Kondisi jalan di Kampung Tonggong Lawa, Dusun Tontol, Desa Semang, Kecamatan Welak yang rusak parah (Foto: Sello Jome/ Vox NTT)
alterntif text

Labuan Bajo, Vox NTT- Tidak dapat dipungkiri, keindahan Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), NTT tidak dapat diucapkan melalui kata-kata.

Keindahan alam yang begitu luar biasa membius seketika, siapapun yang berkunjung ke sana.

Karena keindahan alamnya, oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Labuan Bajo ditetapkan sebagai salah satu dari empat destinasi wisata super prioritas.

Untuk menangkap peluang ini, baik pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat mulai bekerja ekstra untuk membenah total Labuan Bajo.

Semua proyek sudah mulai dikerjakan, baik dari jalan, pelabuhan, dan hotel.

Labuan Bajo merupakan ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Manggarai Barat memiliki 12 Kecamatan. Labuan Bajo termasuk wilayah Kecamatan Komodo.

Pembangunan di Labuan Bajo ternyata berbanding terbalik dengan kecamatan-kecamatan lainnya.

Sebut saja, kecamatan Macang Pacar, Pacar, Kuwus, Kuwus Barat, Boleng, Lembor, Lembor Selatan, Ndoso, Welak, Sano Nggoang, Mbeliling, dan Komodo sebagiannya, untuk infrastrukturnya, pembangunannya masih jauh dari harapan.

Di Kampung Tonggong Lawa, Dusun Tontol, Desa Semang, Kecamatan Welak misalnya, jalan rusak parah tak pernah diperhatikan oleh pemerintah.

Selain jalan, listrik dan air minum pun menjadi salah kendala besar di kampung itu.

Marten Mahen, salah satu warga Kampung Tonggong Lawa saat ditemui VoxNtt.com, Senin (15/07/2019), mengaku sudah lama merindukan adanya listrik, ketersedian air minum, dan jalan yang beraspal.

“Mungkin kerinduan itu hanya dalam mimpi saja,” ungkap Marten.

Marten menjelaskan, Kabupaten Manggarai Barat yang terlihat maju hanya di Labuan Bajo.

“Coba kalau pemerintah jalan di sini. Aduh pasti mereka tidak mau,” sinis Marten.

Selain itu, masih di Kecamatan Welak tepatnya di Ndueng-Datak, Desa Golo Ronggot. Masyarakat menimbah air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

Sungai yang bernama Racang Dali jaraknya kurang lebih 3 Kilometer dari Kampung Ndueng. Sungai tersebut menjadi satu-satunya sumber air yang ada di kampung itu.

Pantauan VoxNtt.com, Selasa (16/07/2019), air sungai Racang Dali terlihat cukup kotor dan dipenuhi lumut.

Dian Imun, salah satu peserta didik SMPN 1 Welak mengatakan, tiap harinya dia menempuh jarak kurang lebih 3 Kilometer dari Kampung Ndueng untuk menimbah air.

“Kalau sore, kami jalan dari kampung ke sini untuk timbah air, cuci dan mandi. Itu kami jalan setiap hari,” ungkap Dian kepada VoxNtt.com saat menimba air di sungai Racang Dali.

Sama halnya dengan Elsi Amu, salah satu peserta didik SMPN 1 Welak mengatakan, tiap pagi jika ingin ke sekolah, kadang-kadang dia bersama temannya yang lain harus ke sungai untuk mandi. Mereka pergi pagi-pagi.

“Kalau mau ke sekolah kadang-kadang kami datang mandi di sini. Pagi-pagi kami bangun. Kalau terlambat bangun kami hanya cuci muka saja ke sekolah,” aku Elsi.

Warga Ndueng sedang menimbah air di Sungai Racang Dali (Foto: Sello Jome/ Vox NTT)

Elsi mengaku air yang mereka timbah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, terutama untuk minum.

Sementara itu, Ari Bero Guru SMKN 1 Welak kepada VoxNtt.com mengatakan, kekurangan air bukan hanya di Kampung Ndueng.

“Pokoknya umumnya di Datak ini, kekurangan air,” ungkap Ari.

Menurutnya, di daerah itu ada sumber air lain. Namun karena debitnya kecil, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan warga.

“Karena itu semua warga menimbah air di sungai Racang Dali,” katanya.

Baca Juga: Di Ndueng-Datak, Warga Timbah Air Sungai untuk Kebutuhan Sehari-hari

Ari menjelaskan, banyak warga yang menimbah air menggunakan motor karena jarak sungai yang lumayan jauh.

“Ada juga warga yang menjual air menggunakan viber yang dimuat menggunakan mobil pick up,” tambah Ari.

Ari berharap agar pemerintah setempat dapat segera memaksimalkan sumber air yang lain untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di Datak.

Di Desa Siru, Kecamatan Lembor pun demikian. Jalan di Desa Siru rusak parah. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat terkesan tutup mata.

Sejak tahun 2012, jalan yang menghubungkan tiga desa di Lembor itu yaitu Desa Siru, Desa Wae Wako, dan Desa Poco Dedeng luput dari Perhatian Pemkab Mabar.

Kondisi jalan di Desa Siru, Kecamatan Lembor yang rusak (Foto: Sello Jome/ Vox NTT)

Padahal jika dilihat, jalan tersebut hanya berjarak beberapa sentimeter dengan Jalan Trans Flores di Lembor.

Saat itu, Kepala Desa Siru Sumardi mengakui bahwa jalan di desanya kurang lebih sudah 6 tahun tidak pernah diperbaiki.

“Kami sudah berulang kali mengajukannya melalui Musrembangcam, tapi sampai saat ini belum juga terealisasi. Sudah hampir 6 tahun jalan ini begini,” ungkap Sumardi  saat ditemui VoxNtt.com di ruangan kerjanya Senin (17/6/2019)

Sumardi mengatakan, sebelumnya pada bulan Februari lalu, masyarakat Desa Siru bergotong royong memperbaiki jalan tersebut.

Kondisi jalan di Desa Siru, Kecamatan Lembor yang rusak (Foto: Sello Jome/ Vox NTT)

“Bulan Februari lalu kami bersama masyarakat desa memperbaiki jalan ini. Waktu itu musim hujan banyak jalan yang berlubang, takutnya ada masyarakat yang jatuh saat mengendarai motor akhirnya kami perbaiki,” jelas Sumardi.

Kendati demikian kata Sumardi, pengerjaan jalan oleh desanya hanya menutupi beberapa lubang saja.

Baca Juga: Jalan di Siru Rusak Parah, Pemkab Mabar Terkesan Tutup Mata

“Kami hanya tutup beberapa lubang yang besar, selebihnya tidak,” tegas Sumardi.

Ia berharap agar pemerintah segera memperhatikan jalan di desanya itu. Agar aktivitas masyarakat tidak terganggu dan untuk menghindari kecelakaan.

“Paling tidak harus diperbaiki. Agar aktivitas masyarakat tidak terganggu takutnya kecelakaan,” tutup Sumardi.

Penulis: Sello Jome
Editor: Ardy Abba