Pius Rengka

Oleh: Pius Rengka

Metafora jalan selalu pas. Jalan Timor Raya, sebagai misal. Saban hari macet. Puncak kemacetan, terjadi pagi hari, di jembatan tak jauh dari markas Brimob, hingga depan kampus Unwira, di Jl. Ahmad Yani. Begitupun di jembatan Liliba.

Banyak orang tahu, jembatan Liliba, tak hanya layak sebagai lokasi paling patut untuk buang diri demi bunuh diri, tetapi jembatan itu pun kian tak sanggup menerima beban perubahan zaman. Korban bunuh diri cukup banyak, meski ada juga yang gagal tak jadi mati. Cita-cita mati tertunda.  Motif bunuh diri macam-macam. Ada di antaranya lantaran pasangan kasih beralih perhatian ke orang lain. Ada juga di antaranya nekad buang diri di sana hanya karena tak sanggup menjemput masa depan dengan cara biasa. Banyak orang mulai nyindir dan nyinyir.

Bagaimanakah kita memahami kenyataan itu? Bagaimana pula kita memaklumi kapasitas Pemerintah Kota? Adakah problem serius yang sedang melanda warga? Adakah situasi krisis di tepi birokrasi yang terkesan mulai macet?

Informasi yang diperoleh dari sumber kredibel, menyebutkan, saban bulan kendaraan bermotor laku jual 1350 unit (motor dan mobil). Entahlah kendaraan itu mengendap di Kupang ataukah dibawa pergi ke seluruh Pulau Timor, kita tak tahu. Tetapi, fakta jelas, pertumbuhan kendaraan motor (motor dan mobil) terus menanjak. Jalan tak beranjak.

Implikasi jelas. Jalan padat, pompa bensin penuh riuh kendaraan mengisi bahan bakar. Kecelakaan, pun seiring sejalan. Pemerintah Kota terkesiap. Jalur jalan diperlebar, di tengah badai hujan protes. Jaringan pipa putus, rakyat meruak. Lawan politik senyum menuding.

Kecuali kemacetan terjadi di mana-mana,  di bilangan Jl. Sudirman, Kuanino, depan deretan toko bangunan, jalan berkelok. Upaya memperlebar jalan di situ sepertinya  muskil dilakukan, karena bangunan permanen sudah ada di sana sejak lama, entah karena salah jalan atau lantaran kebijakan pemerintah sebelumnya serba boleh asal ada ole-ole.

Kebijakan serba boleh biasanya dibolehkan ole-ole, pelicin sosial, pelancar kolusi, dan terutama kuatnya hasrat serakah pemegang kuasa yang tak terbendung. Kuat kesan, pemegang kuasa lemah. Kemiskinan pulalah penyebab pokok ditambah moral lemah. Daging terlalu kuat menguasai roh. Tetapi, itu kisah masa silam.

Kiat Pemerintahan Kota kini, tentu saja ada. Pemerintah kota di bawah kepemimpinan Pak Jefry Riwukore – Herman Man, pasti menyiapkan dana banyak untuk memperlancar jalan keluar masuk desa dan lurah. Jalan dipoles hotmix hingga arus keluar masuk jalan lingkungan pun kian lancar.  Kota ditata, diatur dan dirias agar Kupang layak disebut kota beradab, kota budaya, kota modern. Hukum pasti ditegakkan, agar lekas jelas siapa bermain apa di balik ini semua sebelumnya.

Seiring dengan itu, konon, staf birokrasi mesti segera diurus agar segala sesuatu dapat baik terurus. Mengurus birokrasi, memang tak jauh dari kusut  politik. Karena itu team sukses politik, siapa pun mereka dan apa pun mungkin kasiptas sosialnya, perlu lekas tahu diri dan sadar diri, terutama ukur diri. Hal itu penting agar roh kebaikan Jefry-Herman berjalan dengan pas, layak dan pantas.

Riuh team sukses, tak perlu bikin diri amat utama dan penting, karena sesungguhnya juga team sukses itu tak penting amat bila dilihat dari skala pengaruh sosial kesuksesan. Jangan-jangan team sukses yang selalu meruyak kebijakan di kota tak lain dari metamorphosa dari premanisme berbaju blok politik sukses. Para team sukses tak lebih dari sekadar para pelancar kemenangan dengan skala yang sangat terbatas.

Para team sukses, atau yang merasa diri buat sukses Jefry-Herman, perlu agak menepi bukan saja demi tahu diri dan ukur diri, tetapi demi mengurangi aneka kemacetan yang kian padat hari-hari ini.

Meski demikian, kita sama mahfum. Beberapa hal, entah itu apa, konon masih belum dirapikan Jefry-Herman. Kita semua sama menanti, kapankah gerangan semua janji politik mulai lunas diurus Pemerintah Kota. Pertanyaan ini kian meluas dan, tentu saja, menimbulkan desas-desus.

Pertumbuhan alami kota, kian bergeliat. Banyak kalangan orang luar menyebutkan, pembangunan fisik kota berlari kian lekas, terutama pembangunan gedung, ruko dan hotel. Bangunan di tepi pantai kian mengepung pandangan dan ruang bebas warga kota. Jika dicari para pemain yang bermain-main di sana, tak ada jawab lain kecuali mainan para orang “KUAT”.

Orang KUAT. Kuat modal, kuat backing, kuat kuasa dan juga mungkin kuat lain-lain termasuk kelainan masa Orde Baru.

Nah, jika kita meninggalkan Kota Kupang cukup saja sebulan, maka kita terperangah tatkala pulang menyaksikan kota sudah kian padat hutan beton, dan iringan kendaraan meriung di jalan raya Kota Kupang. Dalam banyak hal Kota Kupang bergegas melaju cepat, dan nyaris ditakdirkan menjadi Kota Ruko di NTT.

Sayangnya PLN bukan lagi menjadi perusahaan listrik Negara, melainkan seperti perusahaan lilin nasional. Bagi pedagang lilin, tentu saja, untung. Listrik padam, lilin bertindak. Tetapi, tak boleh begitu untuk seterusnya.

Di lain sisi, rumah inap berjangka waktu pendek di Kota Kupang bertumbuh di mana-mana. Pembangunan rumah kos merebak bak jamur di  musim hujan. Tetapi, satu fakta lain yang nyaris membuat kita risau, ketika pertumbuhan rumah dan toko, hotel dan rumah kos kian tinggi melaju, problem air kian menjelang.  

Jaringan air minum yang dijanjikan Jefry-Herman berkali-kali, dinanti-nanti sampai hari ini. Janji jaringan iar minum masuk rumah warga siang malam, sepertinya siang malam juga warga kota merana pikul air pake tangki masuk ruang warga. Maka, kesan undecicive, mulai meruak. Kesan Pemerintahan Lemah mulai tersiar ke mana-mana. Tetapi, saya masih percaya. Waktu setahun dianggap sebagai tahun orientasi.

Masuk akal, bila Walikota fokus urus air di Kota Kupang. Kita pun mahfum dan kita berdoa sama-sama agar problem air di Kota Kupang tak lama lagi diurus tuntas. Doa kita, tentu saja doa yang sama diucapkan para politisi, entah politisi di legislative maupun di partai politik. Partai politik dan legislative, sama memecahkan masalah kota bukan hanya diletakkan pada Pak Walikota dan rombongan eksekutif yang mengurus eksekusi pembangunan.

Namun, kita risau. Hari-hari belakangan ini, ribuan para Calon Legislatif dari 16 partai politik hilir mudik urus cermin untuk menyaksikan dan memastikan  tabiat nasib senyum sendiri. Semoga mereka tak lupa, bahwa semua kita punya masa silam.

alterntif text