Lasarus Jehamat

Oleh: Lasarus Jehamat

Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa ini memperingati Hari Lahirnya Pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila tentu dibuat bukan karena asal-asalan. Perayaan kelahiran Pancasila didasarkan pada pertimbangan penting dan urgen.

Penting karena sila Pancasila diharapkan dapat menjadi landasan berbangsa dan bernegara. Urgen karena dalam praktik berbangsa dan bernegara saat ini, nilai utama Pancasila menang di level wacana dan kalah di tingkat praktik.

Sebagai sebuah nilai yang melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai Pancasila memang harus diperiksa dan laik ditemukan. Bahkan, melihat praktik berbangsa dan bernegara kita akhir-akhir ini, Pancasila harus dilahirkan kembali.

Realitas keterpecahan sosial dan fragmentasi politik khas menghiasi perjalanan bangsa Indonesia hari ini. Saat ini, nilai-nilai Pancasila seakan mati suri. Pancasila seakan mati dan digantikan oleh beragam ideologi lain di masyarakat.

Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan hampir-hampir ambruk oleh kuatnya dominasi politik. Seperti telah menjadi rahasia umum, politik elektoral sungguh menjadikan bangsa ini kehilangan pegangan. Fakta fragmentasi politik elektoral 2019 khas membuktikan itu.

Semua mereka yang ingin berkuasa gemar menjadikan rakyatnya sebagai tameng politik. Akibatnya, rakyat terbelah menjadi dua kelompok. Keterbelahan itu ternyata harus dibayar mahal. Nyawa harus melayang.

Keteduhan Sukun Ende

Ide Pancasila tidak lepas dari keberadaan sukun di bibir pantai di Ende-Flores. Konon diceritakan, Soekarno merenungi dan menemukan Pancasila di bawah keteduhan pohon sukun.

Permenungan asketis Soekarno menghasilkan gagasan besar Pancasila sampai hari ini. Pancasila lahir dalam sepi dan diam. Sepi yang hidup dan diam yang bergerak.

Yang pernah mengunjungi Ende akan segera tahu bahwa dari sudut kecil republik, sebuah dasar negara telah ditemukan di sana.

Di bawah pohon sukun, Soekarno memikirkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu, berkerakyatan, dan berkeadilan. Itulah syarat agar Indonesia sebagai bangsa dan sebagai negara tetap hidup.

Mengamati pohon sukun yang menjadi tempat pertapaan Soekarno dalam merenungi Pancasila, pohon itu memang terdiri dari lima cabang dahan. Oleh banyak kalangan, keberadaan lima dahan itu sering dihubungkan dengan lima sila Pancasila.

Konon menurut ceritera, ketika mengamati lima dahan sukun, Soekarno sampai pada kesimpulan bahwa Indonesia memang beda.

Sukun mengajarkan realitas sosial dan kondisi budaya bangsa. Bahwa Indonesia terdiri dari banyak dimensi; sosial, budaya, dan politik.

Pesan utama pohon sukun ialah bahwa manusia Indonesia wajib memiliki imaji pluralitas Indonesia. Pohon sukun menjadi saksi sejarah akan landasan berbangsa dan bernegara. Soekarno ingin mengingatkan semua pihak bahwa memori kolektif kita harus menempatkan Pancasila sebagai dasar.

Patung Bung Karno di Taman Permenungan Bung Karno Ende, Flores, NTT (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Karena itu, semua narasi primordial tidak bisa dipakai sebagai bahan mentah kehidupan bangsa. Sebab, kita memang majemuk. Jika narasi primordial dipakai untuk tujuan individu dan pribadi maka realitas keterpecahan akan segera muncul (Peporte, 2011).

Konteks Kekinian Pancasila

Seperti yang telah dijelaskan di atas, realitas kebangsaan Indonesia saat ini mewajibkan kita semua untuk kembali melahirkan Pancasila. Agak ekstrim memang. Banyak pihak bisa saja berkilah bahwa Pancasila telah ada dan karena itu tidak perlu sibuk dilahirkan kembali. Pancasila sudah hadir di tengah-tengah bangsa Indonesia. Silakan saja.

Masalahnya, jika kita sedikit jujur mengamati kondisi kekinian Indonesia, harus pula diakui bahwa kita sedang diuji oleh ketamakan kekuasaan. Kita tengah gamang mempraktikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Munculnya berbagai paham ekstrimisme atas nama agama seakan menafikan jantung sila pertama Pancasila. Terorisme yang masih menjadi musuh bersama sampai hari ini berkembang sporadis di beberapa tempat di Indonesia. Terorisme berbasis agama jelas menafikan nilai ketuhanan.

Di ruang yang lain, prinsip manusia adalah serigala bagi yang lain, masih sering dipraktikan di Indonesia dalam berbagai versi dan dibeberapa aspek kehidupan. Ketika tujuh nyawa melayang dalam unjuk rasa tanggal 21-22 Mei 2019 lalu, sisi kemanusiaan manusia harus diperiksa ulang di sana. Itu baru satu kasus. Masih ada kasus lain yang bisa dijadikan contoh penerapan nilai kemanusiaan di Indonesia.

Persatuan menjadi contoh praksis hilangnya nilai Pancasila di tanah ini. Semua yang membaca Indonesia akhir-akhir ini akan sepakat jika persatuan menjadi hal yang terus diusahakan oleh banyak pihak. Persatuan diupayakan karena persatuan bangsa nyaris redup.

Sebagai sebuah bangsa, persatuan Indonesia sungguh terancam. Sila ketiga sedang berada dalam bahaya besar. Politik harus disebutkan di sana. Sebab, dalam banyak kasus, aspek dan elemen politik merupakan penyumbang paling besar keterpecahan bangsa saat ini. Itu harus diakui.

Ada semangat untuk kembali menggagas dan menggalang persatuan dalam diri elite bangsa dan negara ini. Hanya, sampai saat ini, usaha bersama untuk mendiskusikan beragam soal itu seperti berhadapan dengan tembok keegoan diri dan kelompok. Musyawarah seperti kehilangan tempat di Indonesia.

Di aspek keadilan, bangsa ini tengah mencari praktik keadilan itu. Beberapa bagian bisa saja sedang dan tengah dilakukan oleh pengambil kebijakan. Meski demikian, masih banyak hal lain yang tetap menjadi pekerjaan rumah keadilan.

Harus Dilahirkan Kembali

Realitas kebangsaan Indonesia menuntut semua pihak untuk kembali melahirkan Pancasila. Pernyataan ini hendak mengatakan bahwa sejatinya Pancasila hanya berada dalam bayangan.

Pancasila telah mati oleh generasi bangsa ini, saat ini, dan di sini. Karena itu, diperlukan upaya bersama untuk kembali melahirkan Pancasila dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Melahirkan Pancasila tentu bisa dilakukan dengan banyak cara, formal sampai ke nonformal. Semua bisa. Hanya, yang urgen dibutuhkan saat ini ialah kelahiran Pancasila dalam praktik hidup masyarakat Indonesia setiap hari.

Itu berarti, Pancasila harus menjadi gaya hidup manusia Indonesia. Meminjam Bourdieu, Pancasila harus menjadi basis tindakan generatif setiap elemen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di sana, nilai-nilai Pancasila mesti menjadi habitus semua orang untuk dipraktikan secara sosial. Semua pihak mesti membangun rasa kebanggaan akan Pancasila sebagai kekuatan utama bangsa ini.

Di titik yang lain, Pancasila harus menjadi arena bersama anak bangsa dalam menggali berbagai macam keutamaan bangsa Indonesia. Selamat Hari Lahir Pancasila.

alterntif text