Yustina Ndajung, ibunda almarhum Andreas Jaleng (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Borong, Vox NTT- Raut wajah Yustina Ndajung tampak berubah seketika menjadi sedih, saat ditemui VoxNtt.com di kediamannya di kampung Leke, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT, Senin (07/01/2019).

Tina demikian ia disapa, adalah ibu kandung almarhum Andreas Jaleng yang meninggal dunia pada tahun 2009 silam.

Kematian Andreas begitu tragis dan penuh misteri. Ia pergi meninggalkan keluarga, istri dan kedua buah hatinya.

Mengenang peristiwa itu, Yustina mengaku, duka masa kelam untuk keluarga besar.

Ande demikian sang almarhum disapa merupakan korban yang meninggal akibat terbawa banjir kali Waewaru yang berlokasi di Desa Bamo, Kecamatan Kota Komba pada Maret 2009 silam.

Nganing eti wulan warat agu uzan, zao keget tombo lata ghia ba le wa (waktu itu musim angin dan hujan, saya kaget ketika orang cerita kalau ia terbawa banjir) ,” kisah Tina mencoba mengenang kematian putranya.

Wajah Tina pun kian murung. Ibu dari lima anak ini seolah tak kuasa mengenang kisah pahit anaknya itu.

Menurut Tina ketika mendengar kematian putranya kala itu, ia sedang berada di rumah. Ia mengaku kaget, karena hampir seluruh warga kampung mendatangi rumahnya untuk memberitakan kabar itu.

Dengan peralatan sederhana warga pun mencoba mencari jasad korban.

Namun apalah daya, pencarian panjang selama dua minggu, hanya menemukan beberapa pakaian milik almarhum.

Nganing eti, deko ne tas we.e ata tei ne kami a ( waktu itu, celana dan tas miliknya yang kami temukan),” kenang Tina.

Kubur yang hanya berisikan celana dan tas milik almarhum Andreas Jaleng (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Hingga kini untuk mengenang jasad almarhum, keluarga hanya mampu melihat kubur yang hanya berisikan celana dan tas milik almarhum. Kubur itu berada di belakang rumah Tina.

Anak yang Baik

Selama hidup, almarhum Ande dikenal sebagai sosok yang baik.

Bo ghia selama more ma dia tu.u aw mbae danga zaka do aw (kalau dia selama hidup sangat baik tidak pernah omong banyak,” aku Tina.

Tak hanya Tina, Lusia Rinu saudari kandung almarhum pun menceritakan sang kakak semasa hidupnya.

Selama more kae zao eti mbae danga daat gu ata (Selama hidup kakak saya tidak pernah berbuat jahat dengan orang lain),” aku Sia bernada pelan.

Mengenang sang darah daging, hampir setiap malam Tina selalu berdoa dan berharap agar jasad almarhum dapat ditemukan.

Biar ko toko kaut ga, yang penting nge ngguat le zao (biar tinggal tulang yang terpenting saya dapat melihatnya),” tutupnya.

 

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba