Irvan Kurniawan

Editorial, Vox NTT-Kabut-mendung disusul hujan rintik-rintik mulai mengguyur Kota Kupang, ibu kota Propinsi NTT sejak pukul 15.00 wita.

Meski alam kurang bersahabat, namun tak memundurkan langkah setiap umat untuk mempersiapkan diri mengikuti perayaan Natal, Senin (24/12/2018) malam dan Selasa (25/12/2018).

Lalulalang kendaraan masih ramai di setiap jalanan utama pada pukul itu. Ada yang bergegas pulang kantor dan ada yang datang dari jauh untuk merayakan Natal bersama keluarga di Kota Kupang.

Dari semua itu, hiruk pikuk yang paling terasa ialah belanja Natal. Ibu-ibu tampak ramai di pasar membeli sayur, daging dan buah-buahan. Tak sedikit pula yang membeli baju baru demi menyambut kedatangan Tuhan. Hasrat belanja ini begitu terasa ketika mengunjungi Mall Ramayana, Transmart dan Lippo Mall.

Di tiga tempat ini, setidaknya ada tiga barang utama yang paling diserbu pembeli yakni baju, celana dan sepatu. Ya, ketiganya pembungkus tubuh yang dipersiapkan demi menyambut kelahiran Tuhan.

Lonceng Natal mulai bergema di Kota Kupang sejak pukul 16.00 Wita. Persiapan ragawi menyambut kelahiran Yesus pun siap dimulai. Mulai dari mandi dengan sabun pilihan, catok rambut, melicinkan pakaian pakaian, sampai menyemprot baju dengan parfum kesukaan. Tak lupa baju, celana dan sepatu baru tadi siap dikenakan.

Suasana malam Natal di gereja pun bak fashion show spiritual. Pelangi fashion menghiasi pemandangan gereja. Lampu Natal kerlap-kerlip di sana-sini. Beragam wewangian parfum mulai menyembul dari setiap tubuh.

Wewangian parfum itu tak hanya menunjukan keragaman merek produksinya, tetapi juga kelas sosial si pemakai. Mulai dari kelas rendah, menengah sampai kelas atas/paling mahal. Wewangian itu mencuat nyaris mengalahkan harum dupa yang ditebarkan pastor ke arah umat.

Pemandangan yang tak kala menakjubkan, ketika upacara penerimaan komuni tiba. Saat itulah peragaan busana tadi ditampilkan. Lenggak-lenggok tubuh kaum hawa begitu apik bersama busana barunya.

Tak ayal, sepatu baru yang berhak tinggi mengeluarkan bunyi tok…tok…tok saat mengetuk permukaan lantai. Di sepanjang lorong yang telah disediakan untuk menyambut komuni, seperti arena pertandingan parfum dengan berbagai merek.

Kaum pria juga tak kalah dari kaum hawa, langkah mereka terlihat gagah dan percaya diri ketika memakai baju yang sedikit press lengan, celana jeans dan sepatu boot.

Gaya rambut kaum lelaki seturut mode. Bagi orang tua mungkin tidak terlalu tampak. Tetapi kebanyakan kawula muda yang trendy itu, menggunting rambut dengan gaya tipis di bagian samping dan catokan jabrik di bagian atasnya.

Ada juga yang bagian atas disisir miring namun tetap tipis di samping. Pada celahan kemiringan rambut mereka, terpampang ukiran yang berbentuk selokan. Di Kota Kupang gaya ini biasa disebut les. Hampir pasti Gatsby Pomet adalah pilihan favorit agar rambut bisa lurus dan diacak-acak sana sini.

Di luar gereja, lebih seru lagi. Begitu keluar dari pintu gereja usai ibadah, umat seperti disambut dentuman kembang api dan peledak mainan di sepanjang jalan. Bagi orang yang jantungan bisa langsung terjungkal dari motor karena shock.

Di jalanan juga anak-anak muda mulai berparade menunjukan racing knalpot yang bunyinya melangit. Sepanjang jalan menuju rumah seperti melewati medan tempur. Antara menyilih rombongan ugal-ugalan dan dentuman peledak buatan yang dimainkan sepanjang jalan. Di Kota Kupang, suasana ini dirasakan ketika berjalan dari Oepura, Kuanino, Halte sampai Merdeka.

Sampai di rumah suasanya makin tak gampang. Dentuman musik Natal bergaya DJ dengan dominan bass menderu seperti gemuruh halilintar, dari Utara, Selatan, Timur dan Barat. Tidur malam Natal sama sekali tak nyaman.

Natal bersama keluarga dimana momen untuk saling memafkan dan merefleksikan kelahiran Yesus sepertinya tak punya ruang lagi.

Kabar gembira kedatangan Tuhan dan isi kotbah pastor/pendeta sebagiannya nyaris lenyap di sepanjang jalan yang penuh dengan ‘ranjau darat’ tadi. Sampai di rumah, orang tua yang jantungnya nyaris copot terpaksa pulang dengan resah dan amarah.¬†Kegembiraan Natal pun sirna.

Natal tidak lagi menjadi ruang solidaritas kemanusiaan dimana dukaku menjadi dukamu dan kebahagiaanku menjadi kebahagiaanmu juga. Natal habis ditelan kesemarakan busana, kembang api, peledak buatan, kerlap-kerlip lampu dan dentuman musik pop yang diputar keras hingga pagi. Itulah Natal di Kota Kupang.

Itulah suasana Natal yang telah larut bersama gaya hidup. Natal identik dengan kesemarakan dan kemewahaan. Gereja menjadi arena narsisme diri dan keluarga.

Natal juga menjadi arena pertunjukan kelas sosial dimana kemewahaan menjadi imajinasi spiritual gaya baru. Bahkan orang-orang miskin yang masih dililit utang, terpaksa mengikuti trend biar tidak terlihat aneh di hadapan gaya hidup mewah umat yang lain.

Padahal Yesus, Sang Bayi Natal itu hanya lahir di kandang hina dengan pakaian ayah dan ibunya yang sederhana. Dengan bebauan kotoran hewan yang menyengat dan dikelilingi orang-orang miskin yang setiap harinya beternak domba. Selama Natal Saudaraku!

Penulis: Irvan Kurniawan