Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Asap Dupa
Sastra

Puisi: Asap Dupa

By Redaksi10 Januari 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Puisi-puisi Epi Muda                                                                      

Asap Dupa

Seumpama kumpulan kata-kata

yang berterbangan menghiasi pundak kertas

melahirkan  tulisan yang penuh kahyal

asap dupa

aku mencari secuil kata

yang sedang beranak pinak dalam puisi rinduku

Ruang kuliah, 2020

 

Life

Semakin sepi hidup ini

semakin juga menyayat hati

kau pulangkan cintaku

saat aku bercumbuh denganmu melalui ruang imajinasiku

dan stressku adalah puisi tentangmu

sakitku adalah sajak yang gugur dalam derita

adakah cintamu masih cumbuh di musim semi?

Taman baca, 2020

 

Air Mata Ibu

Sebait rindu selalu menepi kala sunyi mendekat

Air mata ibu adalah tetesan kasih sayang

Aku tak tahu harus berbuat apa

karena cinta itu selalu ada air mata yang dituai

 

Saat ibu meneteskan air mata

aku selalu menampung air matanya

dan menyimpan dalam ingatanku

bahwa air mata ibulah yang membuat aku

merasa kasih seorang ibu

kasih itu tak pernah layu dalam mencintaiku

Aku tahu bahwa ibuku adalah wanita pemerhati

yang selalu mencium keningku saat aku terlelap

dalam imajinasiku

 

Kapela novisiat, 2020

 

Luna

Ketika malam menjemput

di ujung langit

kau menebar pesona

menghiasi malam yang muram

 

Pesonamu adalah cinta yang utuh

membias dan meresap dalam ubun-ubun

manusia pencinta dunia cinta

 

Barangkali memandangmu terus

membuat mata ini selalu menangis

karena terangmu sedang menitipkan secuil rindu

 

Taman sentral, 2020

 

Ruang tanya

Semenjak itu ia selalu jatuh

pada cinta yang lembayung

saat cinta sedang melingkar dalam raut wajahnya

selalu ada ruang tanya

yang masih memungkinkan ia untuk diam sejenak

dalam memori yang telah berlalu

tentang lembaran cinta yang lapuk

ketika tanya itu jatuh pada titik rindu

 

Ruang tanya itu adalah ia menemukan jawaban singkat

yang barangkali akan menjadi cerita cinta pertama

sebelum ia mati di atas pangkuan cinta itu sendiri

Kamar tidur, 2020

 

*Penulis Epi Muda, lahir di Larantuka,11 september 1997. Penulis sekarang sedang menjalani masa Novis di Novisiat St.Yosep Nenuk-Atambua. Penulis juga tergabung dalam anggota Sastra Kotak  Sampah (SKS) Nenuk

Epi Muda
Previous ArticleTidak Cermat, Bawaslu Belu Loloskan Panwascam yang Diduga Berafiliasi dengan Parpol
Next Article Puisi: Wanita Kopi

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.