Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Ayahku Seorang Pelaut- Antologi Puisi Epi Muda
Sastra

Ayahku Seorang Pelaut- Antologi Puisi Epi Muda

By Redaksi17 Oktober 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ayahku seorang pelaut

Di langit-langit rindu
selalu ada desah yang menggulung
kesedihan yang berlipat
dalam samudera hidup yang rapuh
sekembali kau tak sulut
saat diterpa musim tak berurutan
kau menjadi seorang pelaut yang handal
sehandal dalam saku celana senja
dalam meramu hasil yang tak pernah kau tabur.

Unit Gabriel, 2020

Hati Dirundung Pilu

Semenjak aku memeluk luka dalam hatimu
kau selalu menyanjungi cintaku
terserah berlangkah ke mana

setelah jalan tersesat
aku menjadi catatan dengan tinta merah
kau canggung akan diriku
kau mulai curiga dalam sunyi.

Kau tak sadar,
bahwa aku pernah mendiami hatimu yang terluka itu.

Unit Gabriel, 2020

Malaikat Tanpa Sayap

“ kamu adalah aku yang hidup”

Sebelum itu malaikat sedang bermimpi
“ahk…aku mau menjadi malaikat tanpa sayap
sehingga aku bisa tidur dalam tangan Tuhan”

Musim berlalu dengan simutan
si imut itu sedang menari
menyambut berlalunya musim.

Kali ini ia memutuskan usia sisanya
dengan menjadi malaikat tanpa sayap dalam biara tua.

Bersama tuhan dalam biara
malaikat tanpa sayap itu
sedang berbicara dengan tuhan dalam sunyi
tentang surga yang menawan.

Unit Gabriel, 2020

Air Mata

Di atas pangkuan derita
segala kenangan terbungkus apik dalam tangisan
mengairi setiap suasana
membasuh setiap kata-kata
dengan kumpulan sajak yang menyakitkan.

Air mata adalah kubus antara kata, duka dan suasana
yang berkecimpung dalam kesedihan
karena kepergiannya yang sadis.

Unit Gabriel, 2020

 

Penulis ada mahasiswa STFK Ledalero Sekarang tinggal di Unit Gabriel. Penulis termasuk dalam anggota Sastra Kotak Sampah. Dia sering menulis dan karyanya pernah terbit di Pos Kupang, Warta Flobamora, dan Vox NTT.

Epi Muda
Previous ArticleBOPLBF Gelar Lokakarya Pengolahan Limbah di Ende
Next Article Ajukan Penyertaan Modal Tambahan Rp5 Miliar ke Bank NTT, DPRD Ende: Pemerintah Lemah

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.