Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Setelah Matahari Terbenam
Sastra

Setelah Matahari Terbenam

By Redaksi19 Agustus 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-Puisi Putra Niron

Setelah Matahari Terbenam

Kekasih saya adalah mata saya.

Saya mencintai mata ini dengan segenap hati.

Mata adalah alat terbaik untuk mencintai.

Mata apa saja.

Ketika mata mati,

Cinta juga pergi.

Sejak kapan orang mencintai tanpa melihat.

Ya sejak puisi ini tidak lagi ditulis dengan mata. Tetapi dengan tangan.

Tangan juga memiliki mata.

Lalu adakah alasan untuk menyangkal bahwa cinta itu berasal dari mata?

Mata bisa melihat

Bisa mengecap,

Bisa merasa.

Lalu apa yang terjadi setelah mata mati?

Tidak ada apa-apa yang terjadi,

Selain gelap.

Terlebih setelah matahari terbenam.

Saumlaki, Agustus 18

 

Arloji Ayah

Perempuan,

Kau masih ingat

Arloji ayah waktu itu?

Di ujung jarumnya ada rindu.

Ada rindu ibu.

Jika kau ingin,

Aku akan memutar jarumnya.

Biar kita lihat kisah cinta mereka

Sebelum detak jarumnya sekarat dan mati.

Maumere, November 16

Kau Bisa Apa

Kau bisa menulis sajak?

Tidak.

Bibir saya kaku,

Tanganku gemetar.

Kepala ikut membesar

Jika aku menulis.

Lalu kau bisa apa?

Aku hanya bisa menulis rindu,

Dan menitipkannya pada angin.

Wairpelit, September 16

Air Mata

Saya pernah bermimpi,

Kau tidak akan turun lagi

Semenjak sebilah pedang menembus hatinya.

Lalu kau masih saja sakit?

Aku tak ingin terjaga.

Di sakitnya ada kau yang tertahan.

Dan di sakitmu ada dia yang tertawa.

Dia tersayat di hati.

Kau tak kunjung merintih.

Wairpelit, 16

*Putra Niron adalah penulis kumpulan berjudul ‘Kami dan Perjamuan Terakhir’, penerbit Carol Maumere, 2018. Saat ini penulis tinggal di Ambon.

Previous ArticleMenanti Ketegasan Elias Djo
Next Article Mandi di Kali Aemau, Dua Bocah Ditemukan Tak Bernyawa

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.