serta meredakan rasa nyeri di sendi dan otot.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba