Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Aku di Antara Molan Maren dan Foto Pastor
Sastra

Aku di Antara Molan Maren dan Foto Pastor

By Redaksi28 Oktober 20185 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Illustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

                         *)Cerpen Rian Odel

Biasanya sebelum tidur malam bersama ayah, cicak di atas kelambu selalu memberi kode suara sebanyak tiga kali. Aku merasa segar dibuai embun tentang dongeng-dongeng, mitos Penimu’ulolon dan cerita rakyat masa purba tentang asal-usul mama dan ayah.

Telingaku yang bernanah jorok tiba-tiba disembuhkan oleh roh yang keluar dari lidah ayah sebab menurut keyakinan adat kampungku, setiap kalimat yang keluar dari lidah ayah mengandung kekuatan roh TuanWo’ yang akan menyusup sampai ke jantung.

Selain itu, cerita tentang asal mula kebenaran selalu kutangkap dari ayah yang sudah mahir berbahasa adat, entah kidung-kidung untuk memuliakan AmoNimonRian atau juga para dewaNya seperti Lia dan Loyo yang selalu menyinari bumi.

Kidung-kidung puitis selalu mengalir dan menikam kepalaku seperti air hujan di akhir Desember (sebab di kampungku, air hujan dipakai untuk mandi, minum, masak, cuci pakaian dan lubang terjorok di tubuh manusia).

Ayah bahkan pernah menganjurkan agar aku mewarisi profesi termulia yaitu menjadi molanmaren untuk membantu setiap orang yang sakit di kampung, mendamaikan yang berseteru juga bisa lebih cepat berbicara dengan AmoNimonRian.

Namun entahlah. Profesi ini terbilang kudus seperti para pastor yang selalu dipanggil tuan setelah ditabiskan oleh uskup yang lebih lagi dipanggil yang mulia.

Mereka bilang pastor itu berkekuatan berlipat-lipat, bisa menyembuhkan yang sakit, tapi di hati mereka ada jaringan kabel yang koslet lewat lidah, mereka bilang katupan tangan pastor saat perayaan ekaristi di depan gedung rumah merah itu simbol perdamaian. Tapi kemarin aku sedang asyik menonton dua orang pastor bertengkar bahkan bersumpah lewat batas­­; mau misa hitam.

Juga tadi pagi, barusan om kandungku bilang jubah pastor itu pakaian yang ditenun oleh tangan Tuhan sendiri, tapi kok pastor-pastor muda bahkan mereka yang berminat menjadi pastor malas mencucinya pakai rinso boom; pakai tangan sendiri.  Ah. Namun, anak muda sepertiku akan diolok-olok jika menjadi seorang molanmaren yang bijak seperti Lao Tzu atau Sidharta Gautama yang selalu berkata-kata seperti manusia ber-roh ganda, berlidah berwarna pelangi didominasi warna merah sirih-pinang dan di atasnya terdapat banyak huruf puitis, juga ajaran tentang bagaimana menghormati sesama yang berbeda jenis kelamin seperti berkelamin sama atau huruf-huruf itu tidak pernah menyusun kata kafir, sebab semua manusia datang dari pencipta langit-bumi dan semut merah sampai semut hitam.

‘Anak muda harus keluar dari ajaran tuanwo’ yang berbelit-belit itu. Tidak ada Tuhan selain yang terdapat di tabernakel. ‘Masa Tuhan tergantung di cabang-cabang pohon rita berbatang tua besar atau bersembunyi di balik batu lapa’ yang tersusun di samping kamar makan?” Pesan singkat dari seorang pastor muda lewat whatsApp-ku yang penuh dengan gosip, gambar-gambar porno, iklan-iklan kondom, obat kuat dan ganja buatan negara maju.

*****

Pada malam pertama setelah ayah menghentikan perjalanannya di padang dunia, aku seperti berada di dua sungai yang mengalir di sampingku dengan arus kejam bercampur teduh tenang seolah-olah hendak memaksaku tuk tenggelam ke salah satu sungai. Sebab, mendung awan kepergian ayah serta ritus-ritus adat yang diyakini sebagai sungai teduh yang melicinkan perjalanan ayah ke surga telah diganti seenaknya sebagai salah satu lokomotif iklan pariwisata di televisi dan inilah yang membuat aku gila.

Banyak penduduk di kampungku tidak percaya lagi pada ajaran TuanWo’ tentang ritus mengantar jenazah ke lubang tanah yang konon merupakan asal-usul manusia, termasuk para pastor lebih senang ber-selfie di bukit-bukit penuh patung rohani ketimbang mengunjungi orang-orang di kamar wc.

Tidak ada lagi bunyi tatong untuk mengiringi namang dan hamangtetindai ketika bulan terbit di atas kepala dan semua penduduk membentuk lingkaran untuk tertawaria bersama mengelilingi HunaHale di tengah kampung yang diyakini sebagai jantung ayahku dan ayah kami sambil mendengarkan sajak-sajak teduh dari molanmaren untuk memuji AmoNimonRian. Semua itu belum hilang, baru ada tanda-tanda hilang. Sebab, di kepalaku masih ada walau sedikit saja dan di sekolah-sekolah hanya terdapat bekas-bekas di dalam buku-buku ilmu pengetahuan.

*****

Sehabis misa minggu pagi ini, aku akan membakar lilin di kubur ayah memohonkan sebuah lorong setapak yang harus kulewati di dalam kepala. Kalau mau jadi pastor harus bertindak bijak seperti molanmaren sebab di dalam diri mereka terdapat taman Eden sebelum lahirnya Adam dan Hawa. Masih murni. Mereka tidak punya dompet kecuali tas berisi tembakau koli dan siring pinang.

Mereka rela berikan waktu untuk berlutut di hadapan pepohonan raksasa kaya oksigen yang kini banyak sudah punah ditebang untuk membangun kios milik pastor di lokasi wisata terindah lebih dari moleknya gereja sepi pengunjung (barangkali di gereja tidak ada patung wisata ya?).

Di atas gedung kios itu akan dibangun lagi kios yang baru. Satu keyakinan mereka, Tuhan ada dimana-mana termasuk di dalam tanah, di lubang batu, di batang pepohonan yang terluka ticabik-cabik parang manusia, di bukit-bukit penuh rumput subur dan hutan kehidupan yang sudah digundul untuk membangun patung Bunda Maria sehingga nyaman untuk selfie dan bisa dijadikan foto profil di Faceboook (mungkin Tuhan senang). Aku setuju dengan keyakinan tersakral itu, mungkin juga kau. Epen maka! Mereka mengunyah sirih-pinang seadanya, tidak menuntut ayam kampung atau ayam potong. Jika mau jadi pastor, harus minum obat penenang jiwa dan pelicin lidah, beli sikat gigi dan odol berwarna putih sebelum berkotbah. Jangan gosip, ingat!

****

Aku seperti perahu layar yang terombang-ambing kebingungan di tengah gelomang laut sawu. Antara mewarisi profesi ayah, sebagai molanmaren atau pastor. Sebab, bagaimanapun juga, pastor adalah profesi kakak kandung sulungku.

Ayah disemayamkan dalam bayangan kepalaku dan kakak tidur di mataku. Mama yang sedari tadi menghadap batu ceper sambil meniti jagung, menadahkan telinga menerima keluh kesaku ini.

Keterangan:

Molanmaren: sebutan untuk dukun adat yang bijaksana di Kedang Lembata, mereka bisa menyembuhkan yang sakit dan mendamaikan yang berseteru.

HunaHale: sebutan rumah persatuan semua penduduk kampung, semacam rumah adat.

rian odel
Previous ArticleProyek Air Minum Rp 8 Miliar di Matim Mubazir
Next Article Beri Aku Sepuluh Pemuda, Maka Akan Kuguncangkan Dunia

Related Posts

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026

Seorang Laki-Laki di Dalam Sajak JokPin

29 Januari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.