Pastor Paroki Benteng Jawa, Romo Festo Manuel saat memberkati peletakan batu pertama pembangunan rumah Mama Anas Undik (Foto: Pepy Kurniawan/ Vox NTT)
alterntif text

Ruteng, Vox NTT- Air mata Mama Anas Undik turun perlahan hingga membasahi kedua pipinya. Kedua bola matanya menatap tajam ke arah seorang tua adat.

Saat itu, Bernabas Rabin ditunjuk sebagai juru bicara prosesi adat Manggarai peletakan batu pertama pembangunan rumah Mama Anas Undik, Kamis (08/08/2019).

Barnabas terus mengucapkan ungkapan Manggarai dalam prosesi adat itu yang intinya adalah sebuah doa kepada sang Khalik. Sementara air mata Mama Anas Undik terus turun, namun tangisannya tak pecah.

“Senang keta nai daku woko penong keta ase ka’e ata mai one leso hook. Toe ma nganceng balas laku sanggen taung bantu de ase kae selama ho’o. Aku kali ngaji agu Morin kudut teing koe sehat agu do koe rezeki latang ase ka’e ata bantu aku. Aku yakin Morin ata balas sanggen di’a data ata bantu aku. (Saya senang karena banyak yang datang hari ini. Saya tidak bisa membalas semua bantuan kepada saya selama ini. Saya hanya berdoa kepada Tuhan agar diberikan kesehatan dan rezeki bagi orang yang membantu saya. Saya yakin Tuhan yang membalas semua kebaikan orang untuk mambantu saya),” ungkap Mama Anas di sela-sela acara itu kepada VoxNtt.com.

Mama Anas Undik mengaku, ia menangis karena terharu setelah melihat dan merasakan dukungan semua pihak untuk membangun rumahnya.

Pemilik nama lengkap Anastasia Undik itu adalah seorang janda asal Kampung Lompong, Desa Golo Lembur, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

alterntif text

Sejak ditinggal suaminya pada tahun 2010 lalu, Mama Anas dan kelima buah hatinya terus meratap dalam keterbatasan ekonomi. Ia terus berusaha bangkit bertahan hidup, walau tak henti-hentinya digempur cerita miris kemiskinan.

Kemiskinan masih menjadi teman setia, seolah tak rela pergi dari kehidupan Mama Anas. Ia memang tak putus asa. Kamus yang menjadi pegangan hidup Mama Anas hanya satu yakni “berjuang dan bertahan hidup demi kelima buah hatinya”.

Penderitaan bukan saja menjadi sejarah kelam, tetapi terus merongrong kehidupannya hingga kini. Tak jarang pikirannya berada pada balutan “cemburu” dengan keluarga di tempat lain yang hidup dengan serba ada.

Dari lima buah hatinya, dua di antaranya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Sementara tiga lainnya sudah putus SD lantaran ketiadaan biaya.

Mirisnya, tak hanya soal kekurangan ekonomi kisah pahit dalam kehidupan Mama Anas. Kondisi rumah wanita berumur 39 tahun itu pun hingga kini memprihatinkan.

Ukurannya sekitar 4×5 meter. Dinding dan atapnya terbuat dari pelupuh bambu. Lantainya tanah. Keluarganya tampak berdesakan saat tidur malam.

Tempat tidur mereka juga dibuat Mama Anas dari bambu dalam bentuk tenda. Tak ada kamar khusus untuk keluarga dan tamu, selayaknya model rumah dari kebanyakan orang.

Tak ada kasur di tenda itu. Alas tidur mereka hanya berupa tikar yang dijahit dari sak semen.

Tak ada sekat dalam rumah yang serba dirancang dari bambu itu. Yang ada sekat hanya dapur, tempat Mama Anas memasak untuk anak-anaknya. Itu pun tak berdinding, bagai pondok di tengah sawah.

Di belakang rumahnya, ada jurang yang cukup curam. Ada beragam pohon tumbuh dengan apit di jurang itu.

Kini impiannya sudah mulai terwujud dengan ditandai dengan acara pelatakan batu pertama pembangunan rumah layak huni itu. Tangisan kebahagiaannya pun turun dari kedua bola matanya.

Prosesi peletakan batu pertama diawali dengan acara adat Manggarai dan dilanjutkan dengan pemberkatan oleh Pastor Paroki Benteng Jawa, Festo Manuel.

Tak sedikitpun modal yang ia miliki untuk membangun rumah. Mama Anas dan anaknya hanya memiliki tenaga.

Segala kebutuhan pembangunan itu datang dari orang yang memiliki rasa kemanusiaan dan peduli.  Selain itu dibantu dengan Dana Desa Golo Lembur.

Seakan tak percaya,  tapi itulah jalan Tuhan. Penderitaan yang dialami Mama Anas selama ini sepertinya sudah mulai terobati.

Mimpi mereka untuk tinggal di rumah layak huni kini menjadi kenyataan kendati rumahnya baru mulai dibangun.

Terima Kasih

Penderitaan yang dialami oleh Mama Anas Undik telah mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Perhatian itu bermula ketika Bripka Arsilinus Lentar mulai meminta bantuan lewat akun facebook-nya.

Bhabinkamtibmas di Kecamatan Lamba Leda itu mulai menggalang bantuan bekerja sama dengan Pastor Paroki Benteng Jawa, Pemerintah Desa Golo Lembur, crew media online VoxNtt.com, OMK Stasi Pusat Paroki Benteng Jawa dan sejumlah pihak lainnya.

Sebagai koordinator, Polisi Arsy pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dari media Vox NTT,  Kepala Desa Golo Lembur,  Pastor Paroki dan semua donatur yang telah membantu dengan caranya masing-masing sehingga pembangunan rumah Ibu Anas Undik ini bisa dimulai,” ungkapnya usai mengikuti acara peletakan batu pertama pembangunan rumah.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh Pastor Festo Manuel. Ia mengaku, bantuan lain untuk merehab rumah Mama Anas Undik datang dari seksi Caritas Keuskupan Ruteng berupa seng sebanyak 50 lembar.

“Bantuan juga ada dari keuskupan, setelah mereka membaca berita di Vox NTT, lalu pengurus di sana menelepon saya untuk konfirmasi kebenaran dalam isi berita.  Saya pun mengatakan bahwa itu benar,  sehingga mereka langsung tanyakan kepada saya apa saja yang masih dibutuhkan,”  ungkapnya.

Selain dari seksi Caritas Keuskupan Ruteng, Pastor Festo juga berjanji akan menggalangkan bantuan dari rumah ke rumah lewat aksi OMK dan anak-anak sekolah di Paroki Benteng Jawa.

Bantuan Desa

Di tempat yang sama, Kepala Desa Golo Lembur Robertus Sumardi Imbi mengaku, pembangunan rumah layak huni untuk Mama Anas Undik mendapat bantuan dari Dana Desa tahun anggaran 2019.

Namun, kata Robertus, bantuan dari pemerintah desa hanya bersifat stimulan. Anggaran yang hanya berkisar Rp 10 juta ditambah potong pajak ini, menurut dia tidak bisa memenuhi kebutuhan pembangunan satu unit rumah secara utuh.

Sebab itu, sebut dia, masih membutuhkan bantuan dari pihak lain untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah Mama Anas Undik.

Crew VoxNtt.com sedang menyerahkan bantuan para donatur kepada koordinator penggalangan dana pembangunan rumah Mama Anas Undik (Foto: Pepy Kurniawan/ Vox NTT)

“Bahwa bantuan dari desa hanya bersifat stimulan,  harus ada swadaya dan modal dasar dari pemilik rumah.  Tapi kalau kita melihat kondisi ekonomi Ibu Anas ini,  maka kita harus sama-sama berusaha untuk membantu mereka dengan cara kita masing-masing agar pembangunan rumah ini bisa dilakukan,” kata Kades Robertus.

Masih Banyak yang Kurang

Sebagai koordinator umum penggalangan dana, Polisi Arsy mengaku hingga kini masih banyak kekurangan untuk membangun rumah Mama Anas Undik.

Kata dia, peletakan batu pertama itu bukan berarti kebutuhan pembangunan rumah sudah terpenuhi.

Sekalipun masih banyak kekurangan, namun Polisi Arsy yakin pembangunan itu bisa diselesaikan dengan harapan akan mendapatkan bantuan lagi dari para donatur.

“Tentu saya masih berharap kepada semua pihak terlebih khusus teman-teman media untuk tetap berusaha lakukan penggalangan dana ke depannya.  Karena sampai sekarang masih banyak kekurangan,” ujarnya.

Polisi Arsy juga berharap dengan dimulainya pembangunan ini akan semakin banyak lagi orang yang ingin membantu Mama Anas Undik.

Hal itu, kata dia, untuk memperlancar proses pembangunan dan bisa diselesaikan sesuai yang diharapakan.

Pose bersama anggota OMK Stasi Pusat Benteng Jawa saat acara peletakan batu pertama pembangunan rumah Mama Anas Undik (Foto: Pepy Kurniawan/ Vox NTT)

Terpantau, crew media online VoxNtt.com di sela-sela acara itu menyerahkan secara langsung bantuan dari para donatur sebesar Rp 6.650.000 beserta bukti transfer kepada Polisi Arsy sebagai koordinator umum. Dari total tersebut tiga juta di antaranya sudah habis terpakai sesuai arahan salah satu donatur.

Terpantau pula, OMK Stasi Pusat Benteng Jawa juga turut ambil bagian dari gerakan kemanusiaan ini.

Mereka datang dengan membawa bantuan sembako untuk keluarga Mama Anas Undik.

Bukan hanya itu, anggota OMK juga bahkan dengan semangat bergotong-royong bekerja membangun fondasi rumah Mama Anas Undik.

Bekerja di bawah teriknya matahari bukan menjadi penghambat bagi sekelompok pemuda ini untuk membantu Mama Anas Udik.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba

Baca Juga: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan