Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Aku Remuk dalam Teguk Mabuk, Sepi dalam Sopi…
Sastra

Puisi: Aku Remuk dalam Teguk Mabuk, Sepi dalam Sopi…

By Redaksi27 Juni 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*) Puisi Gusti Seriang

Panggil saja aku jahanam. Biar puas lepas yang kau tak paham. Kelangsungan hidupku telah jauh dari kalam, hanyut dalam larut malam kelam.

Seseorang telah pergi. Waktu berhenti. Ruang menyempit dalam seloki. Aku remuk dalam teguk mabuk, sepi dalam sopi. Mabuk adalah pelampiasan dari sunyinya kesendirian. Sunyi berarti senyapnya suara batin.

Perjuangan kehidupan memperlihatkan kisah sysiphus, jatuh dan bangkit. Terus bergerak meski sakit. Ia merengkuh kebahagiaannya dengan mengejek segala kemurahan hati.

Aku telah menempatkan dirimu sebagai arah. Aku melangkah dengan pongah. Percaya bahwa kau tak menunjukan jalan yang salah. Aku jauh meninggi tanpa lelah. Tapi tiba-tiba kau berubah. Kau marah lalu beranjak menuju entah. Aku kalang-kabut limbung goyah hilang papah.

Dari sana sebuah kisah telah melahirkan pepatah : di dalam hati yang patah terdapat masa depan yang terpecah.

Bohemian

Malam ini

Angin ricik

Dingin risik

Gerimis rikuh

Bulan ringkih

 

Malam ini

Mereka tak lagi jadi piranti semesta

Melebur satu dalam aku

Berbaur dengan botol-botol sopi

 

Malam ini

Pukul dua belas tertuju lambat

Sekeliling lamat-lamat terlihat

Kembali satu gelas terteguk

Lantas kemudian tiba-tiba ada yang mengetuk

 

Sempoyongan aku membuka pintu

Aku terkejut-tergugu

Kamu masuk sembari menyelutuk

“ berengsek, kamu mabuk lagi keluyur lagi.

Kalau begini bisa rumah-tangga kita bentuk?”

 

Sekejap itu terterlihat pula mata sangsi ayahmu

Samar-samar terlihat senyum kecut bibir ibumu

Sebuah tanda dari mereka bahwa aku tak sanggup

 

“ mampus saja”,  lantas pintu lekas keras tertutup

Bayangan wajah dan segala tuntutanmu lepas lesap

 

Biar sendiri melenggang, menggelandang dalam malam lengang

Jangan kamu turut menumpang, perkawinan tak lebih dari nafsu ranjang

Sebuah sistem yang sudah usang, tertinggal nilai belis yang tak lekang

Apalagi kau tahu nasib hidupku lempang pukang

Dan kegelisahan memang tak bosan-bosan mengekang.

 

Pukul dua belas :

hari baru tertambat

bulan makin pucat

isi botol habis pepat

akalku tumpat.

***

*Tentang Penulis

Akrab dipanggil Gusti Ginta, bergelar Sarjana Hukum namun Sastra merangkul jiwanya dalam menelusuri seluk beluk, liku kehidupan.

Gusty Seriang
Previous ArticlePerjalanan Karir Stefanus Sio, dari Guru Yayasan Hingga Terpilih Rektor Unimor
Next Article Warga Gendang Leda Protes Foto pada Baliho Deno-Madur

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.