Presiden Indonesia ke-5, Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Ist)

Tak ada resep ajaib untuk menjaga persatuan dan kerukunan kecuali memperkuat rasa kasih sayang dan persaudaraan

Kupang, Vox NTT-Mantan presiden ke-5 RI, Susilo Bambang Yudhoyono menyebut saat ini rasa persaudaraan rakyat Indonesia melemah.

Sementara permusuhan antar lapisan masyarakat yang berbeda identitas menguat.

Kondisi ini menurut ketua umum Partai Demokrat ini sebagai lampu kuning kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karenanya, tak ada resep ajaib untuk menjaga persatuan dan kerukunan, kecuali secara sadar kita memperkuat 2 nilai fundamental dan kemudian menjalankannya dengan sungguh-sungguh.

Pertama adalah kasih sayang (love) di antara kita, dan bukan kebencian (hatred).

Kedua adalah rasa persaudaraan (brotherhood) yang kuat di antara kita, sesama bangsa Indonesia, dan bukan membangun jarak dan permusuhan (hostility) diantara masyarakat yang berbeda identitas

“Terus terang, tahun-tahun terakhir ini kasih sayang dan rasa persaudaraan ini melemah, sementara kebencian, jarak dan permusuhan diantara komponen bangsa yang berbeda identias menguat. Ini lampu kuning. Ini sebuah fenomena dan arus buruk yang membahayakan masyarakat dan bangsa kita,” jelas SBY saat menyampaikan Pidato Kontemplasi di Puri Cikeas, Bogor, Senin (9/9/2019).

Karena itu, lanjut SBY, segenap komponen bangsa harus mengambil tanggung jawab untuk menghentikan dan
membalikkan fenomena dan arus yang salah ini, untuk selanjutnya kembali ke arah yang benar.

Selain itu, SBY juga menyinggung prinsip dasar ekonomi yang telah digagas para pendiri bangsa Indonesia.

Para founding fathers, menggariskan sebuah cita-cita besar untuk membangun masyarakat dan bangsa yang adil dan makmur.

“Kalau semua makmur, semua sejahtera, rasa keadilan akan datang dan bersemi di negeri ini. Realistiknya adalah yang miskin makin berkurang, dan ketimpangan sosial ekonomi tidak semakin menganga. Yang kaya mesti ingat yang miskin, yang kuat mesti ingat yang lemah. Sementara itu, di arena kehidupan politik, ada pula yang harus kita jaga secara bersama,” kata SBY.

Esensinya, demikian lanjut SBY, ke depan, politik kita harus makin menjadi politik yang baik bagi bangsa yang majemuk. Politik yang juga menganut sistem demokrasi multi partai, politik kita harus makin guyub, makin inklusif, dan makin teduh.

SBY berpandangan bahwa Demokrasi tak harus selalu diwarnai
dan diselesaikan dengan “one person one vote”, tapi juga ada semangat yang lain.

Kompromi dan konsensus yang adil dan membangun bukanlah jalan dan cara yang buruk.

Prinsip “the winner take all” yang ekstrim, seringkali tidak cocok dengan semangat kekeluargaan dan keterwakilan bagi masyarakat dan bangsa yang majemuk.

“Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti itulah, yang menurut pandangan dan pendapat saya mesti dibangun dan dimekarkan di negeri ini. Jika sungguh kita lakukan, insya Allah, kita akan benar-benar bisa menghadirkan masyarakat yang baik, ekonomi yang baik dan politik yang baik” paparnya.

Selanjutnya, SBY meminta masyarakat Indonesia mendukung pemerintahan hasil Pemilu 2019.

Dia berharap pidato kontemplasinya itu dapat melengkapi agenda pemerintahan selanjutnya dalam menjaga persatuan dan kerukunan.

“Tak ada perjalanan dan pembangunan bangsa yang bebas dari rintangan, termasuk dinamika dan pasang surutnya,” kata SBY.

“Saya mengajak saudara-saudara kami rakyat Indonesia untuk memberikan kesempatan dan dukungan kepada pemimpin dan pemerintahan yang baru agar sukses dalam mengemban amanah rakyat,” lanjutnya. (VoN

alterntif text