Bripka Arsilinus Lentar
alterntif text

Ruteng, Vox NTT- Sosok Arsy Lentar tak asing lagi bagi warga Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia adalah anggota Polisi yang sejak Desember tahun 2005 lalu bertugas di Pospol Benteng Jawa, Polsek Dampek, Polres Manggarai.

Anggota Polres Manggarai berpangkat Bripka itu saat ini betugas sebagai Bhabimkamtibmas Desa Tampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda.

Awalnya, pemilik nama lengkap Arsilinus Lentar itu hanya sebagai anggota Polisi biasa, yang tugasnya memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberi perlindungan, pengayom dan pelayan kepada masyarakat.

Namun kini di balik perawakannya yang keras, tersimpan semangat besar untuk membantu warga miskin dan kaum disabilitas di Kecamatan Lamba Leda.

Semangat Arsy terus membara untuk membantu keluarga miskin lewat aksi penggalangan dana pasca melihat kondisi kehidupan Nenek Paulina Lawus.

Wanita berumur 70 tahun itu berasal dari Deru, Desa Compang Deru, Kecamatan Lamba Leda.

Polisi Arsy mengaku jatuh hati dengan kondisi Nenek Paulina yang hidup di tengah gempuran kemiskinan tanpa bantuan pemerintah. Itu terutama rumahnya yang berdindingkan pelupuh bambu dan berlantai tanah.

Nenek Paulina tinggal dengan anak perempuan semata wayangnya yang diduga mengalami cacat mental.

“Kalau tidak salah, saya mulai bekerja menggarap tugas dan memilih bergerak di bidang kemanusiaan,  menggalang dana untuk kaum tertindas dan disabilitas,  sejak bulan Februari tahun 2018,  itupun sekadar “iseng”, namun mendapat perhatian serius dari publik,” ujar dia kepada VoxNtt.com, Minggu (15/09/2019).

Sejak melihat kondisi Nenek Paulina, Arsy kemudian memikirkan secara serius bagaimana membantu untuk merehab rumah yang serba dirancang dari bambu itu.

Pria berumur 39 tahun itu kemudian memosting sejumlah potret miris rumah milik Nenek Paulina lewat akun facebook-nya.

Di caption foto yang diposting tersirat kalimat permohonan bantuan dana kepada netizen untuk merehab rumah Nenek Paulina.

Tak hanya lewat media sosial, pria kelahiran Hita Manggarai Barat, 7 Agustus 1981 itu juga dengan penuh semangat menggalang bantuan dana dari teman, kerabat dan keluarganya.

Dalam semangat kemanusiannya, ia menanamkan misi dalam hati agar Nenek Paulina bisa terlepas dari jeratan ritme hidup yang pelik.

Ia berpikir tak ada kata mustahil untuk membawa asa Nenek Paulina menjadi kenyataan. Itu terutama harapan menghabisi masa-masa tuanya di dalam rumah layak huni.

Alhasil, berkat bantuan semua pihak, rumah layak huni Nenek Paulina Lawus berhasil dibangun dalam tenggat waktu tiga bulan.

“Dan, diserahkan langsung Kapolres Manggarai melalui Kasat Binmas saat itu,” kata Arsy.

Kondisi rumah Paulina Lawus (70), sebelum dan sesudah dibangun (Foto: Facebook Arsy Lentar)

Tak hanya menggalang dana untuk merehab rumah Nenek Paulina. Arsy juga menjadi penggerak dan koordinator umum tim penggalangan dana untuk membangun rumah Anastasia Undik.

Janda  berumur 40 tahun itu berasal dari Kampung Lompong, Desa Golo Lembur, Kecamatan Lamba Leda.

Sejak ditinggal suaminya pada tahun 2010 lalu, Mama Anas dan kelima buah hatinya terus meratap dalam keterbatasan ekonomi.

Mirisnya, tak hanya soal kekurangan ekonomi kisah pahit dalam kehidupan Mama Anas. Kondisi rumah wanita kelahiran Lompong, 6 Januari 1980 itu pun memprihatinkan.

Ukurannya sekitar 4×5 meter. Dinding dan atapnya terbuat dari pelupuh bambu. Lantainya tanah. Keluarganya tampak berdesakan saat tidur malam.

Tempat tidur mereka juga dibuat Mama Anas dari bambu dalam bentuk tenda. Tak ada kamar khusus untuk keluarga dan tamu, selayaknya model rumah dari kebanyakan orang.

Tak ada kasur di tenda itu. Alas tidur mereka hanya berupa tikar yang dijahit dari sak semen.

Tak ada sekat dalam rumah yang serba dirancang dari bambu itu. Yang ada sekat hanya dapur, tempat Mama Anas memasak untuk anak-anaknya. Itu pun tak berdinding, bagai pondok di tengah sawah.

Realitas kemiskinan yang terus mendera kehidupan Mama Anas ternyata turut menggerakan hati Polisi Arsy.

Ia kemudian datang memotret rumah milik istri dari Stefanus Adol (Alm) itu dan memostingnya di media sosial facebook.

Suami dari Herlinawati Sarce itu selanjutnya menggalang dana untuk membantu merehab rumah Mama Anas, baik lewat media sosial, juga bertemu secara langsung dari rumah ke rumah.

Baca: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan

Saat menggalang bantuan untuk membangun rumah Mama Anas, ia bekerja sama dengan Pastor Paroki Benteng Jawa, Pemerintah Desa Golo Lembur, crew media online VoxNtt.com, OMK Stasi Pusat Paroki Benteng Jawa dan sejumlah pihak lainnya.

Baca: Anas Undik, The Widow Who Needs Help

Berkat bantuan Arsy, para donatur dan berbagai pihak lainnya, rumah layak huni tersebut berhasil dibangun.

Baca: Di Balik Tetesan Air Mata Mama Anas Undik

“Selain menggalang dana untuk giat bedah rumah,  saya juga pernah menyerahkan bantuan berupa sembako, uang dan kursi roda kepada kaum disabilitas (lumpuh) dengan sumber dana dari publik atau donatur,” ujar anak ke-5 dari 10 bersaudara pasangan Wihelmus Pude dan Agatha Jenia itu.

Kondisi rumah Anastasia Undik (40), sebelum dan sesudah dibangun (Foto: Facebook Arsy Lentar)

Motivasi

Polisi Arsy mengaku gerakan kemanusiannya itu tak ada motivasi lain, selain peduli terhadap nasib warga miskin yang terpinggirkan.

Ia ingin harapan warga miskin menjadi sebuah kenyataan.

Baca: Di Tengah Gempuran Dana ke Desa, Mengapa Anas Undik Tetap Miskin?

“Motivasi saya,  hanya betul-betul terpanggil untuk membantu mereka yang mungkin saja selama ini jauh dari perhatian pemerintah,” katanya.

Di samping tetap fokus menjalankan tugas pokok sebagai anggota Polri,  ia berjanji akan terus berjuang untuk tetap memperhatikan kaum yang terpinggirkan.

“Semampu saya dengan skema bantuan dari publik,” kata alumnus SMA Garuda Surabaya-Jawa Timur itu.

Dalam menyalurkan bantuan, kata dia, terdapat kriteria khusus, yakni warga yang betul-betul tidak berdaya.

“Contoh seperti Mama Paulina Lawus dan Ibu Anastasia Undik,” tandas Arsy.

Di balik aksinya itu, ia berharap selalu mendapat dukungan, baik dari orang terdekat maupun masyarakat luas.

Polisi Arsy juga berharap kepada pemerintah, mulai dari desa sampai pemerintah pusat agar memperhatikan betul data-data pokok masyarakatnya.

Itu terutama terkait dengan penetapan untuk memeroleh bantuan sosial jenis apa saja. Sebab itu, ia mengusulkan agar pemerintah mesti melakukan ‘blusukan’ ke tengah masyarakat.

“Blusukan adalah salah satu syarat mutlak buat pemerintah untuk dapat melihat kondisi riil yang dialami oleh masyarakatnya,” tutup dia.

Penulis: Ardy Abba