Sejumlah massa aksi sedang melakukan dialog dengan Sekertaris Daerah Matim Boni Hasudungan Siregar (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
alterntif text

Borong, Vox NTT-Bupati Manggarai Timur (Matim) kembali didatangi pendemo tolak pabrik semen dan tambang batu gamping di Luwuk dan Lingko Lolok, Desa Satar Punda Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Senin (13/7/2020).

Sebelumnya beberapa waktu lalu, Bupati Agas didemo oleh massa aksi dari PMKRI dan GMNI Manggarai. Kali ini Politisi PAN itu didatangi sejumlah pendemo yang tergabung dalam aliansi Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat (GEMPAR- MATIM).

Terpantau, saat aksi itu para massa aksi mengenakan baju serba hitam. Di halaman kantor bupati mereka melakukan orasi secara bergantian.

Mereka menuntut bupati Agas untuk mencabut izin lokasi pembangunan pabrik semen di Luwuk.

Dalam aksi itu mereka didampingi aparat Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Timur dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Usai berorasi mereka langsung diarahkan menuju ruang rapat kantor Bupati. Namun, saat itu bupati Agas Andreas tidak berada di kantor. Begitu pun wakil Bupati Matim, Jagur Stefanus.

Para massa aksi pun diterima oleh Sekertaris Daerah Matim, Boni Hasudungan Siregar dan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Sekda Boni mengatakan, Bupati Agas Andreas dan Wakil Bupati Jaghur Stefanus tengah melakukan tugas dinas yang sudah diagendakan.

“Mohon maaf hari ini pa bupati dan wakil tidak bersama-sama dengan kita, karena ada agenda sebelumnya. Pa Bupati ada di Kisol sedangkan pa wakil ada di Mukun,” ujarnya.

Mantan Kepala Badan Keuangan (BKD) itu pun berjanji akan menyampaikan pernyataan sikap dan tuntutan dari para pendemo kepada Bupati Agas.

“Semua pernyataan sikap dari teman-teman saya sudah terima nanti saya teruskan kepada pa Bupati,” kata Sekda Boni.

Sementara dalam pernyataan sikapnya Jendral Lapangan Gempar Iwan menerangkan, ada beberapa poin yang menjadi tuntutan kepada Bupati Agas.

Pertama, menolak rencana pembangunan pabrik semen di Luwuk. Kedua, menolak rencana pembangunan tambang batu gamping di Lengko Lolok.

Ketiga, mencabut izin lokasi pabrik semen dan tambang batu gamping.

Keempat mereka mendesak Bupati Manggarai Timur untuk merealisasikan MISI mengembangkan ekonomi unggulan berbasis pertanian organik, pariwisata berbasis komunitas, industry kecil, koperasi dan usaha menengah dan kecil masyarakat.

Selain itu mereka juga meminta Bupati Agas untuk merealisasikan misi menciptakan iklim investasi dan dunia usaha yang berwawasan lingkungan, adil dan pro rakyat.

Kelima, Gempar kata Iwan menagih janji pernyataan gubernur NTT pada tanggal 10 September 2018 “Tambang bukan pilihan yang baik untuk tingkat kanekonomi rakyat NTT”.

Penulis: Sandy Hayon

Editor: Irvan K