DPC, alumni dan peserta anggota baru PMKRI Cabang Kupang (Foto: Dok. PMKRI Kupang)
alterntif text

Kupang, Vox NTT – Ketua Anggota Dewan Pertimbangan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang Alyosius Min menegaskan, untuk menjadi militan, harus ada rasa solidaritas.

Hal ini disampaikan Alo saat memberikan sambutan pada acara pelantikan 125 anggota baru PMKRI Cabang Kupang di Aula Golkar NTT, Minggu (08/12/2019).

Alo meminta anggota baru angkatan itu, agar terus berproses dalam wadah PMKRI. Sebab masih banyak proses yang harus dilalui.

“Tunjukan bahwa kalian adalah kader – kader yang militan, sesuai dengan nama angkatan kalian,” ungkapnya.

Alo menegaskan, untuk menjadi militan, harus ada rasa solidaritas. Untuk itu dalam proses ke depan, anggota baru harus saling mengingatkan dan saling mendukung.

“Dalam konteks organisasi, PMKRI bersama teman-teman Cipayung lainnya telah membuktikan rasa solidaritasnya dalam menjaga NKRI dan memegang teguh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dan khususnya demi kemajuan Nusa Tenggara Timur ini,” tegas mantan Sekretaris Dinas Pendidkan Provinsi NTT itu.

Pada kesempatan itu juga, Alo juga mengapresiasi PMKRI Cabang Kupang.

Apresiasi terutama karena dalam prosesi pelantikan, anggota PMKRI tampil memukau dengan balutan pakaian adat dari masing – masing etnis.

“Seiring dengan perkembangan zaman yang kian pesat kita (PMKRI) masih saja menjunjung tinggi nilai – nilai budaya,” tuturnya

Alo juga mengucapkan profisiat kepada ke-125 orang anggota baru yang telah dilegitimasi.

Terpisah, Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang Adrianus Oswin Goleng dalam pidatonya mengatakan, dalam menghadapi perkembangan zaman yang kian cepat anggota baru harus menyiapkan diri agar kelak menjadi pemimpin bagi Gereja dan bangsa.

“Lurus bagi jalan Tuhan dalam hal ini setiap kader harus berpegang teguh pada prinsip dan nilai-nilai PMKRI yang menjadi landasan pijak dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” ungkap Goleng.

Sebab kata dia, banyak kader perhimpunan yang hilang nilainya jika berhadapan dengan godaan kekuasaan dan pragmatis.

Oswin sendiri menamai anggota baru itu dengan sebutan ‘Angkatan Militansi’.

“Nama militansi ini berdasarkan hasil refleksi, di mana zaman serba instan dan hedonisme ini kita sulit menemukan orang yang militansi, sehingga cepat menyerah dan mudah putus asa berhadapan dengan persoalan,” ujarnya.

“Berproses di perhimpunan ini bukan hanya sampai pada momentum ini saja, melainkan masih banyak momentum yang akan teman – teman anggota baru lalui. Olehnya, besar harapan saya kiranya teman – teman dapat mengikuti setiap proses yang ada dalam wadah perhimpunan ini agar kelak menjadi kader yang militan sesuai dengan nama angkatan kalian,” tambah dia.

Turibius Senai Raya Rino mewakili anggota baru dalam sambutannya mengaku bangga karena bisa bersama PMKRI Cabang Kupang.

“Kami sebagai anggota muda menyadari betul bahwa kami tidak salah memilih untuk bergabung bersama PMKRI cabang kupang. Selama berproses kurang lebih 1 bulan lebih, kami menyadari bahwa sesungguhnya kami sedang dipersiapkan menjadi kader intelek yang militan dan selalu berpegang teguh pada nilai – nilai perhimpunan tiga benang merah yakni Fraternitas, Kristianitas dan Intelektualitas,” pungkasnya.

“Sebuah kebanggaan bagi kami, sebab sejatinya Yesus Kristus sendiri menjadi teladan gerakan bagi kita untuk bertindak membela kebenaran yang rasional,” sambung dia.

Rino juga mengucapkan terima kasih kepada senior, alumni, jajaran DPC, steering committee dan organizing committee yang sudah dengan caranya sendiri telah membimbing selama kegiatan

“Besar harapan kami bahwa kemudian tetap menjadi mentor bagi kami dalam proses kaderisasi ke depanya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua panitia pelantikan Yoseph Agustinus Kai mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk legitimasi bagi anggota muda yang telah menempah diri sejak MPAB, lalu berlanjut ke MABIM.

“Kegiatan ini juga merupakan suatu rangkaian kaderisasi bagi anggota perhimpunan untuk selalu berjuang dalam mewujudkan visi dan misi perhimpunan,” pungkas yosep.

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba