Ketua BEM PNK ditarik paksa saat aksi di depan kampus itu, Jumat (6/12) siang.
alterntif text

Kupang, Vox NTT- Wartawan Pos Kupang dan Victory News mendapat perlakuan tidak adil oleh pihak Kampus Politeknik Negeri Kupang (PNK).

Insiden itu terjadi saat kedua wartawan tersebut hendak meliput aksi yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PNK di depan Gedung Rektorat Kampus PNK, Jumat (06/12/2019).

Jurnalis Pos Kupang yang enggan namanya dimediakan mengaku insiden tersebut terjadi sekutar pukul 11.30 Wita saat hendak meliput aksi unjuk rasa.

Oknum yang diduga berbuat ulah kepada wartawan tersebut belakangan diketahui adalah seorang security di Kampus PNK.

“Satu orang massa unjuk rasa ditangkap dan dibawa masuk ke dalam gedung. Lalu saya mau ikut dan cek di dalam. Salah satu ibu langsung cegat saya minta surat tugas. Saya sudah jelaskan bahwa saya mau liput. Saya tunjukan kartu pers. Dia langsung tarik saya keluar dan larang untuk meliput sedangkan saya sudah tunjukan kartu pers,” ungkap dia.

Sedangkan wartawan Victory News mengaku melihat rekannya ditarik oleh security perempuan dan diseret keluar secara paksa.

“Saya lihat dia ditarik. Makanya saya langsung tunjukan surat tugas. Tetapi tetap dilarang,” katanya.

Untuk diketahui, aksi unjuk rasa mahasiswa di kampus negeri itu menyusul adanya dugaan pungutan liar jurusan teknik terkait pembayaran makan dan minum dosen.

Ketua BEM Politeknik Negeri Kupang Jefrianus V. Djawa kepada VoxNtt.com menjelaskan, unjuk rasa adalah puncak dari amarah mahasiswa atas tindakan kampus yang dinilai tidak mempertimbangkan kemanusiaan.

“Beberapa kali kami tuntut tapi tidak digubris. Ini kali kami mau ketemu direktur,” tegasnya.

Jefri juga membeberkan poin aksi yakni menuntut agar Ketua Jurusan Teknik SipilĀ  untuk mundur dari jabatannya.

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan dugaan pungli terkait biaya praktik yang ditanggung mahasiswa dan biaya Rp 2000 jika tidak masuk kelas kuliah hingga pada persoalan sarana dan prasarana kampus.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba