Yance Maring sedang memeriksa tanaman tomat miliknya yang menggunakan teknologi irigasi tetes (Foto: Are de Peskim/VoxNtt.com)
alterntif text

Maumere, Vox NTT- Yance Maring (31) mendadak viral belakangan ini. Sejumlah pejabat mulai dari level Kepala Bagian di Setda Kabupaten Sikka sampai Gubernur NTT berkunjung ke kebun miliknya.

Dalam kunjungannya ke kebun di Wailiti, pada Minggu (26/7/2020) lalu, Gubernur Laiskodat mengatakan model irigasi tetes juga sudah mulai digunakan di Timor. Ia mencontohkan negara-negara Afrika yang bisa menghasilkan pangan dengan menggunakan irigasi tetes.

“Di Afrika mereka bisa menghasilkan kebutuhan pangan dengan irigasi tetes,” terangnya.

Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat dan Bupati Sikka, Robi Idong saat mengunjungi kebun hortikultur dengan Irigasi Tetes milik Yance Maring di Waikiti, Alok Barat, Sikka, Minggu 26 Juli 2020 (Foto: Are de Peskim)

Bukan sekadar itu, sistem pengairan yang diterapkan Yance pada lahan seluas 1 Ha tersebut menggunakan sistem teknologi semi-robotik.

Cukup dengan mengetik perintah lewat SMS, mesin secara otomatis melakukan penyiraman. Robot berupa instalasi pipa dan selang tersebut memiliki saraf pusat bernama modul.

Yance sendiri hanyalah pemuda Kampung Urut, Dusun Pelibaler, Desa Kloangpopot, Kecamatan Doreng, Sikka.

Ketika Bu Julie Melirik Petani di Tengah Polemik Tambang

Lantas, bagaimana ia berkenalan dan teknologi Israel? Bagaimana ia membangun usaha pertanian dengan menggunakan sistem irigasi tetes di Sikka?

Belajar di Israel

Sehabis menamatkan pendidikan pada Jurusan Program Studi Manajemen Agribisnis pada Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering Politekni Pertanian Negeri Kupang, Yance pulang ke Maumere.

Ia sempat bekerja pada Caritas Maumere, mendampingi petani kakao di beberapa desa di Sikka.

Akhirnya, pada 2018 lalu, setelah lulus seleksi, Ia bersama sejumlah sarjana dan diploma Pertanian dari NTT diberangkatkan ke Israel.

Panen perdana tomat dari kebun irigasi tetes (Foto: Istimewa)

Yance mengikuti program magang yang diselenggarakan Arafah Internasional Center For Agriculture Training.

Sembilan bulan ia belajar sambil bekerja. Ada sesi teori di kelas dan sesi praktik di kebun. Berpindah dari satu kebun ke kebun lain.

“Di sana saya alami sendiri bagaimana pertanian Israel sangat maju. Setiap petani mengerjakan lahan berhektar-hektar. Setiap Minggu pangan dikepak dan dikirim ke luar,” ungkapnya suatu waktu.

Meski demikian, menurutnya petani Israel tak mudah berbagi pengetahuan. Belum lagi masalah bahasa.

“Harus cari tahu sendiri dari sumber-sumber lain,” ungkapnya.

Sempat Gagal

Niatnya untuk membuka kebun hortikultur di Sikka dalam skala besar tak pernah padam.

“Kasian kita. Kita punya tanah, punya air, punya tenaga tetapi pasokan pangan dari luar. Orang luar justru datang kontrak tanah di Maumere untuk buka kebun hortikultur,” tandasnya.

Bersama seorang anak muda dari kampungnya, mereka berencana membuka kebun cabai. Ia pun mengontrak tanah di daerah Ihigetegera, Desa Watumilok Kecamatan Kangae. Namun, sayang terkendala modal yang harusnya disokong kawannya, rencana pun batal.

Tapi kegagalan bukan halangan baginya. Dengan bantuan sang kakak, Nong Files, Yance memantapkan diri untuk membangun usaha budidaya hortikultur.

Tidak hanya motivasi, sang kakak yang bekerja pada Dinas Pertanian Kabupaten Sikka tersebut turut membantu menambal bolong keuangan petani muda ini.

Ia lantas menyewa tanah di Wailiti, Kecamatan Alok Barat. Di tahun 2019, lahan tersebut ditanami cabai dan tomat.

Saat itu, ia belum menggunakan irigasi tetes. Penyiraman dilakukan secara manual. Untuk bekerja di kebun Yance dibantu seorang adik sepupunya.

Akan tetapi, cuaca yang panas membuat produksi tak sesuai harapan.

“Waktu itu cuaca panas dan kami kerja masih manual. Kami harus timba air dan siram. Belum lagi pemupukan dan perawatan tanaman. Kami sampai gosong dan kurus karena terus-terusan di panas,” ceritanya tentang masa awal usahanya itu.

Meski sempat menjual hasil panen, Yance mengaku mengalami kerugian.

Namun, sekali lagi ia tak menyerah dengan keadaan. Menurutnya, jalan satu-satunya mengatasi persoalannya adalah dengan mengadopsi apa yang dilihatnya di Israel yakni Irigasi Tetes.

Ia mulai mengumpulkan informasi dan belajar secara otodidak dari internet. Lewat internet pula ia membangun relasi dengan pegiat-pegiat irigasi tetes dan perusahaan-perusahaan yang mampu menyediakan alat-alat yang dibutuhkan.

Pemandangan lahan milik Yance Maring dengan sistim irigasi tetes (Foto: Are de Peskim/VoxNtt.com)

Peralatan yang digunakannya sekarang dipesan langsung dari Cina. Ini tentu butuh biaya yang besar.

“Saya akses modal sebagian juga dari bank. Untuk ini semua butuh sekitar 40-an juta,” terangnya.

Menurutnya, jumlah tersebut terbilang hemat. Pasalnya instalasi yang ada bisa digunakan bertahun-tahun. Selain itu ada banyak keuntungan lain.

“Dengan sistem ini kita bisa menghemat biaya tenaga kerja karena tidak butuh banyak orang untuk bekerja,” tandasnya.

Penyiraman dan pemupukan dilakukan bersamaan menggunakan istalasi irigasi tetes. Gulma pun jarang karena air langsung ke pangkal pohon. Pasokan air pun sekarang sudah aman dengan ada sumur bor.

Sehari-hari ia dibantu saudarinya Yani dan suami untuk merawat tanaman.

Baru setengah lahan dipakai. Sisanya ia tanam jagung hibrida.

Saat ini ada 3000 pohon cabai besar, 1500 pohon tomat, 1500 pohon cabai keriting, dan 1500 pohon cabai rawit. Ada pula ratusan tanaman semangka yang menurutnya masih diujicobakan budidayanya.

“Bisa untung, tergantung harga di pasaran” ujarnya optimis.

Saat ini tomat sudah mulai dipanen. Panen pertama 900 kg dari estimasi 3 ton. Cabai besar sebentar lagi juga akan dipanen.

Jauh dalam angannya, dia berharap punya lahan kebun yang lebih luas yang bisa sekaligus dijadikan tempat berwisata.

Terlepas dari animo besar Pemda maupun Pemprov untuk mendukungnya, Yance hanya punya keinginan sederhana. Yance ingin anak-anak muda di Sikka bersatu dan kembali masuk kebun.

“Saya siap berbagi ilmu terutama di desa-desa jika dibutuhkan,” tandasnya.

Penulis: Are De Peskim

Editor: Irvan K