Papan nama SMAN 4 Satarmese
alterntif text

Ruteng,  Vox NTT – Pemecatan salah seorang guru bernama Maria Florentina Meo di SMAN 4 Satarmese, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai sepihak dan tidak adil.

Hal itu disampaikan Irenius Ragha, salah satu keluarga dari Florentina.

“Pada tanggal 3 Agustus 2019 lalu, saudari saya atas nama Maria Florentina Meo telah diperlakukan secara tidak adil oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Iren VoxNtt.com melalui pesan WhatsApp, Sabtu (14/09/2019).

Padahal, kata dia, anggota keluarganya itu sudah mengabdi kurang lebih dua tahun sejak berdirinya SMAN 4 Satarmese.

“Saudari saya sudah berjasah sejak berdirinya sekolah tersebut mengabdi sebagai guru honorer. Ia guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia,” ujar Iren.

Dikatakan, pada pertengahan Juli 2019 lalu, Florentina mengalami sakit berat. Ia kemudian untuk beristirahat di Kota Ruteng demi mendapatkan pengobatan dan perawatan secara intensif.

Menurut Iren, pihak lembaga pendidikan SMAN 4 Satarmese sudah mengetahui hal itu.

Namun sayangnya, saat Florentina sembuh dan kembali ke sekolah pada Agustus 2019 lalu, posisinya ternyata sudah diganti oleh guru baru oleh ketua komite SMAN 4 Satarmese.

“Sejak saudari saya sakit, sempat meluangkan waktu dalam keadaan fisik yang lemah untuk membimbing anak-anak didiknya untuk mengadakan kegiatan pramuka dan setelah itu saudari dari saya kembali ke Ruteng untuk melakukan proses pengobatan lanjutan,” katanya.

Iren pun mengaku cukup kecewa dengan keputusan pemecatan tersebut. Menurut dia, pemberhentian terhadap saudarinya sangat tidak bertanggung jawab.

Ia beralasan pemberhentian terhadap Florentina tidak melalui prosedur.

“Yang berhak mangambil sebuah keputusan adalah hanya kepala sekolah melalui perundingan dan bukan bawahan atapun yang lain,” tegasnya.

Iren mengaku sudah berkoordinasi dengan guru setempat, kepalah sekolah, dan ketua komite. Namun tidak menemukan jawaban yang pasti dan mengaku tidak mengetahui persoalan itu.

“Kita sebagai masyarakat tentu kecewa dengan tingkah laku seperti ini dan kalau ini dibiarkan bagaimana dengan nasib guru yang lain nanti,” ujarnya.

“Anehnya lagi. Ko bisa ada guru yang rangkap jabatan dari operator SMP dan SMA dan juga guru ngajar SMP dan SMA,” tambahnya lagi.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan Kepala SMAN 4 Satarmese belum berhasil dikonfirmasi terkait persoalan yang diangkat Iren.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba