alterntif text

Oleh: Yergo Arnaf *

Momentum Sumpah Pemuda baru saja lewat. Realitas tersebut selalu menyeret amanat historis yang begitu dalam untuk maknai. Namun apakah spiritnya masih bergeliat di hati dan pikiran kaum muda?  Ada kerisauan jangan sampai euforia Sumpah Pemuda lebih bersifat momentum belaka.

Hentakannya sebatas bergulat di saat perayaan hari jadinya. Terutama sangat menggelikan bila perayaan Sumpah Pemuda lahir dari basis refleksi yang dangkal.

Ulasan ini sedang mencoba mengajak khayalak  muda untuk memantapkan permenungan serta tidak menghidupi suatu pengalaman sejarah dalam jebakan seremonial belaka.

Sumpah Pemuda, sebuah momentum sejarah yang diperingati setiap 28 Oktober seutuhnya menegaskan nasionalisme kaum muda zaman itu. Produk pemikiran mereka mewujud dalam idealisme yang kuat untuk berbakti bagi bangsa.

Idealisme tersebut menjadi jawaban konkret atas ragam krisis yang dialami bangsa kala itu. Maka patut diteladani, sebuah idealisme yang bertolak dari kedalaman konteks.

Pertanyaan aktual atas fakta historis tersebut adalah apakah generasi muda saat ini telah membawa nilai-nilai Sumpah Pemuda ke dalam suatu tindakan praktis?

Mahasiswa sebagai barisan intelektual adalah tumpuan final bagi pembangunan bangsa di masa depan. Identitasnya mesti dipertajam lewat keutamaan karakter dan kompetensi keilmuan sehingga kelak mampu berkarya dan berbuat sesuatu demi terwujudnya kesejahteraan hidup masyarakat.

Rhenald Kasali seorang pakar manajemen pernah berkata “Kalau kamu mau lihat masa depan sebuah bangsa, lihatlah generasi mudanya. Kalau generasi mudanya lebih cenderung galau dan apatis, maka sudah bisa ditebak nasib bangsa itu di masa depan”.

Logika tersebut progresif dan sangat visioner, bahwa perspektif ideal dalam menguji keselamatan pembangunan bangsa di masa depan bukan bertumpuh pada analisis kepemimpinan dan kebijakan pembangunan semata tetapi analisis kritis terhadap mental generasi muda juga merupakan keharusan mutlak.

Mengapa generasi muda? Sebab kelompok sosial ini yang akan memimpin serta menentukan arah pembangunan bangsa di kemudian hari.

Refleksi bagi kelompok mahasiswa saat ini yakni bagaimana ia mempersiapkan diri agar mampu menciptakan perubahan bagi pembangunan bangsa.

Menata karakter serta kompetensi keilmuan ialah tuntutan sekaligus jawaban paling substantif. Karakter merupakan kekuatan paling ampuh dan mewakili intgritas dan militansi seseorang.

Kekuatan karakter menempatkan seseorang ke dalam kategori pribadi tangguh yang tak mudah tergerus oleh ragam godaan, rayuan, maupun tantangan. Meski demikian, untuk mencapai keutuhannya, karakter mutlak bertolak dari lintasan pengalaman proses dan dinamika sebagai panglimanya.

Seorang mahasiswa dengan status intelektual berfungsi optimal ketika ia secara sadar dan bertanggung jawab memproduksi gagasan-gagasan kritis di bidang keilmuannya untuk menjawab segala bentuk dilema kehidupan masyarakat.

Tuntutan tersebut semakin tinggi kadar intensitas kepentingannya manakala ia dihadapkan pada sekelumit krisis horizontal yang dewasa ini menggerus habis harmoni hidup berbangsa.

Prinsip kecendekiawanan seseorang akan diuji dalam konteks sejauh mana ia mampu menghadirkan suatu proses pendidikan dan pencerdasan ke dalam ruang publik.

Oleh sebab itu hal paling utama dari seorang intelektual adalah kepedulian serta pengabdiannya terhadap bangsanya melalui kompetensi keilmuan yang dimiliki.

Dilema dan Krisis Bangsa

Fakta intoleransi yang akhir-akhir ini marak mencuat dan memasuki realitas momentum pilkada DKI tampil sebagai sebuah realitas yang amat memalukan.

Potret buram tersebut membuat nilai-nilai Pancasila tergerus dan mengalami goncangan di rumahnya sendiri. Pancasila nyaris kehilangan substansi maupun eksistensinya.

Calon pemimpin seperti Ahok menjadi masalah bagi sebagian kelompok masyarakat hanya disebabkan perkara identitas kepercayaan agamanya.

Persoalan ini tidak saja membuat spirit toleransi dan keberagaman kembali stagnan, tetapi juga menjadi akar kebuntuan kualitas berdemokrasi.

Tak hanya itu, fenomena korupsi baik di tubuh eksekutif dan legislatif pusat maupun daerah sampai saat ini juga masih tetap menjadi krisis kebangsaan yang tak kunjung padam.

Korupsi cukup tuntas menjadi pemicu utama pembangunan berjalan di tempat. Hampir dapat dipastikan akar kemunculan perilaku korup selalu bersumber pada krisis kejujuran dan karakter moral.

Dua hal ini sangat sederhana namun langkah dalam hidup berbangsa dewasa ini. Tak heran, sebagian orang dengan mudah larut dalam jebakan oppurtunisme, mencari keuntungan pribadi dengan mengabaikan kepentingan umum.

Problem kebijakan-kebijakan pembangunan di level lokal juga masih menjadi momok yang memprihatinkan. Dalam beberapa kasus, terjadi pengabaian struktrual terhadap aspirasi maupun kepentingan rakyat.

Rakyat pun terjerumus ke dalam korban kepentingan oknum penguasa lokal. Seperti konflik Pantai Pede di Kabupaten Manggarai Barat provinsi NTT. Kebijakan privatisasi Pantai Pede selaku aset lokal mendapat resistensi masyarakat.

Kebijakan tersebut dinilai memantulkan orientasi kepentingan pada segelintir elit-elit tertentu. Di sana pengabaian terhadap rakyat pun terjadi secara signifikan.

Padahal kebijakan-kebijakan pemerintah ialah keputusan yang harus selalu bertumpu pada persoalan dasar rakyat sebagai jalan merealisasikan tujuan pembangunan nasional.

Beragam konflik tersebut di atas adalah rentetan potensi destruktif bagi kelangsungan hidup berbangsa. Tentu masih terdapat banyak permasalahan bangsa yang menyebar lintassektor.

Terhadap persoalan itu, apa yang harus dilakukan mahasiswa sebagai generasi muda pembaharu pembangunan bangsa di masa depan? Pertanyaan ini sontak mendobrak ruang kesadaran kita terutama elemen mahasiswa hari ini agar mulai dan terus merevitalisasi sekaligus menggugat identitasnya.

Meramu Karya dan Kultur Ilmiah

Berkarya adalah segelintir aktivitas atau kegiatan yang sering dicetuskan oleh mahasiswa baik pribadi maupun mereka yang hidup dan berproses di bawah payung organisasi, baik organisasi kampus (Lembaga-lembaga kemahasiswaan) maupun organisasi kemasyarakatan mahasiswa (kelompok Cipayung).

Terutama bagi kalangan aktivis mahasiswa  di organisasi kemasyarakatan, berkarya ialah sebuah manifestasi ideologi sekaligus upaya mendaratkan visi misi serta eksistensi organisasi ke atas permukaan publik.

Di lain sisi, berkarya, bagi para aktivis mahasiswa merupakan konkretisasi kesadaran intelektual dan sosial. Mereka memperjuangkan tercapainya masyarakat yang adil dan makmur, sebuah kultur sosial yang lepas dari tiranikepentingan oknum-oknum tertentu.

Karya tersebut mengemuka dalam ragam bentuk, antara lain aktif melakukan kajian tentang persoalan-persoalan kemasyarakatan dan berupaya menyelesaikannya, advokasi masalah publik, edukasi dan ragam aksi pemberdayaan masyarakat, mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah baik di level nasional maupun lokal, audiensi dengan pemerintah, dan sebagainya.

Sementara kultur ilmiah ialah sebuah atmosfer pada diri seseorang yang memancarkan semangat ilmiah. Kultur ilmiah lahir dari sebuah proses dan dinamika dalam ranah intelektualitas.

Aktif mengadakan diskusi, pendalaman spesifikasi ilmu, seminar, berorganisasi, analisis dan kajian masalah publik lalu menawarkan alternatif solusi, pemberdayaan serta edukasi masyarakat adalah implementasi khas kultur ilmiah.

Pergumulan aktif seorang mahasiswa hidup dalam segelintir aktivitas ilmiah tersebut membuatnya memiliki kecenderungan praktis berkarakter ilmiah.

Kultur ilmiah bertujuan memperkuat kesadaran seorang mahasiswa sebagai kaum intelektual agar kapasitas ilmunya dapat ia transformasikan demi perubahan sosial.

Ini lah babak akhir perjalanan intelektualitas, bagaimana seseorang menjawab persoalan rakyat lewat kualitas kelimuannya. Dengan demikian, kultur ilmiah bermuara pada pembentukan karakter dan kedalaman kompetensi keilmuan.

Membangun semangat ilmiah menjadi semakin fundamental ketika bangsa ini terus dilanda beragam konflik, apalagi cuaca kultural sebagian mahasiswa dewasa ini larut dan tenggelam dalam jebakan hedonisme, apatisme sosial, dan konsumerisme.

Semoga kelompok mahasiswa tetap mampu merefleksikan identitasnya sebagai intelektual pembangunan bangsa di masa depan dengan terus menerus berbenah diri, mengembangkan karakter dan kompetensi keilmuannya sehingga mampu berperan aktif di dalam masyarakat.

*Penulis adalah mahasiswa Kebijakan Publik pada Program Pasca Sarjana Universitas Merdeka Malang dan aktif di Komunitas Ngobrol Pintar (NgoPi) Mahasiswa Manggarai – Malang