Irvan Kurniawan
alterntif text

Editorial, Vox NTT-Dalam keterbatasan ruang gerak, waktu terus berlalu. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan badai Covid-19 ini akan pergi.

Segala upaya telah ditempuh seperti kebijakan social distancingpersonal distancing, karantina mandiri, pembatasan sosial berskala besar, bahkan ada negara yang menerapkan lockdown untuk memutuskan rantai penularan.

Berbagai upaya itu nyatanya belum mampu menahan lajunya virus yang meluncur ke segala penjuru. Nyawa terus melayang dan berbagai sumber daya sedikit demi sedikit mulai menipis.

Di tengah ketidakpastian, insan manusia menanti dalam harap. Dalam penantian yang tak pasti itu, keresahan datang menyapa. Salah satu yang mendasar ialah soal keberlangsungan hidup. Kebanyakan orang yang berekonomi rendah seperti hidup dalam mitos “Audi, vide, tace, si tu vis vivere“, dengar, lihat dan diamlah jika engkau ingin hidup.

Pekerjaan sebagai salah satu kunci keberlangsungan hidup manusia telah banyak ‘diistirahatkan’. Manusia digiring ke dalam rumah agar selamat dari bahaya wabah. Dalam kesempitan, ketakutan yang paling akut ialah bayangan kehabisan pangan. Hantu kelaparan seperti terus membuntuti rasa takut.

Bagi segelintir orang, situasi pandemi bisa teratasi tanpa harus terhimpit dalam frustrasi. Mereka punya segudang tabungan yang mampu bertahan bahkan sampai tujuh turunan. Stok makanan bagi mereka bukan perkara susah. Keberadaan segelintir orang ini terungkap dalam laporan Tim Nasional Pecepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang mencatat, hampir separuh aset Indonesia dimiliki 1 persen masyarakat saja.

Sebaliknya situasi pelik melanda kebanyakan orang yang tergolong ekonomi rendah, keberlangsungan hidup selama pandemi menjadi taruhan. Andai saja wabah ini belum lekas sirna dan cadangan sumber daya negara semakin melemah, maka ancaman kelaparan tentu menjadi nyata di depan mata.

Jika itu menyata, maka yang tersisa hanyalah hasrat kebinatangan manusia. Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya, bakal nyata terasa.

Ini memang bukan saat yang tepat untuk saling menyalahkan. Karena itu, dari pada mengutuk kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin harapan. Optimisme memang harus terus menyala selama masih ada emas yang terpendam dalam diri manusia. Emas itu adalah Cinta. There’s a place in your heart, and I know that it is LoveDemikian Michael Jackson mengawali lagunya “Heal The World”.

Rasa cinta yang tersembunyi di dalam diri manusia itulah yang perlu ditemukan agar melahirkan solidaritas sosial melawan Corona. Sebab dengan saling berbela rasa, kita tak hanya menyelamatkan mereka yang terpapar dan terdampak, tetapi juga menyelamatkan diri kita dari ancaman terburuk penyebaran Corona.

Namun di sisi lain, kita sadar bahwa mengutuk tuan Corona hanya akan membuang-buang energi. Ia tak punya akal dan perasaan. Ia hanya menyasar orang-orang yang tak punya daya tahan.

Kita harus bangkit. Musuh bersama yang bernama Virus Corona ini malah bisa dijadikan sarana untuk menggali kekuatan Cinta yang tersembunyi di dalam diri manusia.

Selama ini, emas yang terpendam itu dilumpuri ketamakan, individualisme, egoisme dan keserakahan yang terlanjur menjadi gaya hidup manusia. Akibatnya kesenjangan ekonomi merajalela, degradasi kemanusiaan menjadi cerita klasik peradaban, serta rusaknya alam sebagai ‘organ lain’ dari tubuh manusia.

Corona juga berhasil merekatkan solidaritas global yang selama ini dipisahkan oleh persaingan ekonomi dan ideologi. Bahkan Amerika sebagai salah satu negara adi daya harus meminta bala bantuan Cina, rivalnya dalam perang dagang.

Sementara di tanah air, dari berbagai kabar, kita dapat merasakan bahwa kehadiran Corona menyubur tumbuhnya rasa solidaritas antara sesama. Itu dibuktikan oleh berbagai individu, komunitas dan organisasi yang berinisiatif menggalang bantuan serta berbagi sembako kepada orang miskin. Tak sedikit pula yang rela berbagi dari berbagai kekurangannya.

BACA JUGA:

Solidaritas sosial memang menjadi pertahanan terakhir untuk melawan musuh bersama. Setidaknya kehadiran Corona telah mengembalikan manusia pada hakikatnya sebagai homo socius. Saling berbagi di tengah pandemi memiliki makna eksistensial bahwa kita masih ada ‘sebagai manusia’. Kita berbagi, maka kita ada! Kita berbagi, maka kita menang dalam pertempuran!

Aku ragu ada dan tiadaku. Namun cinta mengumumkan, Aku ada!” demikian kata Muhammad Iqbal, Penyair dan filsuf dari Persia 1877-1938.

Ya, selama masih ada cinta, kita masih punya alasan untuk berharap. Sebab di mana ada cinta, di situ akan ada kehidupan. Mari kita terus menyalakan api cinta solidaritas itu sebagai amunisi sosial agar menang dalam perang melawan wabah. Semoga dengan solidaritas yang sama kita juga menang dalam perang melawan kemiskinan, perdagangan orang, korupsi dan berbagai ketidakdilan yang terjadi di negeri ini.