Pegiat pangan lokal (sorgum) Maria Loretha sedang memberikan bibit sorgum secara simbolik pada sela-sela rembuk di Detusoko (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Ende, Vox NTT-Perhimpunan Petani Pangan Lokal (P3L) Nusa Tenggara Timur menyelenggara rembuk pangan di Dusun Wolobudu, Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Jumat (5/10/2018).

Rembuk kali ini kembali membahas tentang sorgum sekaligus menguatkan kelompok tani yang ada di Flores-Lembata.

Ketua P3L NTT Maria Loretha, menegaskan bahwa tanaman lokal sorgum merupakan solusi untuk mencegah atau mengatasi gizi buruk. Sebab menurut dia, tingkat nutrisi sorgum cukup tinggi untuk kesehatan dibanding nasi dan jagung.

“Itu hasil penelitian dari ITB. Dibuktikan bahwa sorgum memiliki zat nutrisi untuk kesehatan,” ucap Maria di sela-sela kegiatan rembuk.

Maria Loretha sedang memberikan keterangan kepada awak media usia Rembuk Pangan Lokal NTT (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Maria menjelaskan, sorgum merupakan tanaman serba guna yang dapat digunakan untuk pangan lokal, pakan ternak dan bahan baku industri.

Ia menceritakan pada zaman dahulu misalnya, sorgum adalah makanan khas masyarakat Flores. Selain itu pula sorgum juga termasuk makanan adat sajian leluhur.

“Ini soal peradaban bahwa makanan (sorgum) ini sangat penting di Flores-Lembata. Sebagai sesajian untuk nenek moyang,” katanya.

Ia menjelaskan, target P3L adalah untuk memanfaatkan lahan kering dan lahan tidur. Dalam catatan Maria, sekitar 80 persen lahan kering dan lahan tidur terdapat di Flores dan Lembata.

“Memang kita tidak mengganggu lahan basah, itu tidak. Sekarang banyak orang berkonsentrasi di lahan basah. Lahan kering orang biar begitu saja. Ya, kalau dibiarkan siapa yang berani berbuat untuk menghasilkan sesuatu,” kata Maria.

Perkembangan tanaman sorgum di NTT, kata Maria, masih menyebar di daratan Flores dan Lembata.

Di Flores hanya di Kotabaru, Kabupaten Ende dan Kabupaten Flores Timur. Kemudian yang sudah berkembang lagi di Kabupaten Lembata.

Ia menjelaskan, tantangan yang paling berat adalah mindset atau cara pandang masyarakat. Masyarakat selalu mengukur segala sesuatu dengan uang.

“Kendala paling besar disitu. Kita kerja dulu, hasil dulu baru kita pikir uang. Uang memang sudah pasti tapi tidak semuda kita yang pikirkan,” ucap Maria.

Ia berharap agar pola atau cara berpikir seperti itu segara dihentikan dan memulai berpikir yang rasional. Dan juga diharapkan kepada masyarakat terutama para kelompok tani untuk tetap mengembangkan proses membudidayakan tanaman sorgum.

 

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba