Tampak ibu-ibu dari masing-masing agama berbaur dalam acara menyambut calon Bupati Ende dari pasangan Marsel-Djafar (Foto : Ian Bala/Vox NTT)

Ende, Vox NTT- Keharmonisan sangat terasa di sebuah kampung kecil di wilayah Selatan, Kabupaten Ende, NTT. Meski menganut dua aliran agama yang berbeda, namun desa yang berpenduduk sekitar 50 kepala keluarga ini dapat hidup rukun berdampingan.

Dalam kehidupan setiap hari, mereka tampak akur dan rukun. Tidak ada gesekan dan saling menghormati. Toleransi antar umat beragama pun sangat terjaga baik.

Kampung itu bernama Kojanana, Desa Ratemangga di wilayah Kecamatan Ndori. Kampung ini persis berada di wilayah Selatan Pulau Flores.

Selain panorama yang masih asli, penduduk yang ada di kampung balik bukit itu menganut dua agama yang berbeda yakni Katolik dan Islam. Sementara secara adat istiadat, kedua penganut ini masih satu kesatuan warisan dari leluhur.

Hal ini ditandai dengan rumah adat yang berdiri tegak di antara Mushola dan Kapela.

Dari catatan desa yang dihimpun Voxntt.com, ada sekitar 30 kepala keluarga penganut agama Katolik dan 20 kepala keluarga penganut Islam.

Menariknya, mereka dapat hidup rukun dan nyaman meski berbeda keyakinan dan agama. Bahkan pada beberapa kegiatan desa atau seremonial adat, mereka berbaur menjadi satu dan bekerja sama.

Kerukunan tersebut dapat terlihat dari aktivitas warga setiap hari. Tampak jelas saat mereka menyambut rombongan calon bupati Kabupaten Ende dari pasangan Marselinus Y. W. Petu dan H. Djafar Haji Achmad beberapa waktu lalu.

Begitu pula saat kegiatan sosial kemasyarakatan seperti membangun Mushola dan Kapela. Kedua penganut agama ini justru saling bergotong royong.

Pemuka agama Islam, Imam Abdulah Mbula mengaku bahwa, kegiatan membangun Mushola juga melibatkan umat Katolik. Tradisi ini, menurut Abdulah sudah berlaku secara turun temurun.

Umat Islam juga turut terlibat pembangunan Kapela di wilayah tersebut. Bahkan, keduanya  saling menyumbang material untuk membangun tempat ibadah.

“Kalau gotong royong sudah biasa terjadi di sini. Ini kami lagi bangun Mushola, dan umat Katolik juga memberi sumbangan. Kami sangat damai di sini,”ungkap Imam Abdullah.

Hal serupa juga diungkapkan, Kepala Desa Ratemangga, Herman Laka. Kehidupan harmonis, rukun, toleransi dan gotong royong, kata dia, sudah diletak sejak nenek moyang.

Ia mengaku, masyarakat yang bermukim di kampung Kojanana adalah keluarga yang berasal dari keturunan yang sama. Sehingga warga sudah paham dan saling mengerti.

“(Toleransi) memang sudah sejak dari dulu nenek moyang. Yah, karena semua masih keluarga. Jadi, semua damai,”katanya.

Simbol toleransi, jelas dia, juga terjadi pada setiap hari kebesaran agama. Masing-masing saling menghormati dan selalu bersilaturahmi.

Begitupun dalam upacara adat Lio, warga selalu merayakan secara bersama-sama.

“Yah, sudah terjadi setiap tahun. Kehidupan di sini selalu berdampingan. Jadi, kampung ini seperti miniatur Indonesia,”ucap Herman.

Penulis : Ian Bala

Editor: Irvan K

alterntif text